Spread the love

Sudah dibaca 716 kali

“Sangat inspiratif!” Memet berkata seperti orang yang baru dapat pencerahan. Ia meletakkan koran ke atas meja dan mengawangkan pandang.

“Ada apa, Met? Ada ide menarik untuk melarikan diri dari sini?”

Ucapan Cepi membuat Memet makin bersemangat. Namun kemudian wajahnya sayu.

“Seharusnya ini kita lakukan sebelum masuk sini, Cep.”

“Tak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang membuat kita menjadi orang hebat, kawan!”

“Tapi itu tidak mungkin. Kita mestinya melakukannya sebelum di sini. Kita terlambat menyadarinya.”

“Kalau kita fokus pada tujuan, tak akan lama kita menggapainya.”

“Terlambat. Sudah terlambat.”

Cepi termangu-mangu. Ia menggaruk-garuk pipinya dengan pandang dungu. “Ini kita sedang membicarakan apa ya?”

Memet mendesah. “Soal buronan mantan Kabareskrim Polri Komjen SD. Ia menolak dieksekusi, kabur, lalu muncul di laman Youtube. Ini tentu memberi inspirasi bagi siapapun calon terhukum untuk mencontohnya.”

“Main kucing-kucingan dengan aparat penegak hukum. Ironis juga. Buronan ini juga pernah jadi polisi, pernah menangkapi penjahat. Citra Polri makin terjun bebas di mata masyarakat.”

“Siapa yang peduli soal citra? Tak usah pikirkan Polri. Makin hancur citra Polri di mata masyarakat, keberadaan kita akan makin kuat. Bahkan, kita harus mendukung pemburukan citra itu.”

“Kita bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menghancurkan institusi Polri?”

Memet mengangguk mantap. “Sebenarnya tak direncanakan pun sudah terjadi. Koruptor macam kita terus main saja dalam ranah suap-menyuap. Toh moral aparat mudah digoyang oleh yang namanya duit.”

“Soal suap menyuap, otakmu encer amat, Met.”

“Pengusaha macam aku, bagaimana bisa keluar dari jerat suap menyuap? Mau buka usaha, dipungli. Dimintai duit terang-terangan oleh aparat dan pejabat daerah. Dasar tak tahu malu!” Memet sewot mengingat masa lalunya. Ia masih menyalahkan sistem korup dan aparat brengsek yang menjeratnya menjadi pengusaha korup dan ahli suap.

“Sudahlah, tak perlu kau sesali. Orang macam kita tak akan dibiarkan jadi bangkai di sini. Selama masih pegang banyak duit, kita tetap bisa hidup makmur di negeri ini.” Sebenarnya Memet menghibur diri saja. Batinnya menjerit.

“Kau sendiri mengerti kasus SD?”

Cepi menggeleng. “Setahu saya, dialah orang yang kata-katanya membuat aparat dan pengusaha brengsek masuk penjara. PNS korup dari Ditjen Pajak GT, kan, dia yang mengungkap. Jadi, SD dimusuhi banyak pejabat korup.”

“Kita cuma mengerti satu hal: hukum sulit dimengerti jika yang terjerat aparat penegak hukum.”

“Tapi SD sudah tertangkap, Met. Maksudku, menyerahkan diri.”

“Itu sudah tidak penting lagi, Cep. Yang terpenting, bagi kita, adalah inspirasi untuk kabur dari jerat hukum.” Memet manggut-manggut. Otaknya berpikir keras untuk merencanakan sebuah pelarian.

“Sepertinya hukuman bagi buronan dengan yang tidak buron sama, ya? Koruptor kasus Wisma Atlet yang mantan bendahara umum partai berkuasa MN, tidak berat-berat amat hukumannya. Lalu NN, istri mantan Wakapolri AD, juga dihukum ringan. Aku yakin, setelah kasus SD, akan makin banyak penjahat yang berani jadi buronan.”

“Kan sudah kukatakan,” ucapan Memet begitu meyakinkan, “SD ini seorang inspirator!”

“Andai hukuman antara buronan dan bukan buron dibedakan, misalnya yang buron ditambah hukuman kerja sosial, orang tak akan berani jadi buronan.”

Memet agak bingung dengan ucapan Cepi. “Kerja sosial? Hukum positif negara kita tak mengenal kerja sosial.”

“Itulah kelemahan hukum di negeri ini!” Cepi berkata seolah seorang pakar hukum. “Tidak kreatif dan inovatif! Monoton! Hukuman cuma satu: penjara. Coba, kalau buronan juga dihukum kerja sosial selama setahun, misalnya jadi pelayan di rumah sakit jiwa, tukang masak di panti jompo, atau pembersih taman makam pahlawan, tak ada yang berani jadi buronan. Percaya aku, Met!”

Memet mengagumi ide brilian Cepi. Ia sendiri tak pernah memikirkan itu sebelumnya. “Tapi ide itu mustahil diberlakukan di negeri ini, Cep. Buronan dan bukan buronan ya sama hukumannya.”

“Kalau hal ini terjadi terus menerus, masyarakat tak percaya lagi dengan hukum negeri ini. Kalau tidak segera muncul pemimpin yang kuat dan tegas, negeri ini makin hancur berkeping-keping. Akhir-akhir ini kita merasakan bahwa negeri ini seperti berjalan sendiri alias autopilot.”

Memet merajuk. Sebenarnya ia iri kata-kata Cepi kali ini terdengar lebih intelek. “Cara bicaramu seperti seorang negarawan, Cep, sok memikirkan nasib rakyat.”

“Ah, cuma bicara begini saja dibilang negarawan.” Merasa tersanjung, Cepi refleks mencubit perut Memet. Memet menggelinjang. Cepi ketagihan. Ia terus memburu perut Memet dan mencubitinya.

“Hentikan, Cep! Apa-apan ini?” Memet berkata sambil menghindar.

Cepi tak peduli. Ia terus mengejar Memet. Gemas. Mereka berkejaran di ruangan sel itu seperti anak kecil. Petugas jaga yang melihat mereka geleng-geleng kepala lalu pergi. Prihatin.

“Cep, kubilang hentikan! Cep! Aw! Aw! Aw!”*

 

Jakarta, 1 Mei 2013.