Spread the love

Sudah dibaca 858 kali

Kirana
Kirana

Jumat malam (13/11/2015) itu begitu hidup. Saya duduk di atas tikar bambu di ruang tengah. Kirana, anak saya, mondar-mandir sembari bercerita. Kadang ia berlenggak-lenggok, mengitari saya, atau duduk di hadapan saya. Ia tampak begitu menikmatinya.

Ada beberapa dongeng yang dia sampaikan—saya hanya sempat merekam empat dongeng dengan telepon seluler. Semuanya kisah tentang tokoh binatang di film serial Pada Zaman Dahulu yang saban pagi ia tonton di sebuah stasiun televisi swasta.

Ada kisah Kuda dan Keledai, Gurita dan Ikan Badut, Burung dan Kucing, dan Kelinci dan Singa. Jangan kira ia bercerita dengan lancar dan sesuai logika. Sebab Kirana belum genap berusia 4 tahun. Saya hanya ingin mendengar ia bercerita dan tak memusingkan apapun yang dia sampaikan.

Salah satu cerita yang membuat saya geli adalah ketika ia mendongeng Gurita dan Ikan Badut. Satu adegan yang membuat saya menahan tawa adalah ketika tokoh gurita memberikan pisang kepada monyet. Bagaimana caranya gurita yang tinggal di laut pergi ke hutan mencari pisang lalu memberikannya ke monyet?

Lagi-lagi itu tak masalah buat saya. Saya tak pernah keberatan dengan apa yang dia sampaikan. Dia bebas mencari tema, menentukan dan memainkan tokoh, dan menyelesaikannya di adegan apapun yang dia suka. Dia adalah raja bagi cerita-ceritanya. Saya rakyatnya saja yang duduk manis di hadapannya, yang menyuguhkan secangkir pujian hangat atas senampan cerita yang dia sajikan.

Sebelum memulai cerita, saya meletakkan di atas tikar bambu satu Majalah Sastra Horison edisi November 2015 pemberian sastrawan Taufiq Ismail, novel Clown Terror pemberian penulis remaja Sherina Salsabila, antologi cerpen Kakek Misterius dan novel Misteri Gadis Mangga pemberian penulis belia berbakat Bintang Nurul Hidayati—semua saya dapatkan saat meliput Workshop/Penjurian Finalis Lomba Menulis Cerita di Bogor, Jawa Barat (10-13/11/2015). Kirana tertarik pada novel Misteri Gadis Mangga. Saya membacakan beberapa halaman yang memuat gambar di novel itu.

Mungkin Kirana terpicu untuk mendongeng usai mendengar beberapa penggal halaman novel yang saya bacakan. Imajinasinya kemudian mengembang. Liar. Saya menawarkan apakah ia mau mendongeng buat saya. Dan ia mengiyakan.

Saya dan istri kerap mendongeng menjelang Kirana tidur malam. Rata-rata tentang binatang. Saya selalu menawarkan kepadanya tokoh apa yang ingin didongengkan. Saat itu juga saya mendongeng dengan cerita yang bahkan belum pernah terpikir sebelumnya. Toh ia pun tak pernah protes dengan cerita yang saya sampaikan.

Kadang saya memintanya untuk gantian mendongeng. Pakai tokoh apa saja dan cerita semaunya. Pernah, beberapa jam sebelum ia ulang tahun ke-3, ia mengajak saya ke tempat tidur. Lalu, tak disangka, ia mendongeng! Padahal saya tidak memintanya. Sejak itu saya berkeyakinan ia punya kecerdasan linguistik: ia tak hanya mendengarkan, tetapi juga bisa bercerita.

Suatu hari, ingin sekali saya mengajaknya menyaksikan pertunjukan dongeng, baca puisi, baca cerpen, drama, atau kegiatan seni lainnya. Saya ingin ia menyaksikan bagaimana seniman atau artis melakukan pertunjukan. Ia perlu pengalaman. Suatu hari. Semoga.

Bandung, 15 November 2015