Spread the love

Sudah dibaca 1231 kali

Andi Tenri Dala Fajar, atau biasa disapa dengan Dala, adalah sosok wanita yang tenang dan lembut. Senyum manis selalu menghiasi bibirnya setiap kali berbicara atau berpapasan dengannya. Tutur katanya sangat teratur, seolah ia ingin memilih dengan tepat setiap kata yang terlontar. Namun di balik semua itu, bila kita mengenalnya lebih dekat, ternyata ia adalah sosok yang cukup humoris

Dala, adalah anak ketiga dari empat bersaudara yang semuanya perempuan. Ayahnya adalah pensiunan Departemen Perdagangan, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa yang menurut Dala kepintarannya mengalahkan S2. Saat ayahnya masih aktif bekerja, Dala sekeluarga terbiasa hidup berpindah-pindah. Mengikuti ke mana ayahnya bertugas. Namun kini ia menetap di Jakarta dan telah bekerja di sebuah perusahaan konsultan hukum.

Mantan Ketua FLP DKI periode 2004-2006 ini, adalah wanita yang dianugerahi banyak kelebihan di bidang seni. Selain menulis, ia juga bisa menggambar, melukis, main biola, piano, dan membuat benda-benda prakarya. Walaupun menurut pengakuannya, tak ada satupun orang tuanya yang berdarah seni, yang bisa menurun padanya.

Buku-buku yang pernah dihasilkannya antara lain Ayah Bunda in Issue No18 / 7 2002, Awan Putih Melihat Warna-Warni, Graffiti Imaji (Yayasan Multimedia Sastra) :Mak Izah and Miskin, From Batavia With Love (Lingkar Pena Publishing House), Tetangga Misterius, Putri Surat Cinta (Lingkar Pena Publishing House), Calon Suami Ami, Jatuh Bangun Cintaku (Lingkar Pena Publishing House),  Renaud, Gara-Gara Jilbabku (Lingkar Pena Publishing House), Jilbab&Musik, Crescendo Violis Idol (DAR! Mizan), Muslimah Ngga Gitu Deh (Lingkar Pena Publishing House).

Untuk mengenal lebih jauh sosok Ketua Tim Kaderisai FLP DKI ini,  Redaksi  Buletin Pena (BP) menyajikan petikan wawancaranya sebagai berikut :

BP       : Sejak kapan  tertarik dengan dunia tulis-menulis?

Dala     : Dala mulai menulis sejak tahun 1999. Waktu itu iseng saja kirim ke sebuah majalah. Cerpen pertama langsung dimuat. Berikutnya lebih sering ditolak. Dulu Dala tidak punya cita-cita menjadi penulis, tapi setelah masuk FLP, ada dorongan sekaligus ‘keterpaksaan’  untuk  menjadi penulis. Sejak kecil hingga sekarang  suka membaca terutama novel terutama misteri, detektif, thriller, dan horror. Mungkin itu yang mendorong Dala mencoba menulis cerita misteri buatan sendiri.

BP       : Prestasi serta penghargaan apa saja yang pernah diraih dalam dunia tulis-menulis?

Dala     : Majalah Ayah Bunda (mendapat penghargaan finalis untuk lomba Cerita Balita 2002). Hehehe, prestasi kecil banget ya. Tapi Dala senang karena setelah tiga kali ikut lomba akhirnya mendapat pengharagaan. Mbak Helvy sendiri bilang menulis cerita untuk balita itu susah.

BP       : Kalau mulai  bergabung dengan FLP, kapan? Kenapa FLP?

Dala     : Dala mendaftar FLP akhir tahun 2001. Mulai aktif bulan Mei 2002. Ada tiga alasan Dala bergabung FLP,  pertama,  cari teman, kedua,  senang bergabung di komunitas, ketiga, cari teman yang satu hobi suka membaca. Jadi dulu tidak ada niat menjadi penulis. FLP memberi kontribusi besar sampai Dala akhirnya menjadi penulis. Di FLP Dala belajar menulis, bertukar informasi kepenulisan, mendapat inspirasi, dll. Memang di tempat lain juga bisa mendapat pengalaman yang sama,  tapi FLP seperti memberi ruh yang lain. Ada ukhuwah yang kuat dan visi misi FLP cocok dengan Dala.

BP       : Saat mba Dala jadi Ketua FLP DKI, waktu itu mencalonkan diri atau dicalonkan?

Dala     : “Kita sistemnya pilih suara dulu. Tiga orang yang mendapat suara terbanyak, dia harus presentasi waktu hari pemilihan. Kemudian yang lain bermusyawarah untuk memilih satu orang ketua dari tiga calon tersebut.”

BP       : Apa yang mba Dala presentasikan saat itu?

Dala     : Aku bilang pengen lebih mengembangkan kemampuan anggota FLP DKI.  Saat  itu Lamuna dkk bertanya, apa aku serius menjadi ketua, karena saat itu aku  banyak kegiatan. Sempat vakum 6 bulan gara-gara latihan musik. Akhirnya aku bilang kalau aku akan berbesar hati ninggalin orkestra. Aku harus memilih antara FLP atau musik. Dan pilihannya adalah FLP. Awalnya ragu-ragu, tapi akhirnya dengan senang hati.

BP       : Menurut mba Dala, apa yang membedakan FLP pada masa kepemimpinan mba Dala, dengan kepemimpinan sebelum dan sesudahnya?

Dala     : Zaman pak Saifulah, baru dirintis pertemuan rutin. Zaman mba Azi, diperkuat pengurus-pengurusnya. Zaman aku, kita konsen di pengkaderan di dalam. Lalu sekarang target Billy ke depan, kaderisasi keluar.”

BP       : Pengkaderan ke dalam maksudnya bagaimana mba?

Dala     : Konsentrasi meningkatkan kualitas anggota. Anggota kita mulai sering diminta mengisi acara di luar. Aku mau agar anggota menghasilkan banyak tulisan.Untuk mencapai tujuan ini dimulai dari pertemuan rutin,  mengikutsertakan anggota ke pelatihan dan workshop, memberi info lomba-lomba dan proyek menulis ke anggota.

BP       : Hasil apa saja yang sudah diraih dari usaha tersebut?”

Dala     : Prestasi kepenulisan anggota FLP DKI meningkat, seperti semakin banyaknya anggota yang menulis buku. Belum lagi sekarang (kalo ngga salah) ada 10 orang anggota FLP DKI yang membantu FLP daerah lain dan komunitas-komunitas lain.

BP       : Mengenai buku terakhir mba Dala, Muslimah Gak Gitu Deh, itu kan termasuk buku How To. Gimana komentar mba Dala soal menjamurnya buku-buku How To belakangan ini?

Dala     : Dala termasuk penggemar buku How To. Banyak orang yang ingin belajar dan mengembangkan diri. Sudah fitrah manusia ingin terus berkembang. Buku How To berguna untuk mendidik dengan cara fun dan tidak menggurui. Pantas kalau banyak disukai.

BP       :  Mba Dala sendiri paling suka menulis tentang apa? Apa lebih condong ke fiksi atau non fiksi? Genre yang disukai apa?”

Dala     : “Dala membaca fiksi terutama novel dan cerpen yang bisa membuat pembaca merasakan ceritanya. Jadinya Dala lebih tertarik menulis fiksi. Selama ini cerita Dala lebih banyak misteri. Memang cita-cita Dala bisa menulis novel misteri dan novel-novel yang berkaitan dengan meraih cita-cita. Untuk genre, Dala tidak pilih-pilih. Penulis idealnya suka membaca dan bisa menulis semua jenis tulisan. Dala berusaha menulis untuk semua genre, tapi yang diterbitkan selama ini memang lebih banyak untuk remaja dengan gaya bahasa pop.

BP       : Buku “Muslimah Gak Gitu Deh” itu kan nulisnya keroyokan. Sama siapa aja mba? Trus gimana milih orang-orangnya?”

Dala     : Ada aku, Echa, Anisa, Astri, dan Era. Kita tawari tidak ke semua orang, tapi yang berkomitmen saja.”

BP       : Kabarnya buku itu prosesnya lama ya sampai dilempar ke pasar? Kenapa tuh mba? Berapa lama prosesnya?

Dala     : Masalah yang utama, kita berlima (sebenarnya minus Echa) terbiasa menulis dengan gaya bahasa serius. Jadi harus diedit berkali-kali karena penerbit maunya bahasa pop banget. Terus yang bikin lama juga karena masuk waiting list di penerbit. Jadi total 1,5 tahun prosesnya.”

BP       :  Lalu, animo pembaca?

Dala     : Penjualannya belum tau nih. Belum keluar laporan dari penerbit. Sayang kita ngga sempat launching. Sudah gitu kesalahan kita, ngga ada yang cantumin e-mail. Jadinya ngga tau tanggapan pembaca. Ato malah jangan-jangan emang ngga ada tanggapan. Hihihihihi…”

BP       : Sekarang mba Dala sedang menulis apa? Buku apa yang segera terbit?”

Dala     : Ada dua naskah novel yang baru mau Dala kirim. Tema dan judulnya masih rahasia ya. Kalau terbit, insya Allah, pasti Dala kabari teman-teman FLP DKI duluan. Sekarang juga sedang menulis buku non fiksi lagi. Mohon do’a juga untuk yang ini.”

BP       : Apa tuh? Cara Memilih Suami yang Ok? Ngomong-ngomong calon suami mba Dala kok tidak pernah dipublish nih?”

Dala     : Nah, kalo itu lebih rahasia lagi. Rahasia Ilahi maksudnya. Hehehehe…”

BP       : Selain bisa nulis, gambar, melukis, juga main biola dan piano.  Sejak kapan belajar biola dan piano?

Dala     : Belajar biola umur 18 tahun. Waktu masih kecil suka dengar musik klasik. Dulu maunya belajar cello. Karena muahal, banting setir ke biola. Tapi tetep ada cita-cita belajar cello juga. Kalo piano otodidak kok. Kan prinsipnya bisa baca not balok, gampang main piano. (Lilyani Taurisia)

 

* Artikel ini versi penuh (belum diedit) di mana artikel yang telah diedit dimuat di Buletin PENA Edisi Vol. 5, No. 3, Thn 2008.