Spread the love

Sudah dibaca 754 kali

Talaud Sore Hari
Suasana sore di dermaga Pelabuhan Melonguane, Pulau Karakelang, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, 19 November 2014.

Senin sore, 22 Juni 2015, seorang teman menceritakan kegelisahannya pada saya. Di kampungnya di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, jarang sekali ada pengajian anak-anak di sore hari. Bukan karena anak-anaknya tidak mau ngaji, melainkan guru yang mau mengajarkan mengaji tidak ada.

Orang dewasa di kampungnya, kata teman saya, banyak yang merantau ke Jakarta atau kota lain untuk mencari nafkah. Ini imbas kurangnya lapangan kerja di kampungnya.

Saya menatap wajah teman saya yang diliputi kemuraman dengan penuh haru. Sebab, sebagai seorang perantau yang lama tinggal di Jakarta, ia masih peduli dengan nasib anak-anak di kampungnya. Biasanya perantau hanya peduli pada keluarga dan tetangga di kampungnya, luput memikirkan situasi keberagamaan generasi penerus bangsa.

Ia punya ide. Ia ingin mengumpulkan dana gotong royong untuk menggaji guru ngaji. Nanti guru itu tidak perlu mencari pekerjaan di perantauan. Ia cukup mengajarkan pelajaran agama kepada anak-anak dengan gaji yang diterima. Kalaupun ia ingin tetap bekerja, jangan sampai mengganggu waktu mengajarnya di sore hari.

Bagi saya, itu suatu solusi tepat. Kita tidak bisa memaksa orang berbuat baik (mengajarkan ilmu agama) namun kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi. Memberi mereka gaji sama saja memberi pekerjaan kepada mereka.

Lalu ia bertanya pada saya bagaimana cara menggalang dana. Saya katakan, menggalang dana sosial butuh sikap amanah dan tranparansi. Dana yang digalang harus benar-benar dimanfaatkan tanpa dikorupsi dan proses penggunaan dana harus diumumkan secara terbuka kepada para donatur.

Sepulang kampung nanti, ia bisa memulai proyek mulianya dengan mencari guru ngaji yang bersedia menjalankan idenya. Juga pengurus masjid yang mengawasi jalannya proses pengajian. Ia pun bisa menceritakan idenya kepada pengusaha sukses Purbalingga perantauan yang hendak membangun desanya.

Saya yakin banyak sekali dermawan di negeri ini. Juga orang kaya yang tengah mencari peluang untuk mendermakan dananya. Mereka mencari lembaga dan individu yang amanah menjalankan proyek kemanusiaan dan siap menyalurkan pundi-pundinya. Dengan mudah mereka dapat disapa melalui situs internet dan media sosial. Banyak contoh penggalangan dana kemanusiaan yang sukses digulirkan melalui media sosial.

Nah ini bukan hanya proyek duniawi semata. Ini proyek akhirat! Mendukung aktivitas keagamaan berupa pembekalan ilmu agama (mengaji) kepada anak-anak adalah pekerjaan mulia. Pahalanya berlimpah ruah selama ilmu tersebut diamalkan oleh anak-anak.

Saya teringat pada masa kecil saat mengaji. Selama tiga tahun semasa SMP saya belajar baca Iqra hingga al-Qur’an di musala kecil yang dikelola Alm. Prof. Deliar Noer dan istrinya. Musala itu berada dalam kompleks rumahnya yang luas di Jalan Swadaya Raya, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Meski sibuk mengajar di kampus dan aktif dalam dunia politik, Alm. Deliar Noer selalu menyempatkan diri mengajarkan iqra kepada anak-anak, termasuk saya. Anak-anak yang membaca al-Qur’an diserahkan pengajarannya kepada guru lain.

Tiap ada anak yang khatam al-Qur’an, digelar syukuran berupa makan bersama. Tiap tahun juga diselenggarakan lomba seperti tilawatil Qur’an, salat, dan azan. Jika ada peringatan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi SAW dan Isra’ Mi’raj, digelar tausiyah oleh guru ngaji.

Kami, anak-anak kampung, senang menjadi murid pengajian di sana. Anak-anak dari berbagai RT dan RW, bahkan yang tinggal terjauh yaitu sekitar kantor camat Duren Sawit, datang tiap menjelang magrib dan pulang usai salat isya. Suasana itu masih ada hingga kini ketika usia saya sudah berkepala 3 dan tak lagi tinggal di Duren Sawit. Bahkan ketika Alm. Deliar Noer sudah meninggalkan pengajian itu 6 tahun lalu (2009).

Saya berangan-angan, andai banyak orang kaya sebaik mereka, yang menggunakan dana atau yayasan yang dikelolanya untuk menjalankan proyek akhirat berupa pembekalan ilmu agama, santunan dan pembinaan kepada anak-anak yatim-piatu dan dhu’afa, alangkah makmurnya negeri ini. Anak-anak itu adalah aset negeri ini dalam menjalankan negara menjadi lebih beradab.

Angan-angan itu, melihat kenyataan sekarang, sepertinya akan berubah menjadi kenyataan. Sebab, sudah banyak proyek kemanusiaan dan akhirat yang didukung para dermawan melalui penggalangan dana di dunia maya. Saya sangat yakin banyak sekali orang kaya, bahkan ekonomi pas-pasan, yang mencari peluang untuk mendermakan sebagian rezekinya untuk kebaikan sesama. Mereka tengah mencari media penyaluran yang amanah dan dapat dipercaya. Wallahu’alam bish shawab.

 

Jakarta, 23 Juni 2015.