Spread the love

Sudah dibaca 1328 kali

IMG_20150630_172258
Bersama Dubes AS Robert Blake

Saya tak pernah terpikir untuk masuk ke sebuah kompleks luas di samping Taman Suropati, Jakarta Pusat, tapi Selasa sore kemarin, 30 Juni 2015, akhirnya saya bisa memasukinya: rumah Duta Besar Amerika Serikat. Meluncur dari kantor di kawasan Senayan pukul 16.00, saya tiba di tempat teduh itu setengah jam kemudian.

Saya memarkir sepeda motor di samping-luar rumah. Tiga petugas ramah berseragam krem berjaga-jaga di depan pintu masuk. Mereka bertanya sejumlah hal terkait kepentingan tamu. Teropong dan detektor logam tergantung di jeruji pagar.

Sembari menunggu kedatangan teman, saya menyeberang, memasuki area Taman Suropati yang luas dan asri, dan berjalan membelah ke arah Jalan Teuku Umar. Orang-orang bercengkrama, merokok, minum kopi, pacaran, dan diam. Tak terasa suasana Ramadan di sana.

IMG_20150630_173423

Seorang teman menelepon. Nurbaiti namanya. Katanya ia tengah menunggu di depan rumah Dubes. Saya bergegas pergi. Di sana saya bertemu dia dan Laura. Laura seorang penulis, teman lama saya yang bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP).

Di depan pintu, sejumlah tamu undangan antre masuk. Menunggu dipersilakan masuk oleh petugas yang mendata satu per satu tamu undangan. Sore itu, Dubes Amerika Serikat mengundang sejumlah organisasi, komunitas, sekolah, dan pesantren untuk berbuka puasa bersama. Ini merupakan agenda rutin Dubes tiap Ramadan datang.

Usai masuk, tas kami diperiksa. Dibuka satu per satu. Lalu masuk ke halaman rumah setelah melewati pintu detektor.

Masuk ke dalam rumah, kami disambut oleh sejumlah staf Kedubes AS. Mereka begitu ramah. Bicara bahasa Inggris-Amerika. Saya senang-senang saja mendengar dan berceloteh Inggris, terlebih saya tengah melatih kemampuan berbahasa Inggris saya. Sabtu besok pun ikut Tes TOEFL. Kedua kalinya.

IMG_20150630_185841

Salah satu staf yang enak diajak bicara adalah Michael D. Sweeney. Dia Deputy Consular Chief di Kedubes Amerika Serikat. Kami bertiga bergantian bertanya-jawab dengannya. Tentu saja dalam bahasa Inggris karena dia tak bisa bicara Indonesia.

Kami bertanya tentang organisasi kepenulisan di Amerika Serikat. Kata Sweeney, organisasi kepenulisan di Negeri Paman Sam itu sangat banyak. Anggotanya berasal dari beragam profesi, seperti pemuda, mahasiswa, dosen.

Sebaliknya, dia bertanya tentang genre apa yang kami geluti. Kami jawab beragam, antara fiksi dan non-fiksi.

Menjelang magrib, kami berkumpul di ruangan agak luas dekat tangga naik. Robert Blake, Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Indonesia, berdiri di atas podium, menyampaikan sambutan. Saat ia terdiam, seorang penerjemah di samping kanannya menyahut, membacakan terjemahan Indonesia. Begitu terus. Sementara di samping kirinya berdiri bedug, menunggu dipukul.

Dalam sambutannya, Blake merasa gembira bisa bertatap muka langsung dengan para tamu undangan. Ya, tamu yang diundang sore itu berasal dari komunitas, organisasi, sekolah, dan pesantren.

Ia juga menyampaikan harapannya kepada negeri berpenduduk mayoritas muslim sedunia ini. Katanya, Indonesia memiliki potensi besar untuk melakukan perubahan di tataran dunia. Reputasi Indonesia dalam toleransi, demokrasi, dan inklusivitas, tambahnya, sudah dikenal luas.

Usai sambutan, hadirin menyebar, memenuhi ruang depan, tengah, dan belakang. Menunggu magrib. Mengobrol. Tertawa-tawa. Memasuki magrib, kami melahap hidangan pembuka yang menggugah selera. Rata-rata makanan dan minuman khas orang Indonesia berbuka puasa: lontong, gorengan, teh manis, cendol, dan kurma.

Lalu kami salat magrib. Letaknya di tenda besar yang berada di samping rumah. Cukup nyaman.

Usai salat, hadirin langsung makan besar. Menunya cukup banyak. Ada pecel, ayam goreng, daging sapi, dan ikan. Juga buah-buahan, jus, dan minuman soda.

Suasana cair. Tiap orang berdiskusi, membentuk kelompok masing-masing. Sebagian lagi minta foto dengan Dubes Blake. Termasuk kami bertiga.

Menjelang isya, kami pulang. Lebih dulu berpamitan dengan Blake dan para stafnya. Mereka sangat ramah. Semoga keramahan ini tak hanya terasa di dalam suasana Ramadan dan di rumah itu saja. Merembet ke hubungan diplomasi Indonesia-Amerika Serikat. Terima kasih atas undangannya, Mr. Blake.*