Spread the love

Sudah dibaca 985 kali

Pada Selasa sore 6 Maret lalu aku seperti ditarik kembali ke masa silam. Masa indah di mana aku bisa menghabiskan waktu seharian penuh di luar rumah. Berlarian bersama teman mengejar layang-layang putus, memasuki kebun-kebun rimbun dan pohon-pohon tinggi. Membawa galah panjang yang diujungnya terikat akar-akar tunggang. Berdesakan dan saling dorong kala layang-layang jatuh di tanah lapang. Dan aku pernah mengurung diri di kamar ketakutan usai memecahkan lampu taman pemilik rumah yang pagarnya aku panjat.

Aku sempat mengingatkan diriku sendiri bahwa 28 Oktober adalah hari keberuntungan. Sebab pada tanggal tersebut di tahun yang aku lupa, aku berhasil mengumpulkan banyak sekali layang-layang hasil buruan. Aku merasa mengejar layang-layang lebih menarik ketimbang memainkannya. Selain akan menemui dan berkenalan banyak teman, aku bisa bebas menginjak kebun-kebun, halaman rumah, dan genting rumah yang aku tidak tahu siapa pemiliknya. Alibinya sederhana untuk tidak dianggap maling: mengejar layang-layang. Pemilik rumah atau pun kebun harus memaklumi ‘pelanggaran’ pemburu layang-layang; tanaman rusak terinjak, genting jatuh, pintu pagar tak ditutup kembali. Tapi rumah berpenjaga anjing biasanya aman-aman saja.

Aku bermain layang-layang di banyak tempat. Aku tidak merasa terikat dengan tetangga atau teman sepergaulan di sekitar rumah. Jadilah aku punya banyak teman. Banyak teman dan orang tua mengenalku tapi aku tidak mengenalnya. Kadang aku main di lapangan berumput dekat rumah. Atau di jalan gang sebelah. Atau di jalan depan rumah. Atau di sawah dekat tempatku bersekolah. Atau di dekat empang, kuburan, dan rawa yang jauh dari rumah.

Biasanya aku main pagi dan menjelang sore. Kalau hari libur bisa seharian, dari pagi hingga sore. Siang terlalu panas. Mengejar layang-layang pun rasanya cepat lelah.

Waktu berjalan kejam menghapus semua jejak kenangan. Semua tempat bermain yang sudah kusebut tadi berubah drastis. Tidak ada lagi tanah lapang. Semua berubah menjadi rumah bertingkat dan pintu-pintu kontrakan. Empang dan rawa diurug, di atasnya ditanami pondasi batu-semen dan besi. Sawah depan Masjid Al-Kusuf menyusut, ditumbuhi rumah-rumah kumuh yang beberapa hari lalu terbakar. Empang-empang bersama jamban-jamban di dekatnya ikut tergusur menjadi bengkel kayu. Tepi-tepi rawa sebagai jalan masuk ke kawasan rawa dipagari rumah-rumah rapat.

Aku jadi tidak lagi bisa melihat para pemancing melempar kailnya di empang sembari memerhatikan kotoran-kotoran kuning jatuh dari jamban. Atau menyaksikan bapak-bapak dan anak muda membawa cengkaling (sejenis peracun ikan, bentuknya kecil dan putih padat) di sawah. Atau tidak lagi merasai kulit busik akibat kelamaan tenggelam dalam lumpur. Atau menikmati jambu monyet dari pohonnya yang tumbuh subur di sekitar kober. Atau mencuri mentimun dari ladang orang. Atau pulang maghrib karena keasyikan berguling-guling di tanah berumput.

Bila punya waktu senggang, selalu kusempatkan berkeliling ke tempat-tempat itu dengan bersepeda. Memutar kenangan masa kecil membuatku bahagia. Seperti menjadi diri sendiri: senang menyendiri di tempat menyenangkan; hembusan angin sepoi, lambaian rumput ilalang, sengat mentari sore, derik jangkrik. Kadang aku merekonstruksi kondisi dan situasi itu lewat khayalan untuk menyegarkan kembali ingatan: kuhancurkan rumah-rumah itu dan menempatkan teman-temanku—yang kukenal maupun tidak–di posisinya; sawah, lapangan, tanah berumput, rawa, empang, kuburan. Tak lupa kutaruh macam permainan yang pernah kami mainkan; layang-layang, sepak bola, anggar, senjata rahasia ninja, kuda gedubrak, petak umpat, kejar-kejaran, benteng, galasin, karet, kelereng, gentrong, gambaran, congklak, dll. Ketika berhasil melakukannya, aku memejamkan mata lalu perlahan menghirup udara sekitar dan menahannya sesaat dalam rongga dada. Kubuka telinga lebar-lebar, mendengarkan suara-suara samar nan kecil dari masa lampau. Kubaui udara sekitar. Kubuka sel-sel otak yang merekam segala kejadian. Ya Tuhan, inilah kenikmatan nostalgia!

Kadang aku juga bersepeda menyambangi beberapa sekolahku yang jaraknya berdekatan; TK Permata Bunda, SDN Duren Sawit 05 Pagi, SMPN Duren Sawit 194. Pernah aku memaksakan diri masuk ke lingkungan SD dan mengamati detail-detailnya: tidak banyak berubah sejak kutinggal 15 tahun lalu! Satu guru yang selalu kuingat kebaikannya adalah Bu Retno, guru Taman Kanak-kanakku. Lukisan ulang tahunku yang ke-5 yang dibuatnya masih tergantung di ruang tamu rumahku hingga kini.

Namun pada Selasa sore itu aku tidak mengulangi semua aktivitas masa lalu. Aku tidak mengejar layang-layang putus. Aku hanya mendekati teman-temanku yang bermain layang-layang dan melihat mereka mengadu dengan layang-layang lain. Lokasinya di tanah kosong samping rumah bertingkat, agak menjorok dari jalan, tepat di seberang mulut gang rumahku. Seorang teman berujar, “Beli layangan, Bil! Sini duitnya! Entar gua beliin.” Ia baru kalah adu. Layang-layangnya putus.

Seketika bayangan masa kecil itu muncul. Aku tidak menanggapi tawarannya. Bergegas aku membeli layang-layang di warung depan Masjid Jami Nurul Yaqin. Seribu dapat tiga. Lalu kuberikan padanya.

Aku tak berniat memainkannya. Biarlah buat mereka saja. Sebab aku sudah mencukupkan diri dengan mengenang kembali istilah-istilah dalam layang-layang. Aku tak tahu apakah ini istilah umum, namun inilah istilah yang kudapat dari pergaulan dengan teman-temanku yang bersuku Betawi dulu. Gelasan, benang tajam untuk aduan. Lasnur, benang dari tali pancing yang dilumuri bahan pembuat gelasan sehingga tajam. Kenur, benang standar yang tidak tajam. Talikama, ungkapan untuk benang yang mengait pada dua bagian rangka bambu di atas dan bawah layang-layang. Manteng, posisi stabil layang-layang. Singit, layang-layang tidak stabil saat mengudara. Pongkol, menjatuhkan layang-layang ke benang dekat tangan lawan. Dol, ‘mencuri’ benang lawan yang kalah adu. Ngimpul, layang-layang putus terbang jauh tinggi. Ngentip, layang-layang terbang tinggi kadang sulit terlihat. Tarik-tarikan, kondisi di mana dua layang-layang bertemu dan gesekan benang di antara keduanya tak menyebabkan salah satunya putus.

Sempat terlintas dibenakku saat itu, apakah aku harus kembali bermain layang-layang setelah sekian tahun tidak memainkannya. Aku tidak ingat kapan terakhir main layang-layang. Barangkali selulus SMP. Sebab sekolahku SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta letaknya sangat jauh dari rumahku. Rumahku di Duren Sawit Jakarta Timur. Sementara itu sekolah di depan Mal Taman Anggrek, Slipi, Jakarta Barat—sekarang pindah ke Kali Deres. Berangkat usai salat Subuh, tiba di rumah di atas Isya. Minggu? Ikut klub volly. Tapi sepertinya tak ada salahnya bila aku bergabung dengan teman-temanku bermain layang-layang. Karena aku juga tak mungkin kembali berjualan layang-layang—aku sempat berjualan layang-layang selama beberapa minggu sama Bapakku dulu. Sekarang, biarkan aku perlahan menyusuri jalan meninggalkan masa lalu.

Duren Sawit, 9 Maret 2007. 16.12