Spread the love

Sudah dibaca 185 kali

Saya dan seorang teman terlonjak kaget ketika seekor coro (kecoa) melompat dari buku yang teman saya itu buka. Lalu tawa kami lepas. Itu kecoa bohongan! Kecoa plastik! Sang penulis buku yang duduk di dekat kami ikut tertawa.

Buku cerita bergambar itu memang sangat menarik dan unik. Selain gambar dan ceritanya bagus, dialog dan narasinya berupa aksara Jawa Hanacaraka dan bahasa Jawa (Banyumasan). Sedangkan teks bahasa Indonesia diletakkan di bagian belakang. Buku anak dengan teks dan aksara bahasa daerah masih terbilang jarang di pasaran.

Ceritanya pun sangat sederhana. Buku bercerita tentang dua anak sedang mencari sebuah mainan di tengah tumpukan mainan yang berserakan. Tiba-tiba muncul seekor kecoa. Fokus keduanya kita berganti menjadi mengejar kecoa. Pada momen tertentu, gantian kecoa yang mengejar mereka karena kecoa bisa terbang. Suasana kejar-dikejar ini sangat seru. Cerita diakhiri dengan pengejaran tanpa akhir: kecoa belum tertangkap.

Lia Loeferns, sang penulis, mengatakan ia membuat buku cerita itu bersama anaknya selama enam bulan. Aksara Hanacaraka ditulis tangan oleh temannya, bukan menggunakan jenis huruf (font) komputer. Katanya lebih bagus ditulis tangan dan mudah penataannya ketimbang menggunakan font dari komputer.

Sebelum final, buku diuji keterbacaannya kepada anaknya teman dan beberapa saudaranya. Setahu saya, penyusunan buku anak memang butuh waktu lama. Selain kerja apik penulis-editor-ilustrator yang sangat intens, buku pun perlu diuji coba (uji keterbacaan). Biasanya diujikan kepada siswa dan guru. Setelah diuji keterbacaan, buku diperbaiki sesuai dengan masukan yang diterima. Maka, bisa saja sebuah buku selesai dalam waktu satu tahun. Namun, tentu saja, proses tidak memungkiri hasil. Biasanya buku yang telah melalui proses panjang akan terjamin kualitasnya.

Saya bertanya apa dia sedang menyiapkan cerita dengan aksara dan bahasa daerah lain? Ya, katanya.  Upaya melestarikan budaya nusantara, dalam hal ini aksara dan bahasa, patut diapresiasi. Saya mengusulkan kepadanya agar juga memperhatikan aspek bisnis. Coba saja dulu buat cerita dengan aksara dan bahasa yang digunakan oleh mayoritas orang daerah seperti Minangkabau, Medan, dan Makassar. Setelah buku dicetak, minta para pejabat dan pengusaha daerah tersebut utuk membeli dan membagikannya kepada warga lain. Keuntungan dari penjualan buku itu digunakan untuk ‘menyubsidi’ penerbitan buku dengan aksara dan bahasa minoritas dan langka penuturnya. Artinya, kepunahan bahasa daerah bisa diselamatkan oleh buku cerita.

Keunggulan lain buku itu adalah ada versi audionya. Kita bisa memindai (scan) kode QR dan mendengarkan suara pembacaan buku dari aplikasi Spotify. “Kalau pengisi suaranya penutur asli, akan lebih bagus lagi! Bisa melestarikan budaya Indonesia,” kata saya kepadanya, Minggu (26/6/2022). Salah satu cara melestarikan bahasa daerah adalah dengan menggunakan aksara dan bahasanya sebagai pengantar cerita. Terlebih ada suara penutur asli yang direkam.

Namun buku itu ada kelemahannya: tidak ada teks bahasa Indonesia yang langsung terbaca bersama gambar. Terjemahan Indonesia diletakkan di bagian belakang buku. Orang yang tidak mengerti aksara dan bahasa Jawa akan kerepotan memahami cerita. Sebaiknya tulisan Bahasa Indonesia ditulis berdampingan dengan aksara dan bahasa Jawa.

Lia dan suaminya kini merintis usaha penerbitan buku. Sebelumnya keduanya bekerja di sebuah penerbitan buku besar di Yogyakarta. Lia akan terus membuat buku dengan aksara dan bahasa daerah yang jumlahnya sangat banyak di negeri ini.*