Spread the love

Sudah dibaca 800 kali

Berdakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Al-Qur’an surah Ali-‘Imran (3): 110, menyeru kaum Muslim kepada hal itu, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah…”

Selayaknya setiap jejak langkah kita menunaikan amanat dakwah. Dakwalah yang membuat umat Islam masa silam mencapai menara gading kejayaannya. Tatkala umat Islam sudah meninggalkan dakwah, perlahan tapi pasti kemerosotan pun menimpa.

Akan halnya berdakwah dengan pena berpijak dari niat penulis. Sebuah karya yang lahir karena dakwah akan membuahkan kebaikan bagi penulis dan pembacanya, terlebih manakala tulisan itu mampu mengubah sikap seseorang menjadi lebih baik. Tentu kebaikan yang diterima berlipat-lipat. Tulisan yang mengandung nilai-nilai kebajikanlah yang tak sia-sia, yang akan menghantarkan penulisnya mencapai derajat mulia di sisi Allah Swt.

Sebelum menggores pena, penulis yang bercita-cita dakwah akan memegang teguh prinsip:

1. Lillahi Ta’ala

Ini merupakan landasan utama. Menulis semata-mata karena Allah, untuk memuliakan agama Allah. Menulis karena materi, maka yang didapat tak lebih hanya materi. Atau karena inign pujian, sanjungan, maka hanya sebatas itu sajalah yang didapatkan. Sungguh sangat merugi.

Niat yang senantiasa tertuju kepada Allah akan mengarahkan penulis untuk menulis hal-hal yang baik, menjauhi menulis yang berpretensi buruk dan membawa kerusakan bagi masyarakat. Menulis menjadi ladang amal baginya. Mendapatkan imbalan materi disyukuri, dipuji disanjung akan membuatnya semakin taqarrub kepada Allah, yang telah menganugerahkannya potensi menulis. Jikapun tidak mendapat apa-apa, lantas tidak menjadikanya sakit hati, sebab sedari awal niat menulis untuk menggapi ridha-Nya.

2. Menghindari “Al-Wahn”

Al-Wahn adalah cinta dunia. Seseorang yang hatinya telah dirasuki cinta dunia, tujuannya menulis hanyalah untuk memperoleh imbalan materi dan ketenaran. Segala cara ditempuh, tak peduli halal haram. Meskipun tulisannya berisikan kecabulan, kemaksiatan, memfitnah, pemutarbalikan fakta, dan sejenisnya. Demi uang, segala dilabrak begitu saja. Penulis yang bermisi dakwah akan menjauhi sifat “Al-Wahn”.

3. Tunduk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

Penulis yang mencita-citakan dakwah dalam setiap tulisannya tak akan keluar dari jalur syariat, Al-Qur’an dan  As-Sunnah. Ia selalu berada dalam koridor kebenaran, sesuai tuntunan agama. Pesan-pesan Al-Qur’an dan As-Sunnah berusaha disampaikan dengan bahasa yang lembut dan sederhana, sehingga mudah dipahami dan mencondongkan hati untuk mengamalkannya. Penulis sendiri akan berusaha tunduk pada aturan-aturan syariat, sejalan dengan apa yang dituliskannya.

Berdakwah dengan pena adalah salah satu jalan dakwah yang efektif dan mampu menjangkau kalangan yang lebih luas, tak terbataskan ruang dan waktu.

*Artikel ini ditulis oleh M. Wahyudin, dimuat di Buletin PENA Edisi 9/Desember/2006 rubrik Kajian. Buletin PENA merupakan media internal yang diterbitkan oleh FLP DKI Jakarta.