Spread the love

Sudah dibaca 351 kali

Selasa pagi yang cerah di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Di ruang kerjanya, usai wawancara, Plt. Direktur Sekolah Menengah Atas Winner Jihad berkata dengan wajah agak serius, “Pak Dirjen suka dengan buku Cahaya di Ufuk Timur. Nulisnya belajar di mana?”

Yang beliau maksud adalah Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen) Iwan Syahril. Di buku itu, lembar Kata Pengantar darinya sementara lembar Sambutan dari Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim. Beberapa rekan sebelumnya menyampaikan hal sama.

Lalu saya bercerita kepadanya tentang pengalaman dulu belajar tentang jurnalisme sastrawi saat bergiat di Lembaga Pers Kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Singkat saja.

“Jadi ilmunya dipraktikkan di buku ini ya?” tanya Winner.

“Iya, Pak,” jawab saya. Sebenarnya sih tidak tulen dengan pendekatan Jurnalisme Sastrawi. Namun tepatnya Feature.

Di buku itu, ada satu bab tentang praktik baik yang dilakukan Kepala Sekolah pelaksana PSP. Karena keterbatasan waktu dan ketiadaan anggaran, saya menelepon kepala TK, SD, SMP, SMA, dan SLB satu per satu. Sekolah mereka di Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Utara. Menggali informasi dari mereka, merekamnya, mentranskrip hasil wawancara, dan menuliskannya.

Salah satu tantangan terberatnya adalah melakukan rekonstruksi peristiwa. Maklum, peristiwa yang ditanyakan kepada para narasumber terjadi setahun lalu (2021), saat kali pertama mereka mulai mendaftar PSP. Ada yang lupa waktu peristiwa, ceritanya melompat, dan tidak ingat nama pelaku. Hampir semua narasumber saya hubungi kembali setelah wawancara pertama. Demi mendapatkan cerita yang akurat. Saya juga melengkapi sejumlah peristiwa dengan melibatkan mesin pencari Google.

Senangnya Dirjen pada buku itu membawa konsekuensi. Iwan Syahril ingin setiap Satuan Kerja/Direktorat Teknis (PAUD, SD, SMP, SMA, dan PMPK) membuat buku dan video praktik baik. Buku yang awalnya diberi Sambutan oleh Dirjen dan Kata Pengantar oleh Sekretaris Ditjen, diubah. Sambutan dari Mendikbudristek dan Kata Pengantar dari Dirjen. Perubahan ini berdampak pada molornya jadwal penerbitan yang direncanakan awal 2023.

Per Januari 2023 saya tidak lagi bekerja di Setditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen. Pindah ke Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan sebagai konsultan literasi. Namun, teman-teman Satker meminta saya mengawal penyusunan buku dan video. Karena kesibukan yang sangat padat di tempat kerja yang baru, saya hanya menyanggupi sebagai editor pada buku praktik baik PSP jenjang PAUD, SD, dan SLB.  Namun saya tetap berkoordinasi dengan penulis dan editor buku PSP jenjang SMP dan SMA agar terjadi kesinambungan dan kesamaan penulisan antarjenjang. Pada penyusunan video, saya hanya memberi masukan. Alhamdulillah, buku-buku itu sudah dirilis ke publik pada 24 Agustus 2023. Termasuk buku Cahaya di Ufuk Timur.

Pagi itu saya mewawancarai Winner Jihad untuk keperluan penulisan buku. Masih terkait Program Sekolah Penggerak. Kelanjutan dari buku Cahaya di Ufuk Timur, Perjalanan Transformasi Program Sekolah Penggerak Angkatan Kesatu Tahun Pertama. Rencananya, penulisannya menggunakan pendekatan yang sama tetapi lebih banyak porsi feature-nya. Saya tetap menggandeng seorang rekan penulis yang juga rekan menulis saya di buku Cahaya di Ufuk Timur. Adib Minanurokhim namanya.

Sejak mengawal Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (Satgas GLS) mulai 2016 (berakhir 2022), saya menulis dan mengawal penyusunan buku (panduan dan manual) yang ditulis oleh personel Satgas GLS dan guru-guru yang memiliki praktik baik GLS (bunga rampai). Pada 2017, saya menerbitkan buku solo Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar; Sebuah Refleksi—saya sangat menikmati proses menulis buku ini karena melakukan riset, wawancara, dan menulis usai waktu kerja. Buku ini diterbitkan oleh kantor dan disebarkan secara cuma-cuma bersama buku panduan literasi lainnya.

 

Jurnalisme Sastrawi

Pada awal 2000, gaya penulisan jurnalisme sastrawi (ada yang menyebut “Jurnalisme Sastra”) mulai ‘booming’ di negeri ini. Buku Jurnalisme Sastra (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002) karya Septiawan Santana Kurnia kabarnya dibedah dan didiskusikan di sejumlah kampus di Bandung, Jawa Barat. Andreas Harsono, wartawan senior, mengusung jurnalisme ini di Majalah Pantau yang dirikannya pada 2001.

Kemunculan Jurnalisme Sastrawi sendiri, bagi saya, sebuah berkah. Ini gara-gara saya masuk ke organisasi pengaderan penulis Forum Lingkar Pena (FLP). Organisasi yang didirikan oleh sastrawan Helvy Tiana Rosa dkk ini lebih cenderung didominasi dengan karya-karya fiksi. Basis ilmu jurnalistik yang bergenre nonfiksi bertemu dengan gaya penulisan fiksi (cerpen/novel) membuat pikiran saya waktu itu agak oleng. Sulit mengombinasikan kedua genre ini. Setelah membaca buku itu pada 2003 dan mengikuti pelatihan pers mahasiswa yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Teknokra (Universitas Lampung) pada 2004, pikiran saya mulai terbuka. Acara skala nasional itu, dengan narasumber Andreas Harsono dan beberapa wartawan Pantau, menginspirasi dan memberi keterampilan kepada kami untuk menggunakan pendekatan Jurnalisme Sastrawi dalam penulisan liputan di majalah/tabloid kampus. Andreas juga memperkenalkan sejumlah standar penulisan media luar negeri, di antaranya penggunaan by name dalam sebuah tulisan (nama penulis ditulis utuh, bukan inisial, di bawah judul) dan penggunaan teras berita (lead) yang singkat dan memikat.

Saat itu, media nasional jarang menggunakan by name dalam tulisan mereka. Koran Kompas baru menerapkannya pada sejumlah tulisan saat meluncurkan terbitan ulang tahunnya pada 28 Juni 2005. Saya sendiri menerapkan by name lebih dulu untuk Tabloid Transformasi, media terbitan Rektorat UNJ—pada 2004 saya dipercaya menjadi pemimpin redaksi di tabloid ini. Saya sempat berdebat dengan anggota redaksi yang juga dekan dan dosen saya waktu itu, yang ketika Kompas terbit dengan by name, dengan bangga saya katakan kepadanya, “Tuh, Pak, Transformasi lebih dulu daripada Kompas.”

Pendalaman tulisan dengan pendekatan Jurnalisme Sastrawi makin terasah saat saya mengikuti pelatihan pers mahasiswa tingkat nasional yang digelar LPM Hayam Wuruk Universitas Diponegoro pada 2005 (peserta pelatihan baik di Teknokra maupun Hayam Wuruk telah melalui proses seleksi yang ketat). Waktu itu pelatihan digawangi oleh Agus Sofian dan Linda Christanty.

Secara praktik, pendekatan Jurnalisme Sastrawi dalam penulisan berita membutuhkan usaha yang sangat besar, seperti waktu peliputan yang panjang dan dana tak sedikit. Hal ini agak sulit dipraktikkan oleh pers mahasiswa. Oleh karena itu, tulisan dengan pendekatan Feature dirasa cukup untuk menyalurkan keilmuan yang pernah didapat.*

 

Unduh buku Cahaya di Ufuk Timur, klik ini.