Spread the love

Sudah dibaca 1085 kali

di Pulau Sebatik
Berpose sebelum meninggalkan Pulau Sebatik menuju Pulau Nunukan, Senin (25/5/2009). (kanan-kiri) Katman, Mustofik, Billy, Sudarmadi, Johansyah, Gatot, Hendrawan

Bagaimana Tim Mandikdasmen melakukan asistensi kepada pengelola satuan pendidikan di perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik.

MENTARI Tarakan bersinar terik ketika Katman, Hendrawan, Gatot Subroto, Sudarmadi, dan Mustofik menapaki aspal Bandar Udara Internasional Juwata pada Ahad, 24 Mei 2009. Pesawat boing yang dibawa Kapten Aswin dari Jakarta telah melambungkan mereka ke atas awan dengan ketinggian 35 ribu kaki di atas permukaan laut selama 1 jam 40 menit. Sepanjang pengamatan, tanah Juwata berwarna putih kemerahan, ciri khas tanah lereng gunung. Bandara ini, kata Ali, pemilik travel yang menjemput rombongan, adalah tambak yang diurug tanah lereng.

Tarakan pulau bersejarah. Itu dimulai saat perusahaan minyak Belanda, Bataavishe Petroleum Maatchapij, pada 1896, menemukan sumber minyak di pulau seluas 671,65 Km2 ini. Eksplorasi minyak dimulai. Tenaga kerja didatangkan. Kebanyakan dari Pulau Jawa. Untuk mengamankan hasil tambang, pemerintah Hindia Belanda menempatkan seorang Asisten Residen yang mambawahi lima wilayah; Tarakan, Tanjung Selor, Berau, Malinau, dan Apau Kayan.

Pada awal Januari 1942, ketika Perang Dunia II bergolak, pasukan Jepang mendarat di pulau bagian timur provinsi Kalimantan Timur ini. Tentara Belanda coba bertahan, namun kalah. Mereka membakar ladang-ladang minyak agar Jepang tak menguasainya. Kota Tarakan dilalap api.

Tiga tahun kemudian ribuan pasukan Australia menginvasi Tarakan. Tarakan kembali luluh lantak. Jepang kalah lalu tersingkir. Kendali dikembalikan ke tangan Hindia Belanda, sekutu Australia.

Siang itu Tarakan begitu panas. Dalam perjalanan ke dermaga, Ali bercerita sudah lama hujan tak mengguyur Tarakan. Cuaca panas memaksa rombongan membeli air mineral di warung yang berderet dekat kantor UPTD Lalu lintas Sungai, Danau, dan Penyeberangan Tarakan. Masing-masing menenggak kopi siap minum dalam botol kaleng dingin seharga Rp 9.000.

Mobil yang dikendarai Ali meluncur di atas dermaga beton. Di kanan kiri jalan tampak endapan lumpur basah karena laut sedang surut. Beberapa kapal tertambat di tengah lumpur. Banyak orang berkumpul di dermaga. Bongkar-muat barang. Sebagian berteduh di gazebo gapura. Calon penumpang yang menunggu speedboat.

Speedboat DC 10 Ekspres trayek Nunukan-Tarakan berada di barisan ketiga dari dermaga. Berjalan berdesakan dengan penumpang yang juga naik speedboat cukup merepotkan lantaran tiap orang dalam rombongan membawa tas ransel.

Di dalam speedboat sebagian penumpang sudah duduk di kursi masing-masing. Suasana panas di luar terbawa hingga ke dalam speedboat. Banyak penumpang mandi peluh. Jendela kaca terlalu kecil sehingga udara di dalam speedboat meruapkan panas. Untunglah seorang awak kapal membuka dua ventilasi udara di bagian atas dan mengganjalnya dengan ban sehingga angin laut masuk.

Seorang lelaki bertubuh sedang dengan kaus oblong biru dan jins belel duduk di kursi nakhoda. Bambang, lelaki itu, menghidupkan mesin. Speedboat bermesin tiga melaju menuju Pulau Nunukan.

Speedboat berjalan seperti di atas aspal. Terdengar suara gesekan di bagian dasar kapal. Mungkin terlalu cepat kapal melaju.

Di sepanjang perjalanan yang tampak hamparan air. Pulau-pulau yang ditumbuhi pohon-pohon bakau tampak kecil. Kayu-kayu gelondongan, di beberapa tempat, menumpuk. Sejumlah perahu phinisi berlabuh di pulau yang agak besar.

Berulangkali Bambang menekan-nekan alat penunjuk arah berwarna kuning di tangan kirinya. Alat itu dilengkapi Global Positioning System sebagai pemandu perjalanan. Lintasan jalan kapal kemarin direkam alat ini. Bambang tinggal mengarahkan kemudi kapal mengikuti lintasan jalan.

Pada layar alat, rekaman lintasan jalan berupa garis putus-putus. Speedboat yang ia kendarai bergambar kapal. Tanpa alat tersebut, sulit rasanya menentukan arah dan posisi pulau yang dituju. Terlebih ketika badai menerpa. Tak cukup mengandalkan kompas di depan setir kendali.

Baru tiga bulan Bambang menekuni profesi sebagai nakhoda speedboat. Lelaki Banyumas berusia 31 tahun itu mencoba peruntungan di Tarakan sejak tahun 2002. Ayahnya asli Banyumas dan ibunya Pekanbaru, Riau. Ia lulus tahun 1997 dari Sekolah Teknik Menengah jurusan Elektronika-Informatika di kampungnya, juara kelas, dan akhirnya merasa pendidikannya tidak diperhatikan orangtuanya.

Bambang bekerja apa saja setelah lulus. Ia mengkritik metode guru dalam mengajar, perhatian pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan, dan sulitnya merawat satu anaknya yang berusia 4,5 tahun.

Sepanjang perjalanan, di antara anggota rombongan, hanya Mustofik yang bisa tidur nyenyak. Yang lain bercakap-cakap sembari menikmati embusan angin laut yang masuk di sela-sela jendela. Penumpang sedikit terhibur saat Bambang mengeluarkan salon kecil berbentuk kubus dan mengeluarkan lagu-lagu pop kontemporer.

Mentari masih terik menyengat ketika speedboat merapat di pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Satu setengah jam rombongan bergelut di atas laut dan kini jam menunjuk pukul 14.35 Waktu Indonesia Tengah.

Speedboat merapat pada Mid East Express, sebuah kapal angkut berukuran besar yang tampak eksklusif. Tiba-tiba sejumlah anak kecil yang berdiri di pinggir kapal itu melompat ke badan speedboat, berebut mengeluarkan tas dan perabotan milik penumpang. Benarlah apa yang dikatakan Bambang, bahwa anak-anak sekolah di Nunukan banyak yang giat mencari uang dengan menjadi buruh pelabuhan.

Suasana pelabuhan agak ramai. Bongkar-muat barang. Orang-orang duduk-duduk nyaman di bawah kanopi yang membentang di atas dermaga. Pedagang asongan berderet menjajakan aneka minuman dingin. Di ujung dermaga terdapat pos penjagaan yang dijaga petugas berseragam.

KATMAN, Hendrawan, Gatot Subroto, Sudarmadi, dan Mustofik merupakan tim utusan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Mereka menyambangi Nunukan untuk menindaklanjuti kunjungan sebelumnya pada November 2008 dalam rangka pemberian beasiswa bagi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bersekolah di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia (Sabah).

Mereka akan mengklarifikasi calon penerima beasiswa yang dikelola Ditjen Mandikdasmen Depdiknas, menemui Kepala Sekolah, dan memberikan asistensi mengenai prosedur pengajuan dan pencairan beasiswa.

Rombongan berjalan beriringan menuju Terminal Penumpang Tunon Taka. Di sana telah menunggu sebuah mobil berukuran sedang berstempel Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan. Lelaki tinggi tegap berwajah bulat, Johansyah namanya, menunggu dengan senyum terulas.

Johansyah pengawas sekolah di Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan. Sebelumnya ia Kepala Bidang SD. Telah lama ia bekerja di Nunukan sehingga tahu betul seluk-beluk pulau ini. Selama di Nunukan, dialah yang memandu Tim Mandikdasmen mengunjungi beberapa tempat di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik. Ia sosok yang ramah dan murah senyum.

Mobil berwarna perak bertuliskan ‘Bus Sekolah’ meluncur menuju alun-alun. Bus Sekolah merupakan program angkutan gratis dari Pemerintah Kabupaten Nunukan bagi siswa-siswi SD hingga SMA yang dimulai tahun ini. “Ada empat mobil gratis yang membawa anak-anak sekolah berangkat dan pulang,” kata Johansyah.

Mobil gratis hanya beroperasi saat siswa berangkat dan pulang sekolah. Satu mobil dapat mengangkut sekitar 15 siswa. Angkutan ini meringankan biaya siswa ketimbang naik angkutan umum yang relatif mahal.

Rombongan tiba di Hotel Laura di Jalan Achmad Yani. Hotel sederhana yang kabarnya milik Bupati Abdul Hafid Achmad. Laura nama anaknya.

Saat mendaftar, Gatot bertanya pada seorang pelayan hotel, apa makanan khas Nunukan. Yang ditanya malah bingung. Ia menyebut nama-nama makanan yang ada di Jakarta dan lokasi penjual burger. Di area reservasi hotel itu, tak ada yang tahu makanan khas Nunukan, termasuk resepsionis. “Kayaknya mereka juga bukan orang asli sini,” bisik Gatot. Usai sejenak istirahat di kamar, tim makan siang di samping hotel; warung ikan bakar.

PULAU Nunukan memiliki luas tanah 14.493 km2. Masuk dalam administratif Kecamatan Nunukan, Pulau ini menjadi ibukota Kabupaten Nunukan. Kecamatan lain dalam lingkup Kabupaten Nunukan yaitu Krayan, Krayan Selatan, Lumbis, Sebuku, Sebatik, dan Sebatik Barat.

Nunukan menjadi terkenal karena pada 2003 ribuan pekerja gelap asal Indonesia dideportasi oleh pemerintah Malaysia ke pulau ini. Ketegangan hubungan antara kedua negara segera meruap. Perhatian masyarakat dunia tertuju ke pulau bagian utara Pulau Kalimantan ini.

Malam mulai merayap di langit Nunukan. Jalan Achmad Yani tak sepi oleh lalu-lalang kendaraan roda empat dan roda dua. Lampu-lampu neon bersinar terang dari kios-kios dan warung di kanan-kiri jalan. Salon dan spa berlantai tiga di depan hotel kelihatan penuh pelanggan.

Sementara rumah berpenerangan temaram dengan papan nama bertuliskan ‘Rumah Makan’ mengeluarkan suara musik berdentum-dentum; karaoke pengunjung. Di jalan itu, tepat di depan Hotel Laura, hanya Gereja Gerakan Pentakosta Jemaat ‘Alfa Omega’ yang berdiri tegak dalam sunyi. Tak terpengaruh suara-suara mendesah dari rumah makan di dekatnya yang ‘ditongkrongi’ perempuan-perempuan berpakaian seksi.

Sekilas gereja ini memiliki bentuk bangunan yang unik. Dari depan tampak dinding bangunannya berupa lingkaran yang dibelah oleh segitiga sama kaki. Pinggiran dua bangun datar itu dilapisi batu-batu kerikil berwarna merah kirmizi. Jika bagian ini dipotret lalu dibalik cara melihatnya, akan tampak seperti kepala kucing robot dalam film kartun; matanya berupa dua jendela kaca berbentuk persegi panjang.

Gatot bertanya, apa beda antara Nunukan dan salah satu pojokan Jakarta serta kota-kota besar lain di negeri ini dengan kondisi malam yang sedemikian gemerlap? Di sini warung remang-remang berdiri di beberapa pinggir jalan. Kendaraan roda dua meraung-raung membelah jalan berpenerangan temaram. Beberapa di antara pengendaranya asyik-masyuk dengan pasangan yang duduk manis di jok belakang. Warung-warung makan, pedagang kaki lima, dan kios-kios masih buka hingga tengah malam.

“Mungkin bedanya, di sini letak warung remang-remangnya lebih vulgar ketimbang Jakarta,” seloroh Gatot. Suara karaoke dari ‘Rumah Makan’itu terdengar hingga seberang jalan. Gadis-gadis seksi duduk-duduk di depannya.

Namun, malam itu, anggota tim menghabiskan malam dengan duduk-duduk di gerbang hotel sembari menikmati martabak ketan hitam dan martabak telur beserta air mineral. Tengah malam, masing-masing kembali ke kamar hotel, mempersiapkan perjalanan panjang besok.

GEDUNG putih berbentuk limas itu tampak sesak. Sejumlah barang bertumpukan di dekat pintu masuk dan sepanjang koridor. Kardus-kardus coklat berlakban menumpuk di sisi kanan. Beberapa helm ditaruh di atasnya. Di sisi kiri berjejer kotak besar yang dibungkus karung.

Agak ke dalam, di bagian sisi kanan dan kiri ruangan, terdapat ruang operasional bersekat-sekat dan tampak sempit. Tak ada pendingin ruangan sehingga suasana terasa panas. Hanya kipas angin yang berputar-putar mengusir pengap.

Sekilas gedung itu tak bernama. Sebab papan namanya teronggok di samping gedung. Belum terpasang. Suasana pagi di gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan menjadi lebih panas karena pintu masuknya menghadap ke Timur di mana mentari pagi menyembul.

Menurut Johansyah, ini gedung Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tingkat kecamatan. Untuk sementara Dinas Pendidikan meminjamnya. Gedung yang diperuntukkan bagi Dinas Pendidikan sedang dibangun di sebuah kompleks yang berdekatan dengan gedung dinas lain.

Tim Mandikdasmen masuk gedung dan diterima Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan H. Walijo, S.Pd, M.Si. Ruang kerja Kepala Dinas tepat di ujung koridor. Suasana sama dengan kondisi di luar ruangan: panas.

Dalam diskusi tak kurang dari setengah jam itu, Tim Mandikdasmen menjelaskan maksud kedatangan. Walijo menerima dan minta maaf karena suasana kantornya tidak nyaman. Ia pun tidak bisa menemani Tim lantaran sibuk mempersiapkan diri menerima kedatangan Inspektorat Jenderal Depdiknas besok.

Perjalanan dilanjutkan. Menuju Pulau Sebatik. Johansyah telah mengatur pertemuan antara Tim dengan pengelola pendidikan di pulau tersebut.

DI Negeri Seribu Pulau ini, tak ada pulau seunik Sebatik. Penduduk pulau ini terbagi menjadi dua kewarganegaraan: Indonesia dan Malaysia. Sekitar 30 ribu warga Indonesia menempati lahan di bagian selatan seluas 246,61 Km2, sementara lahan 187,23 Km2 di sebelah utara ditempati warga jiran.

Ditempuh dengan perahu mesin nelayan, Pulau Sebatik hanya sekitar dua puluh menit dari Pulau Nunukan. Pagi itu pukul 09.35 WITA, Tim Mandikdasmen menikmati embusan angin sepoi di sepanjang perjalanan laut. Masing-masing dibekali pelampung oranye sebagai persiapan kalau-kalau perahu terguling.

Tak kelihatan akvititas di sekitar pulau, baik arus perjalanan kapal angkut maupun nelayan. Yang ada sunyi dan riuh mesin perahu. Bila disusuri seorang diri pastilah membuat jenuh.

Tiba di dermaga sederhana milik nelayan, pemandangan yang segera muncul adalah kekumuhan. Mungkin sebaiknya datang saat air pasang sehingga lumpur-lumpur yang memenuhi dasar dermaga dan rumah panggung tak terlihat. Jalanan yang dipijak pun lunak kendati mentari masih setia terik menyengat.

Beberapa warga penghuni rumah tampak heran melihat kedatangan Tim Mandikasmen yang melintas di samping rumah mereka. Tim berjalan di atas tanah berlumpur menuju mobil Mitsubishi Kuda bernomor polisi KT 2730 S. Seorang sopir travel telah menunggu.

Jalanan di Pulau Sebatik tak ramah bagi ban kendaraan jenis apa saja. Jalannya berbatu dan aspalnya banyak yang rusak. Menurut sopir, kondisi ini lebih baik ketimbang setahun lalu yang belum semua diaspal. Lalu apa yang membuat jalanan rusak? Lalu lintas truk pengangkut, katanya.

Selain rusak, medan perjalanan yang ditempuh cukup berat. Naik-turun bukit. Pemandangannya pun tak bagus-bagus amat. Sepanjang perjalanan yang tampak dominan adalah ilalang, lahan kosong, pohon nyiur dan cokelat. Rumah penduduk jarang terlihat. Duduk berimpitan di dalam mobil di tengah perjalanan terik dengan lintasan buruk seperti dimasak dalam oven bersuhu 100 derajat celcius.

Mobil terus melaju ke arah utara. Pukul 10.40, mobil meluncur di tengah jalan Desa Tanjungkarang, Sebatik Induk (Sebatik). Di sinilah pusat aktivitas pemerintahan Kecamatan Sebatik. Kanan-kiri jalan ditumbuhi pohon nyiur, pisang, dan cokelat.

Tiba-tiba sopir menghentikan mobil. Ia turun dan memeriksa ban. Ban belakang bagian kiri kempes. Bocor. Rombongan terpaksa turun.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung. Di Pulau Sebatik, rata-rata rumah penduduknya berdiri di atas pilar kayu setinggi sekitar tiga meter. Rumahnya besar dan memanjang. Terbuat dari kayu besi.

Melihat rombongan keluar dari mobil, Demangawin, pemilik rumah yang tengah duduk santai di serambi rumah, turun. Ia lelaki tinggi, berkulit gelap, dan tampak ramah. Ia menyalami Tim dan mempersilakan mereka untuk beristirahat di serambi. Istrinya cekatan mempersiapkan kursi plastik sementara ia turun menenteng golok. Tak lama kemudian ia kembali sembari membawa beberapa buah kelapa dari kebun di belakang rumahnya.

Di luar suasana begitu panas, namun dari serambi itu udara terasa sejuk. Angin berembus semilir dari pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumah. Ketika baskom besar berisi es kelapa terhidang, suasana ceria tambah meruap. Semua anggota Tim memegang gelas besar dan bergiliran memasukkan es kelapa ke dalam gelas. Dan, tak ada yang menyangkal, es kelapa racikan istri Demangawin sangat enak. Campuran jeruk nipis begitu terasa menggelitik tenggorokan. Sambil ngobrol, beberapa orang tambah minum lima, enam, hingga tujuh kali.

Demawangin bekas Kepala Desa. Ia punya seorang anak perempuan yang kuliah di Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, ambil jurusan Matematika. Mata pencaharian penduduk Sebatik, katanya, terbagi dalam tiga jenis: berbisnis, nelayan, bertani. Berbisnis yaitu membeli hasil pertanian penduduk dan menjualnya ke Malaysia. Produk pertanian yang diolah oleh penduduk seperti kelapa, kakao (cokelat), dan pisang.

Penduduk Sebatik menggunakan dua mata uang: Rupiah dan Ringgit. Hal demikian terjadi lantaran Ringgit banyak beredar akibat transaksi yang banyak dilakukan di Malaysia. Apalagi nilai tukar Malaysia relatif tinggi. 1 Ringgit setara dengan Rp 2.900.

Banyak penduduk memilih menjual hasil pertaniannya ke Malaysia ketimbang ke Nunukan atau kawasan Indonesia lainnya, baik melalui jalur darat (lewat perbatasan) maupun jalur laut (ke kota Tawau, Sabah). Ini dilakukan lebih karena faktor geografis: mereka lebih dekat ke Malaysia.

Dekatnya jarak juga berpengaruh pada peredaran barang. Banyak sekali barang kebutuhan sehari-hari, seperti beras, gula, dan minyak, berasal dari Malaysia. “Di sini mayoritas orang Bugis,” kata Demawangin. Ada juga orang Jawa, tapi tidak dominan.

Pukul 11.25 rombongan berpamitan dengan keluarga Demawangin. Ban mobil yang bocor telah diganti sopir. Namun ia masih khawatir dengan ban mobil lainnya. Ia mencari bengkel ban di sepanjang perjalanan.

Dua puluh menit kemudian mobil merapat di sebuah bengkel ban. Kompresor dinyalakan. Ban diisi angin. Namun, tak berapa lama….”Dar!” Ban mobil sebelah kanan bagian belakang meledak. Pecah.

Terpaksa rombongan kembali menunggu. Sopir menelepon temannya. Langit tak menunjukkan tanda-tanda akan hujan karena awan begitu putih. Rombongan menyeberang jalan, berteduh di bawah pohon cempedak.

Pukul 12.05 rombongan kembali berangkat. Kali ini menggunakan mobil lain, Kijang bernomor polisi KT2615S. Perjalanan masih menempuh lintasan yang tidak nyaman.

Sepuluh menit berselang. Mobil berhenti di depan Sekolah Dasar Negeri 001 Sebatik di Desa Sungai Nyamuk. Rombongan memasuki sekolah dan disambut beberapa guru. Kebetulan jam belajar sudah selesai. Murid-murid sudah pada pulang. Kepala Sekolah, Halipardi, sedang keluar, melayat seorang siswa yang meninggal dunia.

Oleh beberapa guru, Tim dipersilakan memasuki ruangan kelas VA. Ruangan ini bersebelahan dengan ruang guru. Satu per satu kepala sekolah dan pengurus sekolah di Pulau Sebatik berdatangan. Beberapa pelajar berseragam merah-putih, biru-putih, dan abu-abu-putih juga masuk. Tim Mandikdasmen duduk di depan kelas, memulai asistensi.

NUNUKAN dan Sebatik merupakan dua pulau yang dekat dengan Malaysia, negara tujuan ribuan TKI menggantungkan hidup. Faktor geografis ini menjadikan keduanya sebagai tempat transit para pekerja untuk membuat atau memperpanjang dokumen kerja. Berbagai etnis dari belahan Indonesia bagian Barat, Timur, dan Tengah ada di sini.

Unsur kedekatan ini membuat sebagian TKI bermukim di Nunukan dan Sebatik. Seminggu dalam sebulan, ketika para majikan membolehkan pekerjanya mengambil libur, mereka pulang ke rumah masing-masing untuk berkumpul dengan keluarga. Selalu ada harapan keluarga yang ditinggal dibawakan segepok uang atau barang kebutuhan produk negeri jiran.

Namun, seolah menafikan anggapan umum bahwa gaji TKI besar, kehidupan keluarga TKI cukup memprihatinkan. Menurut Hendrawan, yang sebelumnya pernah ke Nunukan dan mengkaji tentang TKI, rata-rata gaji TKI 300 ringgit per bulan. Yang beruntung, artinya TKI legal, digaji per bulan 1.000 ringgit. Dengan asumsi gaji per bulan 300 Ringgit, bila dirupiahkan berarti dalam sebulan mereka mengantungi uang kurang-lebih Rp 900.000.

Tapi uang sebesar itu tak utuh mereka nikmati. “Di sana banyak pungutan,” ujar Hendrawan. Bagi pekerja ilegal, pungutan liar makin mencekik karena dilakukan oleh mandor perkebunan. “Justru karena tidak resmi itu gaji mereka ditekan.”

Siska Ghodlif dan Laura Ghodlif saudara kembar. Kelas 5 di SD Negeri 002 Nunukan. Ayah mereka bekerja di bengkel mobil di Tawau. Kendati tiap bulan ayah mereka pulang, namun selalu saja keluarga mereka kekurangan beras. “Menyesal ayah kerjanya jauh,” keluh mereka dalam sebuah wawancara, Senin 25 Mei.

Teman sekelas mereka, Siti Mariam, tak  jauh beda nasibnya. Gaji bulanan ayahnya yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Tawau tak kunjung membuat keluarganya sejahtera.

Gambaran riil kondisi keluarga TKI ini seakan mengikis stereotip masyarakat bahwa TKI pasti beruang banyak. Yang benar, status TKI tak sanggup menghapus stempel miskin di kening mereka. Dan, jumlah mereka cukup banyak di Nunukan dan Sebatik.

Kondisi demikian pasti berimbas pada pendidikan anak. Kendati mereka tidak membayar iuran sekolah lantaran program sekolah gratis telah berjalan, namun biaya lain yang bersifat personal seperti transportasi, seragam sekolah, dan peralatan belajar berpengaruh pada kondisi keuangan keluarga. Umumnya keluarga miskin lebih memilih mengorbankan pendidikan anak untuk menutupi pengeluaran yang lain.

Maka perlu perhatian khusus terhadap pendidikan anak-anak TKI. Mereka perlu diberi beasiswa. Dan, Departemen Pendidikan Nasional melalui Ditjen Mandikdasmen melakukan hal demikian lewat program Penyaluran dan Pemanfaatan Subsidi Beasiswa Peningkatan Mutu Pendidikan Anak TKI Sabah di Wilayah Perbatasan.

Di Kecamatan Nunukan ada 21 sekolah yang terdaftar sebagai calon penerima beasiswa. Sedangkan di Kecamatan Sebatik dan Sebatik Barat ada 26 sekolah. Total calon penerima beasiswa sekitar 1.300 siswa. Mereka siswa yang duduk di bangku SD dan sederajat hingga SMA dan sederajat baik negeri maupun swasta.

Tiap anak dijenjang pendidikan dasar (SD-SMP dan sederajat) menerima beasiswa sebesar Rp 50.000 per bulan. Sedangkan tiap siswa SMA dan sederajat menerima Rp 75.000 per bulan.

KETIKA Armin Mustapa menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, keprihatinan selalu menyelimuti benaknya kala mengetahui kondisi anak-anak TKI di Sabah, Malaysia. Dan hingga kini perasaan yang sama tetap menggelayuti hatinya.

Di Malaysia terdapat hampir 74.000 anak usia sekolah tanpa kewarganegaraan. Identitas ilegal tersebut membuat mereka tidak bisa menuntut ilmu di sekolah-sekolah negeri Malaysia. Pemerintah Malaysia menyubsidi Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar) dan melarang orang-orang selain warga negaranya mengenyam pendidikan di sekolah itu. Pemerintah Malaysia hanya membolehkan mereka belajar di sekolah swasta yang biaya per bulannya mencapai 200 Ringgit. Setara dengan upah bulanan buruh penombak sawit.

Dengan upah sekitar 7 ringgit per hari,  yang tak cukup untuk biaya makan, para orangtua terpaksa tidak menyekolahkan anak-anaknya. Akhirnya, tanpa pilihan lain, anak-anak usia sekolah itu menjadi pekerja, membantu orangtua memunguti biji sawit yang dihargai sekitar 1 Ringgit per karung berkapasitas 50 kilogram.

Di balik kondisi buruk itu, secercah cahaya muncul dari sebuah organisasi non pemerintah bernama Humana Child Aid Society. Organisasi yang didirikan oleh Torben Venning (warga negara Denmark) ini memulai kegiatannya sejak 1991. Fokus kegiatan mereka pada pendidikan anak-anak pekerja asing di Sabah. Mereka telah mendapat kepercayaan dari Departemen Pendidikan Malaysia untuk menangani pendidikan bagi anak-anak pekerja asing terutama di Sabah.

Humana mendirikan sejumlah Pusat Bimbingan Belajar di beberapa wilayah perkebunan seperti di Lahad Datu, Samporna, Kinabatangan, Sandakan, dan Keningau—sebuah usaha keras bertahun-tahun menggandeng beberapa perusahaan besar perkebunan. Kelasnya terbatas dari kelas setara Taman Kanak-kanak hingga setara Sekolah Dasar.

Ribuan warga belajarnya didominasi oleh anak-anak Indonesia dan Filipina. Mereka diajari menulis, membaca, dan berhitung. Materi pengajarannya mengacu pada kurikulum Kementerian Pendidikan Malaysia. Muatan Indonesia seperti sejarah, PPKn, dan nasionalisme.

Guru pengajar diambil dari Filipina dan Indonesia. Pada 2006, pemerintah Indonesia cq Departemen Pendidikan Nasional mengirim 51 guru untuk ditempatkan di Sabah. Program ini realisasi dari kesepakatan bersama antara Presiden Republik Indonesia dengan Perdana Menteri Malaysia di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 2005. Pertemuan tersebut juga menyepakati pengiriman secara bertahap 500-1.000 guru ke Sabah.

Kendati demikian, suasana belajar tetap memprihatinkan. Pelajaran tidak diberikan per kelas, melainkan kepada semua anak dari berbagai umur dengan satu pengajar dalam satu kelas. Ini pun tergantung kondisi tempat belajar.

Yang lebih memprihatinkan, tak ada sertifikat atau tanda kelulusan bagi warga belajar yang dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Imbasnya, usai menamatkan pelajaran, anak-anak ini ikut orangtua mereka bekerja di perkebunan. Para juragan perkebunan akan dengan sangat senang hati menerima buruh yang memiliki kepandaian standar seperti mereka—beda dengan buruh tua yang tidak bisa baca-tulis.

Kondisi demikian membuat Armin Mustapa gerah. Pada 2007, bersama beberapa pegawai dan guru, ia memasuki beberapa kawasan perkebunan di mana Pusat Bimbingan Belajar yang dikelola Humana berada. Ia membawa daftar buku induk, rapor, dan buku-buku pelajaran untuk dibagikan ke siswa-siswi. “Kalau kami tertangkap bawa buku-buku itu oleh Pemerintah  Malaysia, saya tidak tahu lagi nasib saya,” kenangnya, Selasa pagi 26 Mei. “Mungkin berhenti jadi pegawai.”

Dalam sebuah kesempatan, Armin Mustapa merasa sedih saat mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan diakhiri ungkapan ‘Malaysia Berjaya’. “Tiap Senin saya mendengarkan lagu Indonesia Raya, kenapa lagu ‘Indonesia Raya’ belakangnya lain?”

Ia juga membawa beberapa anak untuk mengikuti ujian ke Nunukan. Dengan mengikuti ujian, mereka diberi ijazah sehingga bisa meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Mereka ditampung di dua asrama yang dikhususkan bagi anak-anak TKI Sabah yaitu di pesantren Hidayatullah dan sekolah Katolik yang dikelola Yayasan Gabriel Manek, SVD.

SEKOLAH yang dikelola Yayasan Gabriel Manek, SVD terletak di Jalan Terusan Antasari. Memasuki gerbang sekolah, akan tampak posisi bangunan serupa huruf ‘U’. Di sebelah kiri berdiri Taman Kanak-Kanak Fransisco-Yashinta Nunukan; sebuah bangunan kayu beratap asbes yang memanjang dan berdiri di atas pilar-pilar kayu. Dinding bagian depannya dipenuhi grafiti kartun Mickey Mouse dan pelangi.

Di sebelah kanan berdiri gedung Sekolah Dasar Katolik Fransisco-Yashinta Nunukan; bangunan semi permanen beratap asbes. Satu ruang kelas SMP yang baru buka berada di ujung kanan.

Di tengah, menghadap lapangan pasir yang luas, berdiri biara tempat tinggal 19 suster pengajar. Bangunan permanen ini bercat putih. Pintu dan jendelanya dicat biru.

Sylvia PRR menjabat Kepala Sekolah sejak 2005. Ia berkulit gelap dan santun saat bicara. Menurutnya, aktivitas Yayasan di bidang pendidikan ini dimulai sejak tahun 2000 dengan membuka Taman Kanak-kanak. Setahun berikutnya Sekolah Dasar dibuka.  Seiring perkembangan, kemudian dibuka SMP dan Kejar Paket A, B, dan C. “Guru di sini meskipun diberi gaji di bawah standar tapi mereka punya dedikasi yang besar,” ujar Sylvia tentang pengabdian para guru.

Berdiri di atas lahan 500 m2 (50 x 100 meter), terdapat 254 siswa yang menuntut ilmu di sekolah ini, termasuk 178 anak TKI. Asrama yang terletak di belakang biara dihuni 57 siswa.

Dorus siswa SMP Kelas 2 asal Toraja. Ia merasa senang tinggal di salah satu ruangan asrama. Kendati kedua orangtuanya bekerja di Malaysia, ia merasa suasana asrama membuatnya betah. “Di sini bisa berdikari,” ucapnya. “Apapun sendiri. Kalau di sana (Malaysia), dimanja sama orangtua.”

Ketika Tim Mandikdasmen berkunjung ke sekolah ini pada Selasa 26 Mei, sedang dibangun gedung asrama siswa yang merupakan bantuan dari Depdiknas. Baru sebagian dinding yang telah berdiri. Sylvia khawatir pembangunan tersendat lantaran masih kekurangan dana.

Pesantren Hidayatullah tiga hektare luasnya. Di pesantren ini terdapat 94 santri dan 64 santriwati. Mereka tersebar di Raudhatul Athfal hingga Madrasah Aliyah. Menurut Sucipto, Kepala Kampus, 75% warga belajarnya merupakan anak-anak TKI. “Di sini anak-anak TKI berasal dari berbagai suku,” katanya.

Jefrey salah satu santri. Baru dua tahun ia menuntut ilmu di tempat ini. Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah. Kedua orangtuanya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Keke, Malaysia. Sebelumnya ia tinggal bersama mereka. Ia pindah ke Hidayatullah lantaran ingin mendapatkan tempat kondusif untuk belajar. “Dari kecil suka agama, jadi pengin lebih fokus,” ujarnya.

ARMIN Mustapa hingga kini masih bertanya-tanya, apa jadinya ribuan anak TKI jika kondisinya tidak berubah. Mereka hidup di bawah bayang-bayang polisi Malaysia, kebodohan yang membelenggu, dan kondisi sosial-ekonomi yang makin tak berpihak pada orang miskin. Dengan Sumber Daya Manusia seperti itu, apa yang bisa diharapkan?

Hendrawan juga tak habis pikir, kenapa ribuan orang bertaruh nasib ke negeri jiran hanya untuk mendapatkan sejumlah uang setara Upah Minimum Regional? “Mengapa uang sebesar itu mereka kejar di negeri orang?” tanyanya. Sementara kasus-kasus kekerasan yang sering muncul ke permukaan selalu mengancam: disiksa majikan, diperkosa, gaji tak dibayar, hingga bunuh diri.

Hendrawan menjawab sendiri pertanyaannya: “Berarti sangat sulit mendapatkan uang sebesar itu di sini.” Dan Katman melanjutkannya dengan kegelisahan yang sama: “Kalau diperhatikan, kerja apa mereka di sana? Perkebunan? Bikin saja perkebunan di sini!”

USAI melakukan asistensi di SDN 001 Sebatik, Tim Mandikdasmen menyambangi Dusun Abadi, Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik. Dibatasi patok berupa portal kayu, dusun ini berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia.

Di pangkalan ojek Aji Kuning yang sudah masuk kawasan Malaysia, Tim memerhatikan perahu-perahu warna-warni yang menjejali Sungai Aji Kuning yang berdiameter sekitar dua meter. Air sungai berwarna krem dan keruh. Sejumlah pemilik perahu sedang melakukan persiapan untuk digunakan bepergian ke Tawau, Malaysia. Dengan perahu tersebut, penduduk membawa barang dagangan menyeberangi lautan. Pada badan perahu tertulis nomor identitas yang diawali dengan dua huruf “TW” yang berarti Tawau.

Di tempat ini beberapa rumah berada di tengah-tengah perbatasan. Rumah di samping pangkalan ojek itu misalnya. Bagian depan rumah ini masuk wilayah Indonesia. Sementara bagian dapurnya dalam teritori Malaysia.

Pemilik rumah tersebut penjual voucher telepon dengan operator Malaysia; Celcom dan Maxis. Di sini, warga bisa menangkap sinyal telepon seluler yang dipancarkan oleh operator Malaysia.

Selain rumah itu, dapur Pos Pengamanan Perbatasan Aji Kuning yang dijaga tentara juga masuk wilayah Malaysia. Pos ini diresmikan penggunaannya oleh Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen Hadi Waluyo pada 10 November 2002. Tim Mandikdasmen menyempatkan diri bertandang ke tempat ini dan berbincang dengan sang komandan.

SALEH sangat paham pentingnya penanaman rasa nasionalisme pada anak-anak sekolah. Berbagai upaya dilakukan Kepala Sekolah SD 005 Sebatik Barat ini, seperti nonton bareng film ‘Laskar Pelangi’ di suatu malam menggunakan LCD.

Ia tahu ketika orangtua anak-anak TKI kembali ke rumah, mereka membawa barang kebutuhan seperti barang konsumsi maupun produk sandang (pakaian). Artinya, ada gaya hidup yang ikut terbawa. “Jangan sampai mereka terkucil dengan gaya hidup masyarakat di sana yang gemilau,” imbuhnya.

Terlebih uang jajan sebagian siswa menggunakan Ringgit. Nurul Asikin, misalnya. Siswi kelas 5 SD 005 Sebatik Barat ini dijatah orangtuanya uang jajan sebesar 50 sen Ringgit per hari. Sementara Muhammad Faizal Effendi, rekan Nurul, mendapat uang jajan Rp 2.000. per hari. Ayah keduanya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sabah.

Tentang pengaruh gaya hidup, Andi Jamaludin, guru SD 010 dan staf Tata Usaha SMP 4 Sebatik Barat, mengatakan hal senada. Katanya, selain bahasa, peniruan tampak pada cara berpakaian keseharian siswa.

Upaya lain Saleh untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada siswa yaitu lewat penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler. Pramuka digalakkan, sebab kegiatan ini banyak berkaitan dengan aktivitas yang dekat dengan lingkungan sekitar.

Sekolah Dasar 005 berjarak 100 meter dari perbatasan. Dengan total murid 370 siswa, 15 guru honor, dan tiga pegawai negeri sipil, di sekolah ini terdapat 26 anak TKI yang diusulkan menerima beasiswa dari Mandikdasmen. .

ASISTENSI berjalan lancar. Usai menjelaskan prosedur dan mekanisme pemberian beasiswa serta pengisian lembar formulir, diadakan tanya-jawab. Rata-rata pengelola sekolah mengajukan nama baru calon penerima beasiswa. Sebab selalu ada saja penambahan anak TKI yang bersekolah di sekolah bersangkutan.

Hal lain yang cukup urgen yaitu perubahan nomenklatur sekolah. “Pemekaran kecamatan menyebabkan perubahan nomenklatur sekolah,” ujar Katman. “Sekolah tetap di situ, hanya namanya saja berbeda.”

Perubahan nomenklatur juga berimbas pada perubahan nomor rekening sekolah. “Kita mempersyaratkan rekening atas nama sekolah,” kata Hendrawan.

Bagi anak-anak TKI, pemberian beasiswa adalah sebuah anugerah. Setidaknya turut mengurangi pengeluaran keluarga. Maka biarkanlah anak-anak itu tumbuh dengan pelayanan pendidikan yang baik serta terbukanya akses pendidikan bagi ribuan anak TKI di Sabah. Semoga.*

Duren Sawit, Jakarta Timur. 2 Juli 2009.