Spread the love

Sudah dibaca 974 kali

Ahad siang 19 Agustus lalu aku menyempatkan diri menyambangi Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Tujuannya satu: menemui teman-teman Forum Lingkar Pena DKI Jakarta. Pastilah pertemuan rutin sudah selesai, karena aku datang lewat pukul 13.00. Ada beberapa hal yang hendak aku bicarakan dengan beberapa pengurus. Maka, usai menghadiri resepsi pernikahan teman di Simprug, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, aku langsung meluncur ke TIM usai mengantar teman ke kampus Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur. Aku merasa harus datang karena Ahad 12 Agustus tidak datang ke TIM.

 

Setiba di TIM aku memarkir motor di parkiran, tempat biasa teman-teman nongkrong sambil makan siang usai pertemuan—tukang jajan biasa mangkal di depan TIM dekat pintu gerbang masuk. Di sana beberapa teman FLP sudah muncul.

 

Kami bicara sejumlah hal. Cukup mengasyikkan bagiku. Tanpa keberadaanku acara berjalan lancar, batinku. Angin sepoi mengiringi pembicaraan serius tapi santai.

 

Aku ingin menemui teman-teman Pramuda. Mereka sedang berembug di trotoar depan Planetarium, merencanakan pembuatan teater. Saat aku menghampiri, mereka yang sedang berdiskusi sebentar melihatku dan beberapa berkomentar serempak, “Mas Bill kok kelihatan kurus?”

 

Aku tersenyum kecil. Kurus? Benarkah aku lebih kurus ketimbang dua minggu sebelumnya? Aku memerhatikan tubuhku lalu berkata, “Yang benar?” Mereka mengiyakan.

 

Besoknya aku menanyakan beberapa teman sejawat, apakah aku tampak kurus. Mereka mengiyakan. Wew, aku kurus. Dan aku baru menyadari memang aku lebih kurus, setidaknya sebelum kerja di tempat baru.

 

Aku memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan lama dan beralih ke pekerjaan baru. Sebenarnya jenis pekerjaannya sama saja; wartawan. Di tempat lama aku bekerja sebagai reporter majalah bulanan yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat. Sekitar 20 kilometer dari rumahku. Di tempat ini aku bekerja lebih enak ketimbang Pegawai Negeri Sipil, setidaknya selama enam bulan. Bagaimana tidak? Selama itu, majalah tidak terbit—karena masalah manajemen, bukan redaksi. Aku dan teman-teman tetap digaji. Kerja liputan di belakang meja—menelepon nara sumber dan browsing internet. Ruangan berpendingin, akses internet dan telepon tak terbatas, makan (vegetarian) gratis dua kali sehari (siang dan sore). Datang pun sesuka hati. Yang penting dalam seminggu mengisi absensi beberapa kali, tak perlu penuh. Lalu kenapa aku berhenti kerja dari situ?

 

Sangat masak aku mempertimbangkannya. Kalau aku masih terus bekerja di tempat itu, aku tidak akan berkembang. Potensiku tidak akan maju pesat. Aku masih muda, perlu kerja keras dan tidak boleh membiarkan diri dibuai kesenangan dan kemanjaan. Aku ‘orang lapangan’. Bekerja di belakang komputer seharian dan terus menerus akan membunuh kemampuan dan potensiku; mencari berita, mengorek keterangan nara sumber, mendapatkan ‘suasana’ untuk tulisan, dll. Kondisi seperti ini kunamakan ‘pembusukan’. Terlebih dalam sejarah hidupku yang jelas terarah semenjak duduk di bangku kuliah semester pertama, aku mengalami stagnasi dalam membaca, menulis, dan berdiskusi. Ya, aku menyalahkan buruknya kondisi tempat kerja dan diri yang tidak bisa menghadapinya. Aku harus segera keluar!

 

Dan kesempatan itu tiba. Aku diterima kerja di tempat baru. Karena aku resmi diterima bekerja mulai 22 Juli, di mana waktu deadline redaksi tiba, aku difungsikan mengoreksi (edit) sejumlah tulisan yang masuk, walau statusku reporter. Merasa puas dengan kerjaku, Pemimpin Redaksi mengangkatku menjadi redaktur.

 

Di majalah bulanan ini aku bekerja bersama sejumlah personel. Hanya ada Pemimpin Redaksi/General Manager, dua reporter, satu fotografer, dan satu penata letak (desainer). Bisa dibayangkan bagaimana ‘gilanya’ kami harus bekerja. Itu terlihat pada pengerjaan edisi pertama (aku belum terlibat) ketika hanya dua reporter, satu desainer, satu fotografer plus Pemred mengerjakan majalah 64 halaman dengan segudang nara sumber!

 

Awal Agustus aku resmi diangkat sebagai redaktur—meskipun ironisnya aku belum tahu berapa gajiku hingga kubuat tulisan ini. Tapi aku jalan saja. Walau tak terasa adil, aku menaruh kepercayaan pada pihak manajemen bahwa kerjaku akan dihargai secara seimbang. Dan aku mulai ‘menikmati’ bekerja di tempat baru.

 

Itu dimulai di minggu kedua Agustus, tepatnya 9 Agustus. Aku ditugaskan meliput Pelatihan Shalat Khusyu’ di Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara. Pagi-pagi sekali aku berangkat dari rumah, menembus kemacetan Cakung dan Kampung Tipar. Dari sana aku meluncur ke Kampung Sawah Lama, Ciputat. Sebuah tempat yang asing bagiku. Usai shalat zuhur aku membuka peta Jakarta, mencari itu tempat. Aku hanya diberi alamat dan tidak menemukannya di peta. Seorang teman yang tinggal di Ciputat kutanya, tidak tahu.

 

Aku nekad berangkat. Terik mentari kuentaskan. Menyusuri jalan ibu kota yang macet dan berdebu. Kunikmati saja. Termasuk saat nyasar dan berputar-putar mengenali alamat. Dua setengah jam kemudian aku tiba di tempat yang dituju: tempat yang kurang dikenal masyarakat sekitar sana!

 

Sabtu siang aku meliput konferensi pers yang digelar Hizbut Tahrir Indonesia di Hotel Atlet Century Park, Senayan. Besok paginya, Ahad 12 Agustus, aku menyambangi Stadion Senayan, meliput Konferensi Khilafah Internasional oleh HTI. Wew, baru kali itu aku berada di tengah sekitar seratus ribu orang dan mendengar takbir bertalu-talu.

 

Hari-hari berikutnya diisi dengan wawancara ke sejumlah nara sumber. Jumat 17 Agustus, hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, aku memanjakan diri di rumah. Tidak ke mana-mana. Besoknya 18 Agustus, bersama beberapa teman FLP DKI, berangkat ke resepsi pernikahan Dani Ardiansyah, Ketua Divisi Humas FLP DKI, di rumahnya Bogor. Jauh sekali perjalanan ditempuh, dan aku memulainya dengan mondar-mandir menunggu teman lain datang di Stasiun Pasar Minggu pukul 05.31—berangkat dari rumah pukul 05.00 diantar adik dengan motor—sejam kemudian (06.30) teman lain baru tiba di stasiun dari pukul 06.00 yang disepakati. Besoknya 19 Agustus aku ke resepsi pernikahan teman di Simprug. Dalam hati aku bergumam, “Kondangan melulu, kapan ya dikondangin?”

 

Bisa dibayangkan dalam dua minggu, hanya 17 Agustus aku benar-benar istirahat di rumah. Sabtu 25 Agustus kemarin saja aku menghadiri Lokakarya Dwi Bulanan di Rumah Cahaya, Depok—acara FLP Wilayah Jabedeci.

 

Kembali ke soal tubuhku yang kurus, aku jadi teringat saat duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan Telekomunikasi Sandhy Putra Jakarta. Rumahku di Duren Sawit, Jakarta Timur, dan itu sekolah di Slipi, Jakarta Barat. Berangkat subuh pulang lepas Isya. Selain belajar, semua hari kuisi dengan kegiatan ekstrakurikuler. Aku juga ikut klub bola voli pada Ahad, di rumah. Bisa dibayangkan kegiatan yang menyita banyak energi itu bisa membuat tubuhku kurus kering kalau tiada antisipasi.

 

Ya, aku mengantisipasinya dengan banyak makan. Dalam sehari aku bisa makan empat hingga lima kali saat itu. Prinsipku, biarpun energi terkuras, asal makan tepat waktu—maksudnya saat lapar–dan berlebih, tubuh tidak akan sakit. Dan itu cukup berhasil. Aku tidak kurus-kurus amat walau kulit agak menghitam karena sering terjilat sinar mentari.

 

Bagiku kurus-gemuk adalah dinamika tubuh. Terlebih bila kondisinya terjadi secara tak terencana. Maksudnya, kurus-gemuk ditentukan oleh kadar aktivitas, bukan asupan makanan.

 

Walau bekerja di tempat baru lebih berat, namun aku sangat mensyukurinya. Aku seperti kembali menemukan ‘dunia yang hilang’. Sebuah dunia penuh keringat, debu, panas, dingin, mobilitas tinggi, dan menyita pikiran. Apalagi di tempat ini sentuhan religinya begitu terasa. Ya, majalahku membahas spiritualisme (agama). Tentunya aku harus banyak belajar lagi soal agama. Dan aku sangat senang mewawancarai nara sumber yang sangat kompeten di bidangnya, apalagi mereka yang bergelar profesor doktor.

 

Sebenarnya aku tidak begitu peduli pada tubuh, apakah kurus atau gemuk. Yang kupedulikan adalah kesehatannya. Lebih jauh lagi, kesehatan jiwa dan hati. Asal aku bekerja dengan ikhlas dan selalu memuarakannya pada ridha ilahi, aku yakin tubuh ini akan baik-baik saja.

 

Ungkapan teman-teman mengenai tubuhku yang kurus kuartikan sebagai bentuk perhatian. Kurasa itu sudah cukup bagiku. Apakah itu tanda supaya aku harus makan empat hingga lima kali sehari lagi, aku mulai berpikir begitu.

 

 

Duren Sawit, 26 Agustus 2007.