Spread the love

Sudah dibaca 1029 kali

SBY dan Jokowi sama-sama pemimpin. Yang satu pemimpin negara alias presiden, satu lagi pemimpin provinsi atau gubernur. Dua-duanya punya kewenangan untuk mengatur lembaga dan institusi yang dibawahinya.

Namun ada perbedaan mencolok terkait gaya kepemimpinan keduanya. SBY cenderung mengandalkan kemampuan bawahannya, mendorong mereka agar bekerja secara maksimal. Sementara Jokowi tipe pejuang (fighter) yang langsung turun ke lapangan menyelesaikan persoalan. Namun sebelum terjun ke lapangan, yang biasanya ditemani bawahannya, ia memegang data ihwal persoalan daerah yang dikunjunginya.

Gaya kepemimpinan SBY nyatanya tidak efektif. Bawahannya malah kadang berseteru antarinstansi. Misalnya kasus yang melibatkan Polri dan KPK, yaitu “Cicak Vs Buaya” dan kasus korupsi simulator SIM. Atau antara Polri dan TNI. SBY selalu berdalih tidak ingin melakukan intervensi hukum.

SBY berharap para pucuk pimpinan lembaga tersebut bersikap profesional, dewasa dalam bertindak. Namun nyatanya lembaga-lembaga tersebut belum mampu melakukannya. Mereka masih butuh instruksi dari atasan untuk bergerak.

Sebaliknya Jokowi, yang sangat mengerti watak birokrasi korup Jakarta (juga di mana-mana), tanpa kompromi melakukan hal-hal yang dianggapnya melakukan perubahan. Ia mengungkap kebusukan birokrasi dan layanan publik yang diperdagangkan. Wakilnya, Ahok, juga tanpa tedeng aling-aling membabat orang dan kelompok yang berani menghambat kerja-kerjanya—misalnya calo-calo di Rumah Susun Marunda.

Sebaiknya SBY mencontoh gaya kepemimpinan Jokowi. Ia tak perlu sungkan turun ke lapangan dan memberikan solusi persoalan yang tengah merundung lembaga bawahannya. Persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang akut di negeri ini tak bisa diselesaikan dengan gaya kepemimpinan seperti itu.

 Jakarta, 13 Mei 2013.