Spread the love

Sudah dibaca 1038 kali

Pada Ahad 20 Mei 2007 Forum Lingkar Pena DKI Jakarta mengadakan peluncuran buku, talkshow, dan silaturahmi. Acara ini digelar di toko buku MP BOOK POINT, Jalan Puri Mutiara 72, Jeruk Purut, Jakarta Selatan.

Ada dua novel yang diluncurkan, yaitu “Dan Cinta Pun Rukuk” karya Dani Ardiansyah dan Lulu El-Maknun, dan “Himitsu” karya Achi TM. Dani dan Achi anggota FLP DKI Jakarta. Talkshow menghadirkan Boim Lebon (moderator), Zaenal Radar, Taufan E. Prast, Sokat, dan Billy Antoro. Kecuali Boim Lebon, keempatnya pernah dan masih aktif di FLP DKI. Dalam talkshow ini juga diluncurkan kumpulan cerpen “Suparman Pulang Kampung” (LPPH, Mei 2007). Cerpen lima penulis di atas termuat di antara 11 cerpen dalam kumpulan cerpen tersebut.

Acara ketiga adalah Silaturahmi FLP Wilayah Jakarta, Bekasi, Depok, Ciputat (FLP Jabedeci). Hadir sebagai panelis dalam acara tersebut Koko Nata (Bekas Ketua FLP Depok), Hadi (Ketua FLP Depok), Rahmat (Penanggung Jawab Kaderisasi FLP Ciputat—mewakili Ketua Andro yang berhalangan), Wiwik Sulistyowati (Ketua FLP Bekasi), dan Billy Antoro (Ketua FLP DKI).

Pada intinya isi diskusi merupakan sosialisasi program kerja yang pernah disusun Billy, Koko, Andro, dan Wiwik pada 29 April 2007—saat World Book Day di lobi Gedung Departemen Pendidikan Nasional.

Ada tiga buah program kerja yang didiskusikan: pelatihan penulisan cerpen, Latihan Dasar Kepemimpinan, dan diskusi rutin kepenulisan dan sastra dwiwulan.

Koko Nata bicara mengenai keharusan peningkatan kualitas para anggota FLP. Barangkali dapat ditafsirkan bahwa banyaknya buku karya anggota FLP yang diobral murah di toko buku atau pameran buku menandakan kurangnya minat pasar terhadap karya-karya tersebut. Dan kualitas berkaitan dengan minat pasar. Namun ini pun dapat dibantah dengan turut banyaknya karya sejumlah sastrawan nasional yang diobral. Namun, semua memahami, kualitas karya anggota FLP harus ditingkatkan.

Koko termasuk ‘orang dekat’ FLP Pusat sehingga mengetahui sejumlah rencana yang akan dijalankan FLP Pusat, di antaranya sayembara penulisan novel bertema sejarah, pada Juli mengadakan lokakarya pembuatan modul untuk kaderisasi di jenjang muda, madya, andal. Ia berharap sebelum silaturahmi Nasional pada 2008, FLP Jabedeci sudah kuat, baik kepengurusan maupun kualitas karya.

Mengenai generasi di FLP, Koko berpendapat orang-orang yang kini memegang amanah memimpin FLP tergolong generasi ketiga alias 3G (Three—Third Generation). Generasi pertama adalah pendiri seperti Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Generasi kedua seperti Azimah Rahayu dan Rahmadiyanti yang menjadi pengurus saat generasi pertama memimpin. Generasi ketiga adalah orang-orang yang menjadi anggota atau pengurus saat generasi kedua memimpin, atau wajah baru yang baru kenal dengan dunia penulisan.

Rahmat bicara tentang dua hal yang menjadi perhatian dalam pembinaan di FLP Ciputat. Pertama mengenai pelatihan, kedua tentang keanggotaan. Soal pelatihan, ada tiga fokus yang menjadi arahan pembinaan: peningkatan mutu penulis, tulisan terbit, dan terjual. Ketiganya saling terkait. Sambil terus meningkatkan mutu tulisan dan menghasilkan karya, anggota diarahkan agar bisa menerbitkan karyanya. Namun menerbitkan karya belum cukup sebelum disempurnakan dengan kemampuan menjual karya. Agar kualitas karya dapat ditingkatkan, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah pengadaan modul.

Wiwik mengulas mengenai kendala yang dihadapi FLP Bekasi. Bahwa banyak anggotanya masih bergelut pada bagaimana membuat sebuah karya. Untuk memotivasi agar para anggota mau dan terus berkarya, FLP Bekasi membuat penerbitan independen bernama ‘Fresh Publishing’..Penerbit ini sudah menerbitkan sebuah buku antologi cerpen FLP Bekasi sekitar setahun lalu. Namun, Wiwik akui, keberadaan penerbit itu tak mampu lagi memotivasi para anggota.

Wiwik sangat berharap diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan bagi pengurus FLP tingkat cabang. Ia melihat bahwa pengurus harus memiliki sejumlah keterampilan dasar untuk memajukan organisasi. Selama ini banyak pengurus tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terlebih motivasi membangun organisasi selalu pasang-surut karena berada dalam sebuah organisasi nonprofit yang senantiasa menyedot banyak energi.

Dalam sesi tanya-jawab, rata-rata penanya bertanya tentang tiga program kerja tersebut, seperti kenapa pembicaranya dari orang-orang yang bergelut di sastra saja, kenapa pelatihan cerpen saja tidak nonfiksi, dll. Ada yang mengusulkan agar FLP Jabedeci membuat antologi kasih, juga melakukan advokasi pada anggota dalam menghadapi penerbit.

 

Lahirnya FLP Jabedeci

Pada 15 April 2007 FLP Depok mengadakan acara silaturahmi dan mengumpulkan empat cabang FLP; FLP Depok, FLP DKI, FLP Bekasi, dan FLP Ciputat. Hadir dalam pertemuan itu Irfan Hidayatullah, Ketua Umum FLP.  Salah satu agenda pertemuan adalah pembicaraan mengenai masa depan FLP Wilayah DKI Jakarta. Sebab, selama hampir dua tahun sejak Musyawarah Wilayah pada September 2005 di gedung Penerbit Gema Insani Press, Depok, Jawa Barat, tak satu pun program dijalankan oleh kepengurusan FLP Wilayah DKI Jakarta. Menurut pengakuan salah satu pengurusnya Asa Mulchias, tak pernah terjadi koordinasi di antara pengurus semenjak dibentuk kepengurusan. Ketuanya Arulkhan sendiri tidak diketahui keberadaannya, meninggalkan begitu saja kepengurusan tingkat wilayah ini—pada akhirnya diketahui dia berada di Padang, Sumatera Barat. Kondisi ini membuat gelisah sejumlah pengurus cabang yang dinaungi.

Maka, pada pertemuan tersebut FLP DKI mengusulkan agar format FLP Wilayah diubah menjadi presidium. Irfan menetapkan, pembicaraan mengenai FLP Wilayah dilanjutkan hingga Musyawarah Wilayah yang akan digelar pada September 2007. Untuk mengisi kekosongan, ia memberi mandat kepada Billy untuk menggantikan sementara ketua lama hingga September 2007—Musyawarah Wilayah.

Menjelang Muswil, Billy dan ketiga ketua cabang lain berkoordinasi, merencanakan kegiatan bersama yang bersifat pragmatis; bermanfaat secara langsung dalam jangka pendek. Pada 29 April 2007 keempatnya berkumpul di lobi Gedung Depdiknas untuk menyusun program kerja, di sela-sela acara world Book Day.

Nama FLP Wilayah Jabedeci usulan dari FLP DKI, tepatnya oleh Billy Antoro. Nama ini dirasa perlu karena selama ini nama FLP Wilayah DKI Jakarta ‘agak mengganggu’ nama FLP Cabang DKI Jakarta. Nama ‘FLP Wilayah DKI Jakarta’ terkesan sekadar menaungi FLP tingkat cabang yang berada di Jakarta saja. Bagaimana dengan Depok dan Bekasi yang masuk wilayah Jawa Barat? Tidak elok kalau mengatakan mereka berada ‘di sekitar Jakarta’ sehingga tidak apa-apa.

Kini dalam penyebutan nama ke publik FLP DKI tidak perlu lagi mencantumkan kata ‘cabang’—untuk membedakan keberadaannya dengan FLP tingkat wilayah. FLP DKI Jakarta, lengkapnya, diucap singkat dengan sebutan FLP DKI, bukan FLP Jakarta, karena para anggotanya sudah terbiasa mengucapkan nama tersebut.

 

Mei 2007