Spread the love

Sudah dibaca 951 kali

Memet mondar-mandir di dalam sel tahanan KPK. Cepi yang duduk di dekatnya bingung. “Ngapain mondar-mandir, Met? Kayak kucing mau beranak saja!”

“Ini tidak adil! Diskriminasi!” teriak Memet.

“Kucing kalau mau beranak ya memang begitu. Perlu tempat nyaman untuk melindungi anak-anaknya.”

Merasa Cepi main-main, Memet mendekatinya dan menarik kerah bajunya. “Ini bukan soal kucing beranak, Cep! Ini soal perlakuan KPK kepada orang-orang macam kita. Tadi saya dengar berita televisi, si AU yang sudah berstatus tersangka korupsi, jalan-jalan ke Bali.”

“Wah, keren tuh!” Cepi kaget sekaligus takjub. “Ngapain dia ke sana? Ikut KLB bekas partainya atau jalan-jalan ke pantai lihat bule berjemur? Ah, jangan-jangan dia ke sana buat lihat kucing Bali beranak! Kabarnya, kucing Bali bisa menari lho!”

Memet mendengus. Ingin sekali ia pukul Cepi yang tak pernah serius bicara dengannya, tapi ia takut dipidana dengan pasal penganiayaan. Ia kemudian melepas cengkeramannya, berjalan menghadap terali besi, dan berkata sambil menatap langit-langit, “Ini bukan soal ke Bali-nya, Cep. Ini soal persamaan hak di depan hukum dan hak asasi untuk berlibur. Status kita juga masih tersangka korupsi, tapi kita tidak boleh jalan-jalan ke Bali atau tempat wisata lain. Ini, kan, tidak adil.”

Cepi geleng-geleng kepala. Melihatnya, Memet mengira Cepi mulai celeng.

“Padahal, kalau kita boleh berlibur,” Cepi berkata dengan nada semangat, “industri pariwisata kita makin maju, ya. Masyarakat di sekitar tempat wisata juga untung. Biasanya kita, kan, menghambur-hamburkan duit saat wisata.”

“Selain itu, dengan terus berada di sini, kita tidak bisa memenuhi kewajiban menafkahi batin istri kita. Si AU enak, siang-malam bisa menafkahi batin istrinya.” Memet mengempas napas berat, membayangkan istri-istrinya yang sendirian di rumah sementara hujan turun deras begitu dingin. Ia hafal betul kegiatan rutinnya bersama istri jika hujan turun.

“KPK memang kebangetan! Tidak adil!” Cepi berdiri dengan tangan mengepal. “Kita harus menghubungi pengacara kita!”

“Buat apa?”

“Minta KPK untuk menyediakan kamar khusus buat kita menafkahi istri.”

Sudah celeng nih orang. Memet tiba-tiba sedih, air matanya menetes. “Kalau mereka terus kedinginan, lama-lama mereka minta cerai. Ketidakadilan ini membuat rumah tangga kita rawan perceraian.”

“Kamu enak, Met, punya beberapa istri. Kalau satu minta cerai, istri yang lain masih ada.” Cepi merajuk.

“Lha kalau semua minta cerai, bagaimana?”

“Itu… itu takdir, Met. Tinggal cari istri lagi. Hartamu, kan, banyak. Berceceran di mana-mana. Rumah, apartemen, kebun binatang, saham. Saya jamin, paling nanti kamu dihukum beberapa tahun saja plus dikurangi remisi. Duit masih banyak, nyari istri lagi apa susahnya?”

“Sialan kamu, Cep! Begitu rendahnya kamu memandang perempuan! Perempuan harus diperlakukan istimewa. Kalau kamu punya istri, berapapun, kamu harus menafkahinya lahir dan batin. Kasih perhiasan, barang-barang mewah, rumah, apartemen, tanah, atau saham sekalian.”

“Dengan duit korupsi?”

“Lha dengan cara apalagi?”

Baru Cepi membuka mulutnya untuk mengiyakan, Asan, pengacara Memet, datang.

“San, saya pengin dipindahkan ke Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Bisa?” Sergah Memet.

Asan yang hendak menyampaikan suatu kabar menunda niatnya. “Lho kenapa? Di sini banyak tikusnya?”

Memet mengedarkan pandangnya, mengawasi kalau-kalau ada petugas didekatnya. Ia berkata lirih, “Saya ingin bisa keluar sel. Pengin jalan-jalan, bosan di dalam sel terus. Dulu koruptor pegawai pajak GT, kan, bisa jalan-jalan puluhan kali waktu di tahan di sana.” Memet diam-diam mengagumi GT yang bisa menyuap aparat penegak hukum dengan mudah. Ia merasa sial di tahan di sini karena tidak satupun petugas KPK bisa disuap.

Asan mendekatkan mulutnya ke telinga Memet. “Sekarang sudah sulit, Met. Aparat di sana yang korup sudah dipenjarakan. Kalau aparat sekarang kamu suap, bisa-bisa kamu di-dor! Lagi pula, mana mau KPK pindahkan kamu ke sana. Mending di sini bisa ketemu cewek-cewek cantik sesama tahanan.” Perilakunya memang bejat, yang penting parasnya masih cantik dan seksi.

Memet menyerah. Ucapan Asan mengubur niatnya untuk bisa keluar tahanan agar bisa liburan ke Bali dan menafkahi istri. Tiba-tiba ia khawatir kalau keadaannya begini terus semua istrinya minta cerai. Ia rela membuang duit berapapun asal tidak berstatus duda sekeluar penjara. Ia lalu menceritakan kegalauannya pada Asan.

“Salahmu di sana, Met!” tukas Asan.

“Lho, kok kamu menyalahkan saya?! Saya bayar kamu ratusan juta untuk membenarkan kesalahan-kesalahan saya! Saya pecat baru tahu rasa, kau!”

“Maksud saya bukan begitu. Kalau tidak mau ditahan, kamu harus dekat dengan orang-orang istana. Aparat hukum kita, kan, takut dengan orang-orang istana.” Lalu Asan menceritakan beberapa kasus tumpulnya penegakan hukum; AU yang tidak ditilang polisi padahal terbukti terlibat dalam pemalsuan plat nomor mobil, kemudian RR, anak Menteri HR, yang tidak ditahan oleh polisi dan kejaksaan padahal berstatus tersangka dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan tewasnya dua manusia, juga Menteri DI yang tidak ditilang polisi padahal terbukti memalsukan plat nomor mobil.

Hati Memet makin hancur. Ia benar-benar merasa diperlakukan tidak adil. Hukum, di matanya, tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Ia berjanji pada dirinya sendiri, setelah keluar dari penjara, ia akan mendekati orang istana, DPR, hakim, petugas imigrasi, ulama, tokoh masyarakat, dan, tentu saja, polisi dan kejaksaan. Dengan begitu, kalau ia tertangkap lagi dalam kasus korupsi, ia tidak ditahan. Ia bisa melenggang jalan-jalan ke Bali bahkan luar negeri walau berstatus tersangka.

“Kamu ke sini mau apa?” tanya Memet pada Asan.

Air muka Asan berubah sedih. Ia khawatir berita yang akan disampaikannya membuat Memet stres lalu memecatnya sebagai pengacara. Namun ia berhasil memberanikan hati.

“Istrimu…”

“Ada apa dengan istri saya?”

“Minta cerai…”

“Apa?!” Mata Memet melotot, mulutnya menganga, lama, seperti adegan sinetron. “Kau bilang istri, berarti cuma satu, kan?” Nada suaranya mengandung harapan.

Asan menggeleng. “Semuanya. Alasannya sama: mereka telah lama tidak mendapatkan nafkah batin.”

Raut Memet menggelap. Lekuk-lekuknya mengeriput, kristal-kristal bening bercucuran menderas menggenangi pipinya. Ia menangis keras. Cepi prihatin, mengelus-elus punggungnya.

“Sudahlah, Met. Ini sudah takdir. Makanya, besok-besok, kalau korupsi jangan sampai ketahuan.”

Perlahan Asan pergi meninggalkan sel, membiarkan kedua tersangka korupsi itu menyesali diri. Ia tak tega mengatakan bahwa semua istri Memet sebenarnya berselingkuh. Salah satunya dengan dirinya.*
Jakarta, 2 April 2013.