Spread the love

Sudah dibaca 944 kali

“Mencintai secara mendalam akan memberikan keberanian, dan dicintai secara mendalam akan memberikan kekuatan.” (Lao Tse)

Sabtu, 3 Maret 2007. Siang. Ba’da Zuhur. Satu persatu anggota ‘kabinet’ Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang DKI Jakarta Periode 2007-2008 berdatangan ke Masjid YARSI, Cempaka Putih, Jakarta Timur sebagai titik awal keberangkatan ke Rangkasbitung. Mulai dari Billy Antoro (ketua umum terpilih), Andi Tenri Dala (mantan ketua yang kembali masuk kabinet di Divisi Pramuda) sampai Dani Ardiansyah (anggota Muda, Lingkarpena- 8) yang baru pertama kali ini masuk kabinet dan langsung diamanahi mengepalai Divisi Humas. Sebelum Zuhur sudah ada beberapa pengurus yang hadir untuk memantapkan persiapan keberangkatan seperti Wahyudin (ketua panitia raker) dan Meli (anggota Muda, Lingkarpena- 8). Ya, selama 3-4 Maret, kepengurusan FLP DKI periode 2007-2008 punya gawean rapat kerja di Rangkasbitung, Banten.

Rencana awal keberangkatan pada pukul 14.00 WIB mulur menjadi 14.30 WIB. Cukup bisa dimaklumi karena inilah pertemuan pertamakali para pengurus secara lengkap pasca banjir bandang awal Februari. Sebagian pengurus bahkan turut menjadi korban banjir seperti Sokat (Madya) di Rawabuaya, Jakarta Barat dan Nursalam AR (anggota Muda, Lingkarpena- 8) di Pengadegan, Kalibata, Jakarta Selatan. Anggota Tim Humas ini bahkan menderita lebih parah. Rumahnya terendam hingga atap sehingga perabotan dan benda-benda berharganya tak terselamatkan. Bisnis biro penerjemahan miliknya pun harus “mulai dari nol kilometer,” ujarnya dengan senyum tabah. Banjir awal Februari itu memang luar biasa dahsyat. Mungkin susah dibayangkan bagi yang tak mengalami sendiri, atau minimal tak punya empati.

Tak heran bila dalam acara PULPEN-nya Asma Nadia di Depok awal Februari lalu, ‘secara tak sengaja’ lima dari enam perwakilan FLP DKI (yang juga pengurus FLP DKI) tak dapat hadir. Hanya Wahyudin yang berdomisili di Ciputat (baca: pinggiran Jakarta) dan bebas banjir yang dapat hadir. Jika rumah rekan-rekan yang lain tak terendam banjir, akses ke jalan raya pun tertutup seperti Lia Octavia (juga pengurus periode ini yang kebetulan tak dapat hadir untuk raker) yang tinggal di sekitar Jl. Gajah Mada dan Meli di daerah Cipinang. Lagipula siapa yang tega-teganya bilang ‘sengaja’ bisa kena tuding balik,”Iya nih, soalnya Depok dan Bogor sengaja kirim banjir!” Nah, lho!

Well, perjalanan secara ngeteng (berganti-ganti naik angkutan umum) dari Jakarta ke Rangkasbitung memakan waktu 3,5 jam. Di antara sesaknya penumpang dan riuhnya para pengasong di dalam bus jurusan Tanjung Priok-Rangkasbitung . Namun kesebelas pengurus yang hadir tetap enjoy. Toh, logistik dijamin penuh oleh Bu Tuti Krisan, anggota yang secara usia paling senior namun paling enerjik. Jadilah, selepas Serang, perut masih berdamai sambil menikmati pemandangan deretan hutan lebat di kiri kanan jalan, dan menyaksikan betapa Banten Selatan tak jua lepas dari jerat kemiskinan seperti yang dituliskan Multatuli dalam novel Max Havelaar yang memasyhurkan nama Saijah dan Adinda.

Rapat pembuka dimulai sekitar 21.30 WIB karena perjalanan panjang tadi lumayan menguras tenaga sebagian pengurus. Alhamdulillah, raker kali ini difasilitasi penuh oleh Bu Nurul, seorang teman sealmamater Bu Tuti Krisan (Muda, Lingkarpena- 8) di S-2 Psikologi UI, yang juga istri Kepala BRI Cabang Rangkasbitung. Alhasil, setelah mandi, rehat serta makan malam dan sholat di kompleks rumah dinas BRI, kami bersidang ria di sebuah TK yang dulunya kantor cabang BRI yang lama. Bayangkan sebuah TK dengan ruangan brankas bank dan meja teller yang panjang!

Rapat yang dibuka dengan lantunan ayat suci Al qur’an oleh Nursalam AR (Salam) dan dimoderatori oleh Fariecha alias Echa dari Divisi Event Organizer berlangsung seru dan dinamis. Berbagai divisi tampil mempresentasikan program kerjanya. Jujur, sms dari Kang Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP) yang mampir ke HP Billy Antoro agar kepengurusan yang baru ini merevitalisasi komitmen pada FLP turut memacu semangat kami untuk menghasilkan program-program kerja yang terbaik.

Beberapa wacana yang menghangat antara lain persoalan maksimalisasi kiprah para anggota senior FLP DKI seperti Palris Jaya, Zaenal Radar Tantular atau Tary. Sesuai semboyan FLP yakni ‘berbakti, berkarya dan berarti’ patut dipikirkan pula wadah secara organisatoris  untuk menampung kiprah mereka agar pewarisan nilai-nilai ke-FLP-an terutama kepada anggota Pramuda terus berlangsung. Akhirnya disepakati akan dibentuk sebuah wadah dewan penasihat—dengan apapun namanya kelak—yang secara organisatoris dihubungkan dengan garis koordinatif dengan ketua FLP DKI. Juga yang termasuk hot issue adalah rencana perluasan ranting-ranting FLP DKI yang merambah hingga tingkat SD dan SMP. Sempat terjadi perdebatan hangat di forum antara lain Tarni dan Dani. Namun gagasan Dani yang sangat visioner tersebut akhirnya disepakati tanpa voting. Alhamdulillah, meski rapat pada pukul 03.30 WIB dipending untuk rehat sejenak menjelang Subuh dan dilanjutkan pada pukul 09.30 WIB, semua perdebatan berakhir damai dan penuh canda.

Visi ketua umum FLP DKI terpilih yang memprioritaskan ekspansi eksternal memang menuntut Humas menata diri dan bergerak lebih gesit. Salah satu program usulan Humas yang dikerjakan lintas divisi dengan Divisi Event Organizer dan Divisi Muda/Madya adalah Posko Baca, semacam rumah baca-tulis seperti Rumah Cahaya atau Rumah Dunia. Dan dalam beberapa hari ke depan perwakilan FLP DKI akan melakukan studi banding ke Rumah Dunia di Serang, Banten. Copy the master tak haram kan? Lagipula inilah program yang diharapkan menjadi embrio sentra aktivitas kesekretariatan FLP DKI—juga mengupayakan kembali mendapat tempat pertemuan mingguan di TIM Jakarta–agar lebih berarti dan progresif. Lokasi pun sudah disiapkan di daerah Semper, Jakarta Utara. Bu Tuti Krisan yang pakar psikologi anak sekaligus pemilik TK di daerah tersebut—yang ketempatan sebagai bakal lokasi–bersedia diamanahi sebagai penanggung jawab kegiatan. Diawali dengan bismillah, insya Allah lancar dan berkah. Amien.

Dengan adanya Posko Baca—atau apapun namanya kelak—yang berada langsung di bawah FLP DKI juga diharapkan kegiatan dana usaha dapat lebih lancar. Salah satu gebrakan yang rencananya akan ditindaklanjuti adalah pembuatan kaus FLP yang pada Milad 10 FLP Pusat sempat menghebohkan delegasi FLP lain. Ide cemerlang Abdurrahman (Muda, Lingkarpena- 8) yang akrab dipanggil Gus Dur ini siap dikembangkan dengan memperluas kerjasama dengan FLP-FLP cabang yang lain. Dengan jaringan produsen kaus yang dimilikinya, sang ustadz muda lulusan IAIN Jakarta ini optimis dapat memproduksi kaus FLP dalam jumlah besar. “Insya Allah kita sanggup jika terbuka kemungkinan FLP Pusat mau memesan,” ujar Gus Dur yang juga aktif sebagai penceramah dan khotib jumat di masjid-masjid wilayah Cakung, Jakarta Timur.

Ya, optimisme seperti inilah yang menjadi ciri program-program kepengurusan FLP DKI Periode 2007-2008 ini. Mulai dari aksi Gemar Membaca secara massal bertajuk Jakarta Membaca, FLP On The Mall, Writing Camp, program kakak mentor dll. Jika tak ada optimisme dan cinta tentu tak bakal ada semangat untuk mewujudkannya.

 

Ahad, 4 Maret 2007. Rapat lanjutan yang dimulai pada pukul 09.30 WIB—sebelumnya didahului acara cari sarapan dan jalan-jalan di alun-alun Rangkasbitung yang ramai–dan mengagendakan presentasi divisi Kaderisasi, Pramuda, Muda/Madya dan Event Organizer berakhir pada pukul 13.00 WIB. Rapat yang dipandu Salam ini sengaja dipangkas agar lebih efektif dan efisien demi mengejar waktu keberangkatan KRD Rangkasbitung- Jakarta pada pukul 14.15 WIB. Sebab jika telat alamat tak kebagian tempat duduk dan harus menunggu sampai pukul 15.35 pada pemberangkatan kereta berikutnya. Itu jika tidak terlambat. Sementara perjalanan dengan KRD sendiri butuh waktu 4 jam. Tentu akan sangat sedikit waktu istirahat bagi para pengurus FLP DKI yang mayoritas karyawan dan mahasiswa untuk kembali beraktivitas pada hari Senin.

Pukul 18.00 WIB kami tiba di Stasiun Kota. Jakarta, here we come ! Sebagian (Dala dan Wahyudin) sudah turun di Stasiun Pondok Ranji. Dari Kota, Billy Antoro, Ervan Joniawan (sekjen), Meli, dan Gus Dur melanjutkan perjalanan pulang dengan busway dan angkutan umum. Salam dan Echa, karena sama-sama berdomisili di dekat jalur KRL yakni Manggarai dan Kalibata, memutuskan naik KRL ke arah Pasar Minggu.

Ah, puas sudah berangkat berdesak-desakan di bus menuju Rangkasbitung selama 3,5 jam; rapat maraton sepuluh jam dengan hanya tidur 2-3 jam, dan empat jam terhimpit-himpit dalam perjalanan pulang di kereta diesel yang merayap bak siput dengan kepadatan penumpang yang mengerikan dan kotornya gerbong yang tak manusiawi ( wong tiketnya aja Rp 2000!). Yah, demi cinta, apapun dijalani, ya to? Cinta kepada FLP dan cinta kepada tujuan mulia yang melatarbelakangi berdirinya organisasi penulis yang merupakan “anugerah Tuhan bagi Indonesia” ini.

 

9 Maret 2007

* Artikel ini ditulis oleh Nursalam A.R