Spread the love

Sudah dibaca 961 kali

Jangan pernah cari tukang plat motor di malam hari! Tidak ada yang jual! Apalagi mencarinya di mal dan toko buku. Mana ada tukang plat motor buka lapak di mal dan toko buku?

Kejadian memilukan ini berawal ketika pada awal Juni 2007, secara tiba-tiba dan mengejutkan, plat nomor bagian belakang motor saya raib. Saya terheran-heran. Tak mungkin plat itu jatuh, sebab saya yakin sekali plat terpasang kuat di badan motor. Saya langsung berkesimpulan: pasti ada yang mencurinya saat diparkir! Pertanyaannya, kenapa tidak sekalian plat bagian depan, helm, dan rompi saya biar lengkap dan bisa ditukar dengan berondong atau ayam negeri?

Sebagai biker sejati yang taat pada peraturan lalu-lintas dan hanya sesekali pura-pura buta warna saat melintas di perempatan jalan, rasa was-was menderum-derum di benak saya. Bagaimana nanti kalau pulang bertemu pak polisi dan ditilang? “Santai aja. Tinggal keluarin kartu pers, beres! Polisi nggak berani nilang lu, Bill!” kata teman saya. Brilian juga idenya.

Tapi, sebagai insan pers yang tak mau menyelewengkan profesi, tetap saja rasa gelisah mencubit-cubit hati saya. Ngilu, euy! Bagaimana kalau yang menilang jenderal polisi bintang empat? Takut tidak, ya, dia dengan wartawan? Ah, tidak mungkin jenderal polisi keliling patroli. Kayak kurang kerjaan.

Malam itu juga, sepulang dari kantor Majalah Event Guide di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, saya ‘meronda’. Bukan mencari maling, tapi tukang plat motor. Saya mengitari jalanan di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Mulai dari Jalan Duren Sawit Raya, kemudian berturut-turut Jalan Buaran Raya, Jalan Raden Inten, berputar kembali di depan Masjid An-Nuur, Jalan Perumnas Raya, Jalan Delima Raya, Jalan Malaka Raya, Jalan Wijaya Kusuma, Jalan Wijaya Kusuma I, berputar kembali ke Jalan Wijaya Kusuma I, Jalan Teratai Putih Raya lewat depan Terminal Malaka Jaya, Jalan I Gusti Ngurah Rai hingga perempatan Pasar Klender, Jalan Pahlawan Revolusi hingga perempatan Pondok Bambu, Jalan Kolonel Sugiyono, Jalan Swadaya Raya, lalu pulang ke rumah. Satu jam saya menyisir jalanan. Gigih, kan, perjuangan saya mendapatkan plat motor? Hasilnya? Wew, jangan ditanya. Nihil! “Sepertinya mereka kompak tutup lapak,” batin saya.  Pelajaran baru: jangan cari plat motor malam-malam, sekalipun bawa peralatan meronda seperti kentongan dan lampu senter.

Tiba di rumah saya ceritakan kejadian naas dan ‘jihad berdarah-darah’ mencari tukang plat kepada adik dan ibu saya. Bukannya kasihan dan menyediakan secangkir teh hangat disertai senyuman tulus ikhlas, mereka malah kompak menakut-nakuti: “Awas lho Bill, siapa tahu platnya digunakan orang untuk berbuat jahat.” Adik saya menambahkan, “Cepat lapor polisi!” Tak ada satupun yang menyarankan saya untuk sabar, tenang, tidak panik, dan menawari diri untuk memijiti kepala saya yang pusing.

Besoknya saya kembali keliling Jakarta. Di dekat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum di Jalan Jalan I Gusti Ngurah Rai, Klender, saya menemukan tukang plat motor. Saya pesan satu kepada ibu tua penjaga lapak. Katanya nanti sore saya sudah bisa mengambilnya. Dari situ saya langsung berangkat ke kantor. Dengan penuh kewaspadaan dan tidak melakukan gerakan-gerakan mencurigakan, saya memacu motor menghindari tatapan tajam polisi dan intaian Densus 88. Ah, seperti teroris saja saya.

Sorenya saya kembali ke lapak itu dan mendapatkan jawaban tak mengenakkan, “Tadi hujan seharian, jadi belum bisa menjemur plat,” jelas Pak Tua, barangkali suami ibu tadi. Saya diminta datang besok pagi pukul 09.00. Ya Tuhan, semoga polisi, petugas pamong praja, hansip, dan Densus 88 tidak mendeteksi motor tak berplat nomor saya. Besoknya saya kembali ke tempat itu dan mendapatkan plat motor baru.

 

Dihadang polisi

Ternyata skenario Tuhan Yang Maha Kuasa soal plat motor belum tiba pada titik klimaks. Baru pada pengenalan tokoh utama, seting, dan alur. Konflik yang menguras emosi belum ditampilkan.

Tepat satu sepertiga bulan kemudian (sebulan sepuluh hari), di kawasan elit Kuningan, konflik yang melibatkan tokoh utama pujaan gadis-gadis ibukota terjadi.

Saat itu saya baru mengikuti acara yang digelar oleh komunitas mailing list ‘Sekolah-Kehidupan’ di Aphrodite’s Club Klub Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Motor keren tercinta saya pacu ke Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, untuk menemui para aktivis Forum Lingkar Pena DKI Jakarta. Di sanalah sejak akhir 2004 aktivis organisasi pengkaderan penulis ini biasa ‘mangkal’. Saya hendak mendata calon peserta yang ingin mengikuti Ode Kampung 2—temu komunitas sastra senusantara pada 20-22 Juli 2007 di Rumah Dunia, Serang, Banten. Pada acara ini, FLP DKI mengirim sekitar 30 peserta.

Setelah keluar dari Jalan Jembatan Merah, motor melaju di aspal Jalan Haji Rangkayo Rasuna Said. Saat berada di jalan utama, dua motor gede putih milik polisi sedang berlari santai di depan saya. Saya cuek. Saya lalui mereka karena memang saya sedang terburu-buru.

Setelah melewati jalan di atas terowongan Casablanca, tiba-tiba raungan berat dua motor gede tadi memukul-mukul gendang telinga saya. Seorang polisi mendahului saya, melambaikan tangan kirinya menyuruh saya menepi.

Deg. Saya deg-degan. Ada apa ini? Jantung saya berdegup kencang tak terkendali, seperti baru melihat bidadari cantik turun ke bumi. Tapi dia polisi, bukan bidadari.

Polisi itu melepas helm dan turun dari motornya, mendekati saya yang berdiri terpaku dengan motor tetap menyala. “Ada apa, Pak?” sambut saya dengan nada galak.

“Kemana plat nomor motormu yang asli?” tanya polisi itu, santai. Saya tak memerhatikan temannya mengawasi di belakang.

“Dicuri, Pak, waktu saya memarkir motor!” jawab saya, masih dengan suara tinggi. Saya berpikir itu polisi akan menduga jawaban saya terdengar konyol. Dicuri? Buat apa orang mencuri plat nomor motor? Ditukar berondong atau ayam negeri?

“Kalau hilang, sebaiknya kamu bikin lagi di Polda!” tukasnya. Saya mendebatnya. Yang penting saya punya sepasang plat nomor motor meski yang satu tidak bikinan langsung polisi.

Saya menduga polisi ini hanya ingin mencari uang saja. Yah, ini anggapan umum masyarakat bahwa sebagian polisi menggunakan kewenangannya untuk mencari uang dari pengguna jalan. Lantas saya berpikir bahwa barangkali nanti saya akan mengeluarkan kartu pers bila perlu. Sebagian teman sejawat saya menggunakan kartu pers sebagai alat sakti menghindari ‘sergapan’ polisi.

“Mana STNK dan SIM-nya?”

“Lho, saya salah apa, Pak?”

“Sudah, keluarkan saja!  Saya mau periksa kelengkapannya!”

Sial. Saya tahu trik semacam ini. Ia akan menahan surat-surat saya alias menilang. Saya masih mempertimbangkan mengeluarkan kartu pers.

Saya mengeluarkan dompet dari dalam tas lalu menunjukkan STNK dan SIM padanya. Terlihat itu polisi mencermati sekali kesamaan STNK dan SIM serta plat nomor. Jantung saya masih kencang berdesir. Sir! Sir!

Setelah puas melihat, itu polisi mengembalikan STNK dan SIM saya. “Ini peringatan saja,” katanya. “Kali ini saya tidak menangkap kamu. Kalau kamu melintas di jalan ini dan Jalan Jenderal Sudirman, polisi lain bisa menangkapmu. Kamu sudah melanggar  (bla…bla…bla…mengucap angka, barangkali peraturan. Saya sangat tidak mempedulikannya). Sebaiknya kamu membuat lagi plat nomor di Polda.”

Saya mengiyakan saja. Tak mau memperpanjang urusan. Dua polisi bermotor gede itu melanjutkan perjalanan. Saya hanya cemberut.

Saya tak peduli dengan anjuran polisi itu. Buat plat baru ke Polda? Bagaimana dengan pengendara lain yang plat nomornya jelek, ditekuk-tekuk, hancur, bahkan tak dipasang, namun melenggang santai di belantara jalan Jakarta? Saya sedang tidak beruntung saja.

Sialnya ketidakberuntungan itu datang lagi. Ketika melintas di Jalan Jenderal Gatot Soebroto, dua polisi bermotor gede kembali menghadang saya. “Saya lagi buru-buru, Pak, ada liputan di JCC (Jakarta Concention Center)! Pak Menteri yang buka!” ucap saya.

Kejadian berikutnya juga berulang. Ia minta saya menunjukkan SIM dan STNK, lalu meminta saya mengganti plat motor. Mereka pergi tanpa menilang saya.

Baik, baiklah, saya menyerah. Saya harus mengganti plat motor baru tapi butut ini. Jadi, jangan pakai plat motor butut kalau tidak mau dihadang polisi!

 

 22 November 2011