Spread the love

Sudah dibaca 1365 kali

Kelas Inspirasi

Berbagi dengan para siswa relawan literasi sungguh sebuah kehormatan. Kamis siang, 13 Oktober 2016, saya berkesempatan berbagi ilmu dan wawasan dengan para Duta Baca dan Duta Literasi SMA Negeri 4 Pekanbaru, Riau. Acara itu bernama Kelas Inspirasi.

Saya hadir di acara tersebut atas permintaan Bu Nurhafni, Kepala SMAN 4 Pekanbaru, saat saya menyambangi sekolah itu sehari sebelumnya. Ya, Rabu, 12 Oktober 2016, saya menyambangi sekolah di kawasan Kompleks AURI untuk “belajar” mengenai literasi kepada Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015 itu.

Rabu pagi, sebelum berangkat, saya belum punya ide format penyampaian seperti apa yang hendak saya gunakan saat beri materi. Saya diminta memberi motivasi mengenai membaca sementara saya biasa memberi materi tentang motivasi menulis.

Ajaib, saat saya memandang buku merah berjudul Self Driving karya Rhenald Kasali yang menemani saya terbang ke Riau, ide itu muncul. Beberapa hari ini, gara-gara baca buku ahli manajemen itu, semangat berubah dalam diri saya membara. Dan, materi yang saya sampaikan dalam Kelas Inspirasi, sebagian terinspirasi dari buku itu.

Saya belum pernah menggunakan cara ini sebelumnya. Ketika dipersilakan moderator Bu Sefrida, guru Bahasa Indonesia, untuk bicara, saya berdiri, berjalan ke depan kelas, lalu membaca puisi. Judulnya Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono. Sengaja sajak ini dipilih karena banyak sekali kata “palsu” terkandung di dalamnya. Saya ajak siswa ikut baca dengan menggumamkan kata “palsu” bersama-sama—belakangan, kata “palsu” jadi semacam penyedap dalam interaksi kami.

Usai baca Sajak Palsu, saya menjelaskan situasi Indonesia yang melatarbelakangi lahirnya puisi yang ditulis pada 1998 itu. Suatu masa ketika degradasi moral bangsa mengalami antiklimaks dan meletus dalam krisis ekonomi yang melengserkan Presiden Soeharto.

Saya kemudian bercerita tentang kehidupan masa kecil Agus. Tiap masa libur tiba, guru selalu memberi tugas: ceritakan peristiwa liburan saat berkunjung ke rumah nenek. Tugas tahunan itu selalu membuat Agus kecil bingung. Ia punya nenek, tapi rumahnya tidak di desa. Tiap hari ia bertemu dengannya karena nenek tinggal di dekat rumahnya. Lagi pula, Agus selalu ditugaskan menjaga toko oleh ayahnya.

Saat masuk sekolah, semua teman bercerita tentang wisata bersama nenek di berbagai tempat. Namun, walaupun Agus tidak ke mana-mana, ceritanya membuat seisi kelas terpukau. Ia bercerita tentang berbagai tempat di dunia dengan detail. Lho, bagaimana caranya? Tentu saja bisa, sebab sambil menjaga toko, Agus kecil membaca buku yang dipinjamnya di perpustakaan.

Saya kemudian bercerita tentang dahsyatnya buku bagi perubahan pribadi seseorang. Lalu berganti topik mengenai saudara kandung membaca: menulis. Bagaimanapun membaca tak lepas dari menulis. Otak yang terus diisi dengan ilmu dan wawasan butuh disalurkan kalau tidak ingin meledak. Caranya ya dengan menulis.

Menulis bisa di media apa saja: buku diari, blog, mading, atau media massa. Tulislah sesuatu yang dekat dan kita tahu.

Saat sesi tanya-jawab, beberapa siswa bertanya. Saya menjawab singkat-singkat saja karena ingin banyak mendengar pengalaman siswa.

Bu Nurhafni datang, mengingatkan saya bahwa jam 12.00 telah lewat. Artinya saya harus segera pergi ke bandara. Jam terbang 12.55.

Melalui Kelas Inspirasi, saya melihat bukti bahwa siswa dapat pula menjadi lokomotif dalam Gerakan Literasi Sekolah. Bu Nurhafni menunjukkan bagaimana melibatkan siswa dalam gerakan ini.

Duta Baca adalah siswa-siswi yang betugas menjaga pojok literasi. Ada beberapa pojok literasi, berupa rak buku, yang diletakkan di sejumlah tempat nyaman membaca seperti taman.

Sedangkan Duta Literasi adalah siswa-siswi yang bertugas menjaga rak buku yang terletak di depan ruang kelas. Mereka melayani siswa yang ingin membaca dan meminjam buku ketika jam istirahat tiba.

Kelas Inspirasi memberi saya inspirasi bahwa GLS akan terus berkembang jika melibatkan secara aktif dan riil siswa, guru, dan orang tua dalam kegiatan bersama. Ini sebuah gerakan, maka semua harus bergerak!

Jakarta, 14 Oktober 2016