Spread the love

Sudah dibaca 103 kali

Sumber: Washingtonpost.com

Suatu hari seseorang menawari saya sejumlah uang. Untuk mendapatkan uang itu sangat mudah. Saya tak perlu berlari keliling lapangan dan diawasinya melalui kamera pengintai. Atau mengirim suatu barang ke tempat rahasia yang dikepung agen Mossad, KGB, MI6, atau CIA.

Ia mengirim naskah dan meminta saya meletakkannya di laman saya (billyantoro.com). Naskah itu tentang tempat wisata eksotis namun horor (tentang kuburan). Di akhir naskah diselipkan tautan laman agen tiket yang mengarah langsung ke sebuah maskapai penerbangan yang dapat mengantarkan semua orang ke tempat wisata akhirat itu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat itu orang memilih laman saya sebagai lokasi beriklan. Oh ya, dia tidak meminta saya memasang logo atau papan iklan (banner) di laman saya. Hanya naskah itu. Ya, itu saja.

Dulu, waktu saya bekerja sebagai wartawan majalah tentang MICE (Meeting, Insentive, Convention, Exhibition) dan dunia pameran di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, tahun 2006-2007, dunia periklanan mengalami perubahan orientasi. Sebelumnya, perusahaan dan biro periklanan memilih televisi, radio, dan majalah sebagai medium promosi. Memang jangkauannya luas, tapi tidak bisa dipastikan berapa orang yang benar-benar menyaksikan/mendengar/melihat iklan itu.

Saat itu, perusahaan dan biro periklanan cenderung memilih media pameran untuk beriklan. Meskipun cakupannya terbatas dan terlokalisasi, namun massa yang tampak mengonsumsi iklan itu jelas. Dapat diukur jumlahnya. Terlebih, umumnya melalui SPG yang rata-rata berpakaian seksi, promosi iklan dapat dilakukan secara interaktif. Melibatkan pengunjung. Ada pengalaman yang dirasakan langsung oleh konsumen terhadap produk yang dijual. Pengalaman konsumen, salah satu kunci keberhasilan suatu promosi.

Sampai sini tampak bahwa paradigma beriklan berpindah dari yang berjangkauan luas menjadi berjangkauan terbatas namun ada interaksi langsung (fisik) di dalamnya.

Tak lama kemudian, muncul media sosial seperti Facebook, Youtube, Twitter, dan Instagram yang secara masif menarik hati jutaan penduduk dunia termasuk warga +62. Di sisi lain, blog tumbuh subur bak jamur di musim hujan.

Baca juga: Mau Kaya, Jangan Gila!

Internet kemudian berhasil menarik perhatian para pengiklan. Ada massa riil di sana. Tiap tahun jumlah pengakses internet meningkat melebihi kepemilikan ponsel. Media sosial dan laman memberi pengalaman ganda untuk berpromosi: berjangkauan luas dan bisa berinteraksi dengan khalayak. Biayanya pun jauh lebih murah.

Perusahaan dan biro iklan mencari akun dan laman yang memiliki banyak pengikut (follower) dan pengunjung. Youtuber berjaya. Atta Halilintar, Ria Ricis, dan pemuda-pemudi lainnya kaya mendadak. Dengan memiliki banyak pengikut, mereka berani pasang tarif puluhan juta sekali cuitan, postingan, atau vlog meluncur ke publik. Asal produk bisa sampai ke puluhan juta orang (pengikut), bagi pengiklan, jumlah segitu bukan masalah.

Di sisi lain, banyak perusahaan mencari blogger dan pemilik akun medsos dengan banyak pengikut untuk mempromosikan produknya. Mereka diundang untuk turut mempromosikan produk yang baru diluncurkan atau varian baru sebuah produk. Tak hanya produk, pengelola destinasi wisata dan akomodasi (hotel, dll) juga menggunakan jasa mereka.

Birokrasi pemerintahan tak mau ketinggalan. Tiap ada peluncuran program, mereka minta blogger dan vlogger untuk ambil bagian. Bahkan sekelas presiden memandang perlu melibatkan mereka untuk turut serta mempromosikan program pemerintah.

Nah, dalam konteks ini, laman saya berada di posisinya. Biro iklan itu, tiga tahun lalu, sepertinya sudah mengamati laman saya yang banyak dipenuhi cerita menarik seputar destinasi wisata. Ada ratusan bahkan ribuan orang yang sudah membaca tulisan saya.

Padahal saya menulis bukan berharap dapat iklan. Sama sekali tidak kepikiran untuk menarik iklan. Saya menulis di laman sekadar menyalurkan hobi menulis dan mengabadikan momen. Ada lagi sih: saya menulis sebagai eksperimen kepenulisan, mengembangkan gaya menulis.

Tawaran uang itu terus terang saja tak terlalu besar. Namun momen berharganya adalah: uang datang sendiri tanpa dicari. Bagi kamu atau orang-orang yang lebih hebat dari saya, mungkin itu peristiwa biasa-biasa saja. Tapi, bagi saya, itu luar biasa.

Memori dapat uang tanpa dicari itulah yang kemudian muncul saat saya mencari-cari jenis pekerjaan passive income bagi orang yang bisanya menulis seperti saya. Saya tersadar bahwa ternyata saya pernah dan bisa melakukannya. Selama ini saya tergabung di grup WA berisi blogger yang serius menggarap blognya dan mengisi pundi-pundinya dari pesanan korporasi dan birokrasi. Saya menjadi peserta pasif dan terus menyaksikan keberhasilan mereka.

Baca juga: Kesadaran yang Datang Belakangan

Saya? Tenggelam dalam kesibukan kerja kantor (walaupun saya juga menulis dan menerbitkan buku sebagai bahan sosialisasi program kantor). Perasaan saya tidak terusik sampai pandemi COVID-19 datang, mencekik saya selama setengah bulan, dan memaksa saya untuk berubah.

Kini saya tidak menunggu orang beriklan di laman saya. Fokusnya tidak di sana. Fokus saya yaitu mengembangkan konten laman agar orang-orang berkunjung dan mengambil keuntungan dari laman saya.

Ini seperti pengalaman pakar manajemen Rhenald Kasali saat membangun Rumah Perubahan. Ia mengutip nasihat temannya tentang burung. Kurang lebih begini katanya: untuk mendatangkan burung ke rumahmu, tak perlu engkau beli burung dan sangkarnya. Cukup tanam pohon rindang dan burung-burung akan datang tanpa perlu kau undang.

Kadang, kita perlu mempelajari perilaku burung.

Kunciran, Tangerang, 25 Juli 2021