Spread the love

Sudah dibaca 933 kali

Wahai…anakku tersayang

Dengarkanlah pesan ibu

Mungkin ini saat terakhir ibu

Bisa memelukmu

Bisa menyentuhmu

 

Sholeh…lah dirimu

Slalu do’akan kedua orangtuamu

Tulus engkau dalam fikir dan laku

Agar arif dirimu

Agar mulya jiwamu

Anakku…

 

Air mata saya berderai saat kali pertama mendengar lagu ini. Lagu yang membuat saya menanyakan kembali keberadaan sosok ibu di hati saya. Ibu yang selama ini merawat dan membesarkan saya dengan segala kasih sayang dan omelannya. Ibu yang mengipasi saya saat saya terbaring lemah menahan sakit. Ibu yang kapanpun bersedia mendengar keluh kesah saya. Ibu yang memijiti tubuh saya kala badan ini pegal dan lemah. Ibu yang mengeroki saya waktu tubuh masuk angin. Ibu yang memarahi saya ketika saya tidak melakukan tugas. Ibu yang…oh ibu, engkau begitu hebat membesarkanku!

Lagu ini berjudul ‘Pesan Ibu’ ciptaan Fani dan Iwan, dinyanyikan oleh Yekti. Masuk dalam kompilasi video CD Lagu-Lagu Anak Akhlak Qurani yang dikeluarkan oleh PT. Edukasi Setara Dunia. Saya mendapatkannya saat acara Pameran Pendidikan di Aula Gedung A Departemen Pendidikan Nasional, Senayan, Jakarta, pertengahan Agustus lampau. Empat CD lain yang saya beli juga berkaitan dengan doa dan pelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak yang dikemas dalam bentuk lagu dan film animasi.

Pagi ini, usai mengantar adik berangkat kerja, tiba-tiba hati saya rindu untuk mendengarkan lagu ini kembali. Dan saya menyetelnya lagi. Sendiri.

Lagu Pesan Ibu dibuat dua versi. Versi pertama berupa lagu dan animasi yang menampilkan seorang siswi SD duduk di sebuah bangku taman. Airmatanya bercucuran. Tampilan gambar dibagi dua; sebelah kanan sang siswi, sebelah kiri teks tertulis lagu ini.

Versi kedua lebih lengkap. Punya cerita. Sang siswi tiba-tiba merasakan betapa sulitnya menjadi ibu. Sosok yang begitu repot mengurus dan membesarkannya, serta mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kebaikan anaknya.

Siswi berjalan dan sepanjang jalan menyesali perbuatannya. Ia duduk di bangku taman. Merenungi kesalahannya. Airmatanya berlinang. Lagu mengalun syahdu.

Sang ibu datang dengan khawatir. Telah sekian lama ia mencari anaknya. Sang anak, masih dengan airmata menganak-sungai, segera menghambur lalu memeluk ibunya. Ibu minta maaf karena tidak bisa membelikan kostum dan ia akan menjual mesin jahitnya. Anak menolaknya. Ia tidak ingin mesin jahit itu dijual. Ia minta maaf lantaran memaksa ibunya untuk membelikan pakaian baru. Sang ibu berkeras. Si anak berucap biarlah ia memakai baju kakaknya yang masih tampak baru. Keduanya meninggalkan taman. Begitu mengharukan.

Lagu ini ditutup dengan mengutip ayat Al-Qur’an yang berisi doa anak kepada kedua orangtuanya.

Di antara mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia adalah kasih sayang tulus ke hati seorang ibu. Disemayamkannya rasa tersebut ke dalam hati, yang bisa dirunut mulai dari proses mengandung, bersalin, dan membesarkan anak. Sembilan bulan ibu kepayahan. Tidak nyaman lantaran perubahan hormon tubuhnya; mual-mual, muntah, ngidam. Tidur tak nyaman. Makan tak nyaman. Apa-apa tak nyaman.

Setelah anak besar, belum tentu sang anak mengingat apa yang telah dilakukan ibunya. Mereka membantahnya, melukai hatinya, menelantarkannya. Seakan anak tidak peduli darah dan daging yang menyusun tubuhnya terbentuk dari kasih sayang seorang ibu. Otak, kaki, tangan serta seluruh panca indra yang menjadikannya manusia, merupakan rangka-rangka doa yang terpanjat sepanjang masa. Pakaian, celana, dan asesorisnya, merupakan perasan keringat dan sabungan nyawa. Anak lupa, kampung halamannya adalah rahim ibunya.

Maka jangan biarkan ibumu sedih karena tutur katamu. Jangan biarkan ia menangis lantaran kecewa pada perilakumu. Jangan biarkan ia gelisah sebab kamu tak berada dalam jangkauan matanya. Kalau demikian, usaplah airmatanya. Ciumlah punggung tangannya. Lalu ulaskan senyum termanis di hadapannya.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 3 September 2009. 08.35 WIB.