Spread the love

Sudah dibaca 943 kali

Beberapa bulan sebelum suksesi kepemimpinan Andi Tenri Dala dari jabatan Ketua FLP DKI yang digelar pada Januari 2007, aku berdiskusi dengan seorang teman sambil makan soto kambing di kawasan Matraman Jakarta Timur. Dalam diskusi tersebut kami membicarakan persoalan yang dihadapi FLP DKI dan sedikit membahas mengenai siapa pengganti yang cocok mengemban amanah berikutnya. Kami memilih beberapa orang kandidat dan menyepakati satu orang yang layak menggantikan Dala. Teman itu sempat melontarkan rencananya ke depan, bahwa ia tidak akan lagi memegang peran penting dan memfungsikan diri sebagai penyokong. Aku pun tidak jauh beda. Aku enggan memegang peran penting di kepengurusan, mengendurkan syaraf sebagai penyokong saja di belakang lantaran sudah lima tahun bergulat di FLP DKI, dan lebih memilih mementingkan diri sendiri dengan mencari banyak uang (kerja) diselingi aktivitas menulis yang padat. Ya, aku sudah lelah berorganisasi. Sepanjang kuliah (1999-2006) aku menyibukkan diri di satu organisasi, memegang peran penting, dan melipatgandakan kegiatan dengan bergabung dengan FLP DKI pada pertengahan 2002. Aku tidak pernah merasakan nikmatnya liburan semester dan asyiknya memikirkan diri sendiri.

Namun rencana itu tak berjalan baik. Menjelang suksesi, sebagian teman menunjukkan dukungannya padaku. Mereka menginginkan aku menggantikan Dala. Aku terang saja menolaknya dan meminta mereka memilih yang lain. Hingga suksesi pada 14 Januari 2007 di teras Masjid Jami YARSI, suara itu tidak berubah.

Saat suksesi aku masih berusaha menggolkan rencana semula. Dia memang maju sebagai kandidat, tapi pada akhirnya dia menerangkan bahwa dia tidak bisa mengemban amanah lantaran pekerjaannya. Dan memang benar, sejak itu dia tak muncul lagi di pertemuan FLP DKI karena kesibukan kerja yang padat—sering ke luar kota.

Sudahlah, memang itu kemauan teman-teman. Aku pun tidak bisa melarikan diri dengan mengutarakan keberatan disertai banyak alasan; cari kerja mapan untuk kepentingan masa depan, konsentrasi menulis, dll. Sebab aku sangat tahu bagaimana anggota FLP DKI, sejak aku masuk pada pertengahan 2002, berusaha membangun organisasi ini dengan susah payah. Banyak pengorbanan baik harta, tenaga, dan pikiran yang disumbangkan. Padahal tidak digaji sepeser pun! Keuntungan prestise pun kupikir tidak ada. Kalau aku melarikan diri, aku merasa tidak bertanggung jawab. Itu perasaan yang melingkupi hatiku waktu itu.

Lalu, sebelum menutup Musyawarah Cabang, aku mengutarakan visi-misi yang sebenarnya akan kuungkapkan pada ketua terpilih. Dan visi-misi itu menjadi kompas pada pembentukan struktur kepengurusan dan program kerja.

Aku banyak menaruh harapan pada pengurus FLP DKI Periode 2007-2008. Beberapa kali aku bongkar pasang nama dan jabatan di atas kertas sebelum mengumumkannya ke teman-teman. Alhamdulillah, sebelum kuumumkan, saat kukonfirmasi tak satu pun teman-teman menolak kuminta menduduki amanah tersebut.

Kemudian aku menetapkan pondasi kepengurusan yang bersifat normatif. Bahwa kepengurusan harus berjalan secara transparan, demokratis, saling menolong dan menasihati, mendasarkan hubungan antarpersonal dengan cinta, dan memuarakan segala tujuan untuk menggapai ridha Ilahi.

Pada praktiknya nilai-nilai ini mengalami dinamika. Sebagian ada yang memahami, sebagian lagi tidak. Sebagai Ketua, aku harus memosisikan diri sebagai orang bijak yang harus menjaga nilai-nilai tersebut. Mengingatkan teman-teman yang lalai. Sejak awal aku pun mengumumkan diri sebagai orang yang terbuka, tidak antikritik, berusaha transparan, dan bersedia diajak bicara empat mata serta curhat kapan dan di manapun. Ini sangat penting agar aku bisa dekat dengan teman-teman pengurus.

Dalam kondisi itulah aku, alhamdulillah, menemukan spiritualitas seorang pemimpin, di tengah dinamika kurang sehat organisasi seperti rasa cemburu, buruk sangka, intrik, dll. Aku melihat masalah-masalah itu muncul lantaran masalah komunikasi, kurang memahami watak teman, dan koordinasi. Aku berpikir, sebagai organisasi berasas Islam, kenapa tidak kita ejawantahkan nilai-nilai islami dalam menjalankan organisasi, seperti tidak berburuk sangka, mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi, tidak pamrih, ikhlas menjalankan tanggung jawab, mengutamakan musyawarah, menjalin komunikasi yang hangat, dll. Sebagai orang yang selalu menyuarakan ini, minimal pada diri sendiri, aku pun tidak menganggap diri telah sempurna melakukannya. Aku merasa banyak sekali kekurangan yang kualami, namun aku berusaha mengatasinya dengan introspeksi dan membuka diri; menerima kritik, transparan, tidak berburuk sangka.

Aku menemukan sejumlah pengertian yang telah kuungkapkan pada teman-teman. Bahwa sebaiknya perilaku organisasi, yang dimotori para pengurusnya, agar didasari atas cinta. Ini diawali pada hubungan antarpersonal. Bahwa kita adalah bersaudara di bawah naungan Islam. Semua tindakan berdasar cinta kasih. Bahwa saran, kritik, ejek, sindir, cemburu, prasangka, bahkan caci maki, merupakan ungkapan kasih sayang demi membangun organisasi yang lebih baik. Meskipun kadar pemahaman tiap orang berbeda.

Kemudian, bahwa jangan sampai gara-gara persoalan organisasi, jalinan pertemanan atau ikatan silaturahmi putus. Apalagi putus dengan rasa benci dan jauh dari ikhlas. Bagaimanapun, sebagai organisasi komunitas, FLP sangat mengutamakan ikatan silaturahmi dalam naungan ukhuwah islamiyah.

Tiap bertemu dan mendengar ungkapan serta nasihat dari pendiri FLP seperti Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, aku selalu merasa termotivasi dan ‘berbangga diri’ bahwa aku berada di sebuah organisasi yang dibangun dengan idealisme dan semangat pengorbanan. Tujuan mereka mendirikan FLP memang sangat mulia; mengajak orang untuk belajar menulis, mengekspresikan diri, dan melakukan perubahan terhadap lingkungan sekitar. Anggotanya adalah para relawan yang ‘harus’ bersedia belajar dari orang lain dan membagi ilmu pada orang lain. Inilah organisasi pengkaderan sejati.

Dengan asas Islam yang dinamis dan selalu memuarakan kerja keras para relawannya pada ridha Allah SWT, FLP semakin berkembang, meluas, dan memiliki keanggotaan yang makin banyak—nasional dan mancanegara. Bahkan, secara nyata, FLP merupakan satu-satunya organisasi kepenulisan di Indonesia yang memiliki keanggotaan dan struktur yang jelas, terus bertahan hingga 10 tahun, menjadi trendsetter di belantika sastra Indonesia dengan karya-karya islami, dan memiliki pasar yang jelas. Kendati demikian kemajuan ini jangan sampai membuat para anggotanya tinggi hati.

Dapat dikatakan para relawan ini adalah ‘pelayan masyarakat’. Menurut Budayawan Sujiwo Tedjo, ada dua ciri khas positif yang dialami pelayan masyarakat (yang sudah berkeluarga)—ia mendasarkan pernyataannya pada penelitian kecil-kecilan yang dia lakukan. Bagi yang sudah berkeluarga, ia akan menerima rezeki yang datang dari mana saja dan tak terpikirkan. Kedua, anak-anaknya tidak pernah sakit. Bagaimana dengan yang belum berkeluarga alias masih lajang seperti kebanyakan pengurus FLP DKI? Kupikir tiap pelayan masyarakat sudah merasakannya sendiri.

Tulisan ini kubuat untuk kembali menyemangati pengurus FLP DKI, termasuk aku sendiri, yang sepertinya mengalami stagnasi, kejenuhan, atau pun dinamika yang kurang berkembang; program kerja yang tidak berjalan maksimal, jarangnya tatap muka antarpengurus, miss komunikasi. Kondisi ini akhirnya mengakibatkan organisasi tidak berjalan maksimal. Dinamika perkembangan sastra, yang pada Ode Kampung 2 (20-22 Juli 2007) ditegaskan kembali, kurang menjadi perhatian FLP DKI. Program reproduksi karya berupa pengumpulan karya dalam bentuk antologi tidak berjalan maksimal.

Tentu kondisi ini dapat dijadikan cermin bagi kita untuk berefleksi diri. Apakah ada yang salah dengan sistem yang kita bangun? Apakah sekarang kondisinya memang demikian sehingga menunggu waktu saja untuk berubah? Atau apakah kita terlalu sibuk dengan kepentingan pribadi?

Bagaimanapun kita harus segera melakukan penyegaran. Pembenahan, baik pada tataran organisasi maupun hubungan antarpersonal, diperbaiki. Semua ini dapat dilakukan dalam kondisi yang kondusif, penuh kebersamaan, tiada prasangka negatif (suuzan), tidak egois, tidak mencurigai, jujur, tulus, dan ikhlas. Ini hanya bisa dilakukan bila hati kita bersih dan meniatkan semua usaha untuk mengharap ridha Allah SWT. Semoga Ramadhan nanti mampu membuat hati kita bersih dan menemukan ‘ruh azali’.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 4 September 2007.