Spread the love

Sudah dibaca 78 kali

Setelah bulan lalu selesai baca “Rich Dad Poor Dad”, alhamdulillah kemarin (26/8/2021) saya selesai baca buku “Second Chance”. Keduanya karya Robert T. Kiyosaki, seorang miliarder Amerika Serikat dan pakar keuangan. Di buku yang terbit tahun 2016 itu, Kiyosaki mengulas banyak hal, mulai dari persoalan keuangan global hingga membentuk pola pikir pribadi.

Kedua hal ini membentuk kita MASA LALU, MASA KINI, dan AKAN DATANG. Oleh karena ini, Kiyosaki membagi buku itu ke dalam tiga pembahasan: masa lalu, masa kini, dan akan datang. Di MASA LALU, kita dijabarkan asal-usul persoalan keuangan global yang memengaruhi miliaran manusia hari ini dan akan datang. Di MASA KINI, kita dibimbing untuk menyikapi beragam persoalan dan pilihan hidup terkait keuangan. Di MASA AKAN DATANG, kita diberi visi tentang apa yang bisa kita lakukan agar bisa hidup kaya dan berkecukupan.

Ada kesamaan di antara kedua buku tersebut (dan sepertinya juga dengan buku-buku Kiyosaki lainnya), yaitu mengenai pentingnya pendidikan finansial di sekolah. Kiyosaki kukuh dengan argumennya bahwa salah satu sebab orang kaya menjadi miskin dan orang miskin tambah miskin adalah karena tidak ada pendidikan finansial yang diberikan di bangku sekolah. Sekolah mencetak orang yang mencari ilmu untuk mendapatkan nilai tinggi, lulus dengan nilai bagus sehingga dapat pekerjaan dengan gaji besar, menabung di bank dan berharap bunga tinggi, kemudian berinvestasi di pasar saham/obligasi/forex lalu berharap keuntungan besar dari kenaikan harga yang fluktuatif. Sekolah tidak memberi murid-muridnya pengetahuan tentang bagaimana mengelola uang (kecuali anjuran menabung uang di bank) dan menjadi orang kaya.    

Di “Second Chance”, Kiyosaki bercerita lebih dalam tentang periode kehidupannya saat jatuh miskin pada 1984 (numpang tinggal di rumah teman, numpang makan, numpang tidur), merintis karier sebagai motivator bersama istrinya Kim, berlanjut membangun usaha yang membuatnya menjadi miliarder di bidang real estate. Satu hal yang digarisbawahi dalam upayanya menjadi orang super kaya adalah ia sadar dengan pentingnya mencari ilmu, berkomitmen dengan hal yang diyakini, dan berani mengambil keputusan.

Baca juga: Menyoal Pendidikan Keuangan

Ada dua hal penting terkait bagaimana menjadi orang kaya yang saya catat dari buku ini. Pertama, kita harus meninjau ulang paradigma yang selama ini kita yakini benar. Sebab, apa yang kita alami berangkat dari paradigma yang mewujud menjadi kebiasaan dan memengaruhi kita dalam mengambil keputusan. Orang miskin dan sulit kaya, yang perlu diubah adalah paradigmanya lebih dulu. Umumnya orang miskin melakukan hal-hal yang dianggapnya penting padahal tidak penting dan berpengaruh pada kondisi keuangannya. Misalnya judi. Banyak orang miskin melakukan judi karena berpikir akan cepat kaya kalau menang. Mereka tidak berpikir tentang pemanfaatannya saat punya banyak uang kecuali menghabiskan secepatnya.  

Kedua, pentingnya kekuatan pengetahuan. Orang menjadi sesuatu sebanding dengan pengetahuan yang dimilikinya. Orang menjadi kaya karena pengetahuan yang dimilikinya memandunya menjadi kaya. Orang menjadi miskin karena pengetahuan yang dimiliki tak mampu memandunya menjadi lebih kaya. Dengan pengetahuan, orang menjadi tahu tentang apa yang penting dan tindak penting dilakukan, apa yang harus dan tidak boleh dilakukan. Akhirnya, kita harus memiliki pendidikan finansial yang memadai dengan banyak belajar.   

Tentu saja tidak cukup menjadi orang kaya hanya dengan memiliki paradigma baru dan pengetahuan tentang keuangan. Ada banyak hal lain yang dikupas dalam buku ini yang dapat menjadi pertimbangan kita jika ingin hidup kaya dan berkecukupan. Namun, setidaknya, meninjau paradigma dan menambah pengetahuan menjadi modal dasar bagi orang-orang yang ingin kaya.

Buku ini menawarkan sudut pandang baru dalam memandang realitas kehidupan, terutama terkait dengan keuangan. Meskipun buku ini menjabarkan fakta dan pengalaman hidupnya dari miskin menjadi kaya, Kiyosaki tidak mengklaim bahwa yang dilakukan dan diceritakannya di buku ini dapat menjamin orang menjadi kaya. Sebab, katanya, kondisi orang berbeda-beda, dipengaruhi oleh pendidikan dan budaya yang membentuknya. Baginya, setiap orang dapat menyelesaikan segala persoalan keuangan asalkan mendapatkan pendidikan finansial yang memadai.

 

Jakarta, 27 Agustus 2021