Spread the love

Sudah dibaca 1107 kali

Ketika pedagang lelaki itu memberikan sekantung jeruk, saya sangat yakin alat timbangannya salah. Ia membohongi saya. Dan saya sangat meyakininya!

Saya sudah terbiasa memasukkan buah-buahan seberat satu kilogram ke dalam kantung plastik. Maka ketika ia menyodorkan sekantung jeruk setelah menyisihkan tiga butir dari dalamnya, hati saya tak ragu berkata: Anda berbohong di depan saya, Tuan!

Saya hanya tertawa dalam hati dan memberikan dua lembar uang lima ribu kepadanya. Lalu tancap gas bersama istri melewati kolong jembatan perempatan Ciledug yang remang di telan malam.

Selama perjalanan perasaan kesal membuncah-buncah. Ingatan saya berputar pada perkataan Ibu yang telah lama terucap: susah sekali mencari pedagang yang jujur. Ibu hafal pedagang mana yang palsu timbagannya dan mana yang bisa dipercaya. Sebab sepulang dari pasar, ia tak malas-malas menimbang kembali barang belanjaan yang diragukan beratnya di rumah. Kecewa tak jarang menggelantungi benaknya usai melihat jarum penunjuk berat pada timbangan berhenti bergerak.

Ketika bicara tentang menjamurnya mal, supermarket, hingga hypermarket di kota Jakarta ini, rasa sebal selalu mengiringi hati saya. Selalu saja secara kasat mata tampak pusat-pusat perbelanjaan itu berada di dekat pasar tradisional, perempatan jalan, terminal, dan kompleks perumahan. Seolah mereka sengaja melakukannya untuk menggusur para pedagang kecil di sekitarnya.

Dengan kapasitas yang dimiliki, pusat-pusat belanja itu menawarkan harga sedikit lebih murah dari harga pedagang biasa. Selain itu mereka menjamin kebersihan ruangan dan kelengkapan barang-barang kebutuhan. Jika konsumen diminta memilih lebih suka belanja di tempat yang agak murah, bersih, dan lengkap atau di tempat yang kumuh penuh polusi dan kurang terjamin kesehatannya, pasti mereka pilih opsi pertama.

Kondisi tak menguntungkan pedagang kecil ini diperparah oleh perilaku sebagian pedagang yang tidak jujur; mengurangi timbangan. Barangkali, bisa jadi, di satu lokasi yang didiami sepuluh pedagang, ada tiga pedagang yang palsu timbangannya. Pembeli yang kecewa telah dibohongi salah satu dari ketiga pedagang itu kemungkinan akan menggeneralisasi bahwa kesepuluh pedagang itu tidak jujur.

Lalu kalau begini, keberpihakan harus ke mana? Pada pedagang kecil yang tidak jujur dalam timbangan, atau kepada pusat belanja yang timbangannya benar? Konsumen tidak rela dibohongi. Mereka akan senang membayar lebih mahal asal tidak dibohongi.

Inilah dilema yang harus disikapi konsumen yang masih peduli pada nasib pedagang kecil yang terus tergerus keberadaannya oleh pedagang bermodal besar.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 31 Juli 2010.