Spread the love

Sudah dibaca 900 kali

Buku Wirausaha Muda Mandiri

 

Baru kemarin, 17 Juni 2015, saya beli buku terbitan 2010 yang dijual di lobi sebuah mal di kawasan Alam Sutra, Tangerang Selatan, Banten. Buku itu berjudul Wirausaha Muda Mandiri; Kisah Inspiratif Anak Muda Mengalahkan Rasa Takut dan Bersahabat dengan Ketidakpastian. Menjadi Wirausaha Tangguh. Penulisnya Rhenald Kasali. Penerbitnya Gramedia Pustaka Utama.

Buku itu saya beli, pertama, karena diskon. Kedua, karena penulisnya Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Saya mengagumi pemikirannya dan sudah lama ingin memiliki karyanya. Ketiga, karena judulnya. Saya ingin belajar dari orang-orang sukses dalam berwirausaha.

Sebagaimana judulnya, di buku ini Rhenald mengulas profil 24 wirausahawan muda yang merupakan finalis/pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2007-2008 yang diselenggarakan Bank Mandiri. Tiap profil dilengkapi wawancara singkat. Ia juga menuliskan tips berwirausaha di akhir pembahasan yang disebutnya ‘Hukum Wirausaha’.

Tulisannya begitu berbobot, padat, dan renyah. Juga sangat motivatif, terlebih mengangkat orang-orang muda yang menjalankan usaha dari nol dengan penuh kerja keras, ulet, dan berani.

Saya baru selesai baca tentang Elang Gumilang, pengusaha properti yang mengepakkan sayap bisnisnya saat masih kuliah di Institut Pertanian Bogor. Rhenald menulis tips wirasausahanya sebagai Hukum Wirausaha # 1: Kenali dan Guntinglah Belenggu yang Mengikat Kaki dan Pikiran-pikiranmu.

Di sini, ia bicara soal potensi yang dimiliki semua orang untuk berkembang dan maju. Ia mengandaikannya dengan sayap dan kemampuan terbang: tiap orang punya sayap dan bisa terbang, tapi….

Ya, ia juga bicara soal kebebasan dan keterbatasan. Tiap orang bebas terbang, namun sayang, banyak yang membuat belenggu pada dirinya sendiri sehingga kebebasannya sangat terbatas. Orang mengikat kaki dan sayapnya, atau kakinya saja atau sayapnya saja, sehingga tidak bisa terbang atau maju.

“Anda sendirilah yang harus membebaskan belenggu-belenggu pada diri Anda. Setelah itu carilah orang-orang yang bersedia menjadi guru bagi hidup Anda. Guru-guru itu harus Anda bayar dengan kerja keras, disiplin, sikap-sikap positif, karya-karya spektakuler, dan kebaikan hati. Mereka akan mengajarkan bagaimana caranya terbang dengan terbang bersama,” tulisnya pada halaman 29.

Ia menulis lagi di baris berikutnya, masih di halaman 29, “Setelah semua belenggu terlepas, janganlah berfokus pada hal-hal yang tidak bisa Anda kerjakan. Berfokuslah pada apa yang bisa Anda kerjakan. Jangan mencemburui keberhasilan orang lain, karena setiap orang memiliki keunikan dan caranya masing-masing. Kembangkanlah kebiasaan baru yang Anda kembangkan sendiri.”

Bagi saya, kalimat-kalimat itu begitu menyentuh. Setidaknya pada pengalaman hidup saya yang tak kunjung berani melangkah ke dalam lembah dunia bisnis. Padahal, ternyata, saya dulu pernah mencoba melakukan bisnis walau kecil-kecilan. Izinkan saya menceritakannya.

Dulu, dalam rentang usia SD hingga SMP, saya telah melakukan bisnis. Pertama, ikut Bapak jualan layang-layang. Lumayan laku saat musim layang-layang tiba. Maklum di kampung. Kedua, jualan rujak jambu air. Saya petik jambu air milik tetangga, membungkusnya dengan ditambahi garam, lalu menjualnya di perempatan jalan dan kampung.

Ketiga, jualan petasan dengan tetangga. Saya patungan dengan teman beli petasan di Pasar Jatinegara Jakarta Timur dan menjualnya ke orang-orang kampung. Lumayan laris karena dijual di bulan Ramadan—dulu Ramadan adalah bulannya petasan dan tak ada orang tua di kampung saya yang melarangnya. Keempat, menjualkan bingkai poster di pasar. Saya diminta teman menjaga dagangannya di pasar. Waktu itu cuma laku satu buah, itu pun setelah ditawar pembeli.

Bisnis saya cuma sampai di situ. Saat SMK, karena sekolahnya sangat jauh, saya konsentrasi belajar. Saat kuliah, saya tak kepikiran untuk berbisnis karena sibuk organisasi.

Saya mulai berpikir untuk berbisnis beberapa tahun ini saja. Dan mentok. Tidak berani melangkah. Melakukan analisis atas sejumlah bidang bisnis namun berhenti sampai di situ. Analisis itu sering hanya berujung pertanyaan. Misalnya, bagaimana sebuah warung tegal (warteg) menempati ruko yang harga sewanya pasti mahal di Graha Raya Serpong?

Saya mengamati keluarga dan saudara-saudara saya. Tak ada yang berbisnis atau berdagang. Kebanyakan Pegawai Negeri Sipil (PNS), pekerja pabrik, dan karyawan. Tak ada yang bisa saya gali pengalamannya.

Bahkan mereka cenderung memandang pekerjaan paling menjanjikan adalah menjadi PNS. Seorang paman yang bekerja di sebuah kementerian telah memasukkan anak-anak dan keponakannya di kantornya. Begitu mudah.

Ia juga memasukkan saya di kantornya, tapi tak saya tanggapi. Saya masih kuliah dan sedang mengerjakan skripsi. Saya pun tak bermaksud mengikuti jejak saudara-saudara saya yang lain. Sudah diduga, banyak yang heran dan menyesalkan sikap saya. Termasuk kedua orang tua saya.

Ada satu kisah unik. Saat paman itu (kini sudah meninggal) dirawat di RS Persahabatan karena terserang jantung saat senam lansia, saya menjenguknya. Ketika masuk kamar perawatannya, ia langsung bertanya pada saya dengan nada heran, “Kenapa nggak mau masuk (PNS)?” Saya nyengir saja.

Kini saya hanya menjalani pekerjaan sebagai pekerja saja. Tak terkait bisnis. Kalaupun ada pekerjaan sampingan, itu sifatnya jasa. Kalau mau apologi, jasa juga sebuah bisnis. Ya, kan?

Barangkali belenggu itu sudah berdiri kokoh di benak saya. Sejak lama. Tak berani ambil risiko. Tak mau keluar dari kemapanan. Tak berani tidak digaji. Takut berjalan sendiri.

Satu-satunya orang yang pernah menjalankan usaha di keluarga adalah ibu saya sendiri. Saat ia bekerja shift di sebuah pabrik tekstil di Jakarta, ia juga berjualan tahu isi. Setelah di PHK, ia kembali menggeluti usaha menjahit pakaian di rumah yang sempat ditinggalkannya. Tapi, pengalaman itu tak segera membuat saya berani menjalani usaha atau bisnis.

Dalam hati, saya berkeyakinan, jika mau kaya dengan cara halal, ya berdagang atau berbisnis. Jadi karyawan atau pekerja tak segera membuat kita kaya, kecuali melakukan perbuatan tak terpuji macam korupsi.

Potensi yang saya milikipun hanya menulis. Alhamdulillah, konsisten sejak lulus kuliah. Mencari nafkah hanya dari aktivitas menulis. Namun, saya berpikir lagi, kalau mau hidup makmur, tak cukup hanya dengan menulis. Saya belum jadi penulis karya-karya laris yang bisa kaya dalam waktu sekejap.

Namun saya punya keyakinan yang kini tengah direalisasikan: penghasilan baru akan didapat dengan menambah keterampilan baru. Saya kemudian belajar desain foto dan editing video. Tapi, saya rasa, tetap saja dalam bidang kerja, kedua keterampilan itu berada di posisi pekerja/karyawan. Jadi, perlu dicari lagi mana yang benar-benar bisnis atau usaha.

Saya yakin ini sebuah proses yang harus saya lalui. Namun tak boleh terlalu lama, kan? Apakah saya sedang menunggu seorang mentor? Mungkin saja. Atau teman baik hati yang punya bisnis mantap? Bisa jadi. Untuk sementara, saya masih mengamati. Yang pasti, saya ingin bergelut di bidang bisnis. Tak mau sekadar pekerja yang digaji tiap bulan dengan jumlah pas-pasan.*

 

Kunciran, Tangerang.