Spread the love

Sudah dibaca 870 kali

AKHIRNYA aku bisa mendongeng di hadapan anak-anak! Dulu, sekitar 4-5 tahun lampau, keinginan mendongeng di depan anak-anak muncul saat melihat penampilan seorang pendongeng asal Yogyakarta di Taman Ismail Marzuki. Keinginan itu tak jua terlaksana hingga menepi ke angan-angan: aku ingin membuat taman baca, perpustakaan umum, atau apalah namanya semacam Rumah Dunia, di mana di dalamnya, selain aktivitas baca, bedah buku, dan baca karya, ada kegiatan mendongeng. Semua kegiatan melibatkan anak-anak hingga orang dewasa.

 

Dan hari ini aku mendongeng di hadapan anak-anak! Ceritanya kukarang sendiri beberapa menit sebelum ‘pentas’. Kucatat sedikit dialog dan narasinya di buku memori (otak), selebihnya spontanitas. Tentang petualangan seekor kucing, Toni namanya, yang tertinggal dari rombongan keluarganya.

 

Sebenarnya Toni tidak tertinggal. Ketika ibu dan keempat saudaranya (Tono, Tina, Tini, dan Teni) menuju rumah nenek yang berada di kaki bukit, Toni memisahkan diri. Dia tidak mau menjelajahi sungai lebar penuh buaya, padang rumput dihuni serigala, dan hutan lebat dikuasai singa. Ia ingin sampai ke sana dengan cepat dan santai. Ketika keinginan itu terbersit, ia melihat seekor kupu-kupu sedang hinggap di atas bunga. Ia berpikir, dengan terbang menggunakan sayap kupu-kupu, keinginannya mencapai rumah nenek dengan cepat dan santai terwujud.

 

Ketika Toni memisahkan diri, ibu Toni tidak menyadarinya. Ia sibuk memberi aba-aba, motivasi dan penguatan agar anak-anaknya berani melintasi jalanan penuh bahaya.

 

Toni mengendap-endap mendekati kupu-kupu. Ia mencari momen tepat untuk melompat dan menangkap kupu-kupu. 1…2…3….! Hap! Toni melompat dengan segala kemampuan yang dia punya. Namun kupu-kupu berhasil menghindar. Ia bisa mencium aroma bahaya. Toni tak putus asa. Ia terus mengejar kupu-kupu dengan lompatan-lompatan tinggi. Namun usahanya sia-sia. Kupu-kupu terbang tnggi.

 

Toni sedih. Kupu-kupu mesara kasihan. Kupu-kupu mendekati Toni lalu bertanya, “Untuk apa kamu ingin menangkapku, Toni?”

 

Toni menceritakan maksudnya. Kupu-kupu tertawa. “Tidak mungkin kucing menggunakan sayap,” ucap kupu-kupu. “Kamu punya empat kaki dan dengan itu bisa lari cepat. Lebih cepat dari aku terbang. Jadi buat apa punya sayap?”

 

Dengan rasa gundah, Toni menerima nasibnya. Ia, mau tidak mau, harus menyusul rombongan keluarganya. Ia membayangkan akan menghadapi sendirian hewan-hewan ganas yang berbaris menghadangnya menuju kaki bukit di mana rumah neneknya berada.

 

Hingga tibalah Toni di pinggir sungai. Ia bertemu buaya lalu berkata, “Hei, Om Buaya, aku ingin menyeberangi sungai ini. Tolong aku!”

 

“Aku sedang lapar. Buat apa aku menolongmu? Lebih baik aku memakanmu!” kata buaya dengan suara garang.

 

“Tolonglah aku, Om Buaya! Aku ingin menyeberangi sungai ini!” Toni mengiba.

 

“Baiklah,” ucap buaya. “Aku bisa menolongmu tapi dengan satu syarat.”

 

“Ya, ya…apa itu?”

 

“Aku dan teman-teman sudah lama mengantuk tapi tak bisa tidur. Aku ingin kamu menyanyikan lagu hingga membuat kami tertidur.”

 

“Menyanyi?” Toni bertanya-tanya dalam hati. Lalu ia teringat nyanyian yang diajarkan ibunya beberapa waktu lalu. “Are you sleeping/are you sleeping…”

 

Toni menyanyi dengan sepenuh hati hingga buaya-buaya tertidur. Ketika tertidur, buaya-buaya menyembul ke permukaan air. Toni bisa meneyeberangi sungai dengan berjalan di atas badan buaya.

 

Toni merasa bersyukur. Lalu ia meneruskan perjalanan. Kali ini medan yang harus dilewati adalah padang rumput yang luas. Setiba di padang rumput, Toni melihat kawanan serigala mondar-mandir. Mengendap-endap ia berjalan di kerimbunan semak-semak. Tapi…..

 

“Hei kucing, sedang apa kau di sini?” Seekor serigala tiba-tiba menghadangnya.

 

Toni ketakutan. Lepas dari cengkeraman buaya kini terancam oleh serigala. “Aku, aku ingin melintasi padang rumput ini, Om Serigala…”

 

“Aku sedang lapar. Ini daerah kekuasaanku. Kau tak bisa melintas seenaknya.”

“Lalu baagimana saya bisa melintasi padang rumput ini?” Toni bicara dengan rasa tak percaya.

 

“Begini saja, kalau kamu bisa menjawab tes yang aku berikan, kamu boleh bebas melintasi padang rumput ini.”

 

Toni menyanggupi. Tiada jalan lain.

 

“Aku akan menyebutkan benda-benda dan kamu harus mengartikannya dalam bahasa Inggrsis. Setuju?”

 

Toni berpikir-pikir. Tadi, saat bertemu buaya, dia bernyanyi dalam bahasa Inggris. Sekarang dia dites bahasa Inggris. “Baiklah.”

 

Serigala menunjuk kepala, tangan, kaki, dan rambut. Toni menerjemahkannya dalam bahasa Inggris dan jawabannya betul semua. Ia lolos tes. Serigala membiarkannya melintasi padang rumput dengan tenang.

 

Kini tibalah Toni di kawasan hutan lebat. Pohon-pohon tinggi mengelilinginya. Kerindangan daunnya membuat cahaya mentari sulit masuk sehingga suasana hutan sangat gelap. Ular-ular dan binatang melata lainnya merayap-rayap ke sana-kemari.

 

Di sanalah Toni bertemu Raja Rimba; singa. Singa mengaum, menunjukkan keperkasaaannya. Suaranya menggema ke sekujur rimba belantara. “Hei kucing, mau apa kau ke sini?”

 

“Aku mau melintasi hutan ini tapi aku tersesat. Maukah kamu menunjukkan jalan?” Toni berkata dengan penuh takut.

 

Singa itu mengaum lagi. “Aku  ini Raja Rimba, ditakuti semua penghuninya. Kau kucing kecil berani menyuruhku?”

 

Toni menceritakan tujuannya. Ia mengiba-iba, memohon-mohon. Akhirnya hati singa luluh. “Baiklah, aku mengizinkanmu lewat hutan ini asal kau berhasil lulus tes.”

 

“Lulus tes?” tanya Toni dalam hati.

 

“Aku akan menyebutkan nama rakyatku dan kau harus menyebutkannya dalam bahas Inggris.”

 

“Bahasa Inggris lagi?” Batin Toni seolah tak percaya. Ketemu buaya, bahasa Inggris. Ketemu serigala, bahasa Inggris. Ketemu singa, lagi-lagi bahasa Inggris. Tapi Toni tidak punya pilihan lain. “Baiklah, aku menyanggupi,” tuturnya pada singa.

 

Raja rimba menyebutkan satu per satu nama rakyatnya. Toni beruntung bisa hafal nama-nama hewan dalam bahasa Inggris karena diajarkan ibunya. Sehingga dia tidak kesulitan menjawab semua pertanyaan Raja Rimba. Ia dibolehkan melintasi hutan.

 

Toni berjalan gontai. Persendian tubuhnya lemas. Tiba-tiba hujan turun deras. Suara petir menggelegar. Beberapa pohon tumbang tersambar petir. Tubuh Toni basah kuyup. Ia menggigil kedinginan. Ia terus berjalan sambil menyesali perbuatannya. Toni menyesal tidak mendengar nasihat ibunya. Tidak tidak akan nakal lagi.

 

Toni merasa lega ketika ia tiba di pinggir hutan. Dari kejauhan dia melihat sebuah lubang di bawah bebatuan. Ia yakin itu rumah neneknya. Maka berlarilah ia menuju lubang itu walau air hujan tiada henti menerpa tubuhnya.

 

Toni masuk lubang. Suasananya begitu terang. Makin lama ke dalam tubuhnya terasa hangat. Ia melihat sebuah perjamuan: ibu, nenek, dan keempat saudaranya duduk melingkar di sekitar meja bundar. Di atas meja tersaji aneka makanan lezat seperti ikan bakar dan daging ayam.

 

Ibu Toni melihat Toni dengan haru. Ia mendekati anaknya itu dengan penuh kasih sayang, Ia membelainya dengan mesra. “Toni,” kata ibu Toni sambil mengucurkan air mata, “ibu tadi mencari-carimu ke sana-kemari.” Ibu Toni tahu Toni sedang kedinginan dan kelaparan. Ia tidak menanyakan Toni ke mana saja dan kenapa berpisah dari rombongan. Ia mengajak Toni mendekat ke meja makan. Toni, bersama ibu, nenek, dan keempat saudaranya makan bersama.

 

 

Evaluasi

SAAT bercerita, seperti biasa, tingkah anak-anak beragam. Ada yang memerhatikan dengan serius, asyik main sendiri, atau duduk di samping ibunya. Hari ini tempat belajar di dalam Pos RW. Maklum, hujan sejak semalam mengguyur tiada henti. Baru berhenti sekitar pukul 9. Pekarangan pos yang biasa dipakai untuk belajar basah, kanopi bocor. Jadi belajarnya di dalam pos.

 

Jadilah kondisinya seperti berdesak-desakan. Namun karena meja-meja belajar kecil disingkirkan, kondisi ruangan sekitar 4×5 meter itu agak longgar. Para ibu duduk menyender dinding.

 

Saat bercerita, aku melibatkan anak-anak. Misalnya saat Toni bernyanyi dan menjawab tes dari serigala dan singa. Memang, sesungguhnya, dongeng ini kumaksudkan sebagai evaluasi hafalan anak-anak setelah tiga kali pertemuan.

 

Aku merasa makin akrab dengan anak-anak. Pastilah sungging senyum yang mereka berikan kala mereka melihatku. Sebelum mengajar aku duduk di kursi plastik dekat mulut pintu pos dan disapa seorang gadis cilik dengan senyum mengembang dan malu-malu, “Bapak sedang apa?” “Menunggu,” jawabku. Ia ternyum simpul, khas sekali. Berikutnya beberapa anak keluar demi melihatku.

 

Aku tahu saat belajar mata pelajaran lain mereka sibuk dengan buku dan alat tulis, lengkap dengan teror ibu di sampingnya. Keceriaan jarang tergambar di wajah, yang ada keseriusan. Namun ketika aku maju ke depan, dengan sigap mereka menyingkirkan meja belajar dan duduk rapi di depanku—plus berisik khas anak-anak. Saat bicara atau mengajak belajar, ada saja yang duduk atau berdiri di dekatku.

 

Ada dua hal yang biasa dilakukan sebagian atau banyak anak waktu kuajar. Pertama, teriak-teriak saat menyebutkan sebuah kata dan bernyanyi. Kedua, saling dorong dan jatuh bersama ketika kuajak berdiri dan lompat-lompat kecil. Kukira ini menyenangkan. Mereka bebas berekspresi dan aku tak melarang apapun yang mereka lakukan asal tidak berlebihan. Barangkali, kalau ruangan luas, aku akan ikut berguling-guling dengan mereka—sepertinya aku yang lebih ekepresif ketimbang mereka.

 

O iya, ibu-ibu. Aku selalu menyapa ibu-ibu. Kadang pertanyaan, selain dilontarkan ke anak-anak, aku juga melontarkannya ke ibu-ibu. Sebagian mereka pasti menjawab dengan senyum. Aku ingin sekali menyanyi bersama-sama; aku, anak-anak, dan ibu-ibu.

 

Karena ruangan sempit, tak leluasa aku mendongeng hari ini. Aku hanya bisa duduk dan melipat kaki. Jarak antara aku dan anak-anak begitu dekat. Kalau aku berdiri, mereka akan melihatku dengan mendongak maksimal. Aku berharap ke depan kondisinya akan lebih baik; ruangan belajar luas, alat peraga banyak, dan ada ruangan tersendiri bagi ibu-ibu berkumpul dan belajar mendidik anak di rumah. Semoga suatu saat nanti harapan ini terkabul.

 

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. Selasa 19 Februari 2008.