Spread the love

Sudah dibaca 785 kali

“Dia perwira berprestasi. Ahli berpikir dan atur strategi. Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut di Semarang.” Memet berkata seperti main tebak-tebakan.

Cepi melirik. “Kenapa? Mau datang menjengukmu?”

“Bukan. Namun yang pasti dia akan mendekam di penjara seperti kita.”

“Lho, kenapa? Perwira berprestasi kok menginap di hotel prodeo?”

“Dia tertangkap basah mengonsumsi narkoba.”

“Komandan makan narkoba? Gila!” Cepi mendengus. Ia jarang sekali mendengar perwira TNI terlibat narkoba. “Apa dia tertangkap sendirian?”

“Kolonel ASB ini ditangkap di Hotel C, Simpang Lima, Semarang, lagi ngisep sabu. Yang antar sabu ke hotel anggota kepolisian dari Direktorat Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Tengah Brigadir RS. Informasi soal keduanya didapat usai penangkapan jaringan sindikat narkotik yang melibatkan anggota Detasemen Markas Polda Jawa Tengah Iptu H.” Memet langsung menutup koran. Ia geleng-geleng kepala tak percaya.

“Kalau kasus ini dikembangkan terus, bisa-bisa selusin lebih tentara dan polisi kena sapu, Met. Prihatin, prihatin…”

“Berarti stereotip konsumen narkoba tak lagi orang berakal pendek, bodoh, dan kurang pendidikan. Konsumen narkoba sekarang ini bergeser menjadi orang berprestasi, berpendidikan tinggi, punya pengaruh besar pada banyak orang, mengerti hukum, dan sangat paham tentang bahaya narkoba.”

“Ini sangat mengerikan ya, Met.”

“Begitulah. Tapi aku yakin, sekelompok orang senang dengan kondisi ini.” Memet mengawangkan pandang, mengusap-usap hidungnya dengan jari telunjuk. Keningnya berkerut-kerut.

“Bandar narkoba?”

“Dugaanku, tujuannya bukan semata motif ekonomi, Cep! Lebih dari itu; menghancurkan negeri ini!” Suara Memet makin lama meninggi. Ia tampak geram.

Cepi terpana.

“Semua kalangan telah berhasil dimasuki narkoba. Anak sekolah, mahasiswa, orangtua, polisi, hakim, jaksa, tentara, pengusaha, anggota DPRD, pengacara, de el el. Lama-lama, negeri ini dihuni oleh orang-orang yang mudah dikendalikan oleh bandar  narkoba. Kau tahu, konsumen narkoba akan melakukan berbagai cara agar bisa terus mengonsumsi barang haram itu. Termasuk rela jadi budak si bandar. Bisa-bisa, martabat dan negeri ini juga mereka gadaikan pada si bandar narkoba.”

“Indonesia kini tak lagi jadi pasar peredaran narkoba, tapi malah produsen!”

“Kalau para petinggi aparat penegak hukum sudah termakan narkoba, jangan harap para konsumen dan pengedar narkoba yang tertangkap dihukum berat. Mereka pasti bekerja sama.” Memet melepas napas berat. Meski seorang koruptor, ia sangat membenci narkoba. Ia pengusaha, jual barang apapun yang bisa dijual. Kalau jual narkoba, ia khawatir anak, istri, dan saudara-saudaranya ikut mengonsumsi narkoba. Harta mereka akan habis untuk beli narkoba. Ia takut, mereka akhirnya akan minta uang padanya. Itulah kenapa ia tak jualan barang itu.

“Narkoba betul-betul mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dong, kalau begitu!”

Memet manggut-manggut.

“Tapi kenapa Pak Presiden malah beri grasi kepada sejumlah pengedar narkoba ya?” Ingatan Cepi melayang pada ulah Presiden SBY yang memberi grasi pada warga negara Australia SC dan MF alias O. Ia membayangkan betapa sakit hati petugas Badan Narkotika Nasional, aparat kepolisian, dan sebagian masyarakat Indonesia pada kebijakan tak bijak Pak Presiden itu. Sebaliknya, keputusan itu memberi angin surga kepada pengedar narkoba skala nasional dan internasional untuk semakin rajin, gigih, dan disiplin mengedarkan narkoba.

“Soal itu, tanya saja pada rumput yang bergoyang.” Memet coba mengait-ngaitkan narkoba dengan musisi Ebiet G. Ade. “Persoalannya lagi, terpidana kasus narkoba yang dihukum mati sangat lama dieksekusi. Akhirnya mereka makin agresif mengendalikan peredaran narkoba dari balik penjara. Seorang pengedar narkoba pernah bicara bahwa ia jualan narkoba agar bisa dapat grasi; duit hasil jualan narkoba buat sogok sana sogok sini.”

“Berarti hukum negeri ini tidak serius soal hukuman terhadap pengedar narkoba ya, Met.” Itu pernyataan Cepi, bukan pertanyaan. “Sama dengan hukuman bagi koruptor macam kita.”

“Yang tidak serius bukan hukumnya, melainkan petugasnya.”

“Jadi bagaimana masa depan negeri ini kalau tentaranya saja sudah tercemar narkoba?” Cepi kembali ke pokok pembicaraan.

“Itu, kan, kasuistis, Cep. Jangan digeneralisasi. Jangan sampai ulah satu perwira brengsek merusak kredibilitas perwira lainnya yang bersih dan berintegritas tinggi pada keutuhan NKRI.”

Tiba-tiba Memet merasa khawatir anak dan istrinya menjadi konsumen bahkan pengedar narkoba. Rautnya berubah cemas.

“Kamu kenapa, Met. Kok kayak orang kehabisan darah gitu?”

“Aku, aku takut anak-istriku jadi konsumen narkoba, Cep. Aku, aku harus segera pulang.”

Cepi nyengir. “Pulang ke Hongkong! Kamu saja masih kena kasus korupsi, di tahan di sini, mana bisa kamu nasihati anak-istrimu agar tidak mengonsumsi narkoba?! Contoh lebih mengena daripada ucapan, Met!”

“Lho, aku, kan, di sini bukan karena kasus narkoba. Jadi aku masih berhak bicara soal itu, dong.”

“Aku yakin itu bukan alasan utamamu, Met. Aku tahu watak aslimu.”

Memet terdiam. Air matanya mengalir. “Kau sangat mengerti aku, Cep. Aku sebenarnya takut. Kalau mereka konsumen narkoba, barang-barang di rumahku habis dijual mereka. Hartaku pun bakal ludes.”

Cepi menyingkir, membiarkan Memet melepaskan kesedihannya.

Dengan mata basah, Memet menatap Cepi. “Cep, aku takut.. hiks… hiks…”

Cepi merapatkan tubuhnya ke jeruji besi. Kakinya gemetar. Melihat Memet mendekatinya, ia memukul-mukul jeruji. “Pak, keluarkan saya dari sini! Pak, cepat! Pak! Akh…!”*

Jakarta, 7 Mei 2013.