Spread the love

Sudah dibaca 7093 kali

 shalawat-cinta-nabi

Sering persoalan dan konflik bikin hati kita marah. Makin dirasa, hati kita seperti terbakar, sesak, dan keras. Pikiran berkecamuk, dipenuhi rasa benci kepada lawan konflik kita. Rasanya lega jika dilampiaskan kepada orang yang membuat kita marah.

Dalam kondisi ini, kita punya dua pilihan: melampiaskannya atau meredamnya. Pilihan pertama akan mengajak kita pada situasi konflik yang berkepanjangan. Minimal melampiaskan kemarahan pada orang lain. Pilihan kedua menuntun kita, umat Islam, kepada jalan yang telah diajarkan: zikir dan shalawat.

Di surat Ar-Ra’du ayat 28, Allah Swt memerintahkan kita untuk berzikir (mengingat Allah) agar hati kita tenteram. Kita pun dapat menambahnya dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Saat hati kita kecewa, marah, dan ingin meledak, menyepilah. Atau menyendiri, tidak berinteraksi dengan orang lain. Lalu bacalah tasbih, tahmid, dan takbir berulang kali. Setelah itu bershalawat beberapa kali. Resapkan dalam-dalam apa yang kita ucapkan ke dalam hati.

Saat membaca shalawat, bayangkanlah tiga kisah Muhammad Saw menaklukkan kemarahan. Pertama, kisah beliau yang selalu dihina dan diludahi oleh tetangganya tiap melintasi rumahnya. Beliau tak pernah membalas perlakuan itu dengan marah. Beliau membalas penghinaan itu dengan senyuman.

Ketika tetangga itu tak lagi terlihat, beliau heran dan mencari kabar tentangnya. Ternyata tetangga itu sedang sakit. Lalu beliau menjenguknya dan mendoakannya. Melihat budi baik beliau, tetangga itu menangis dan meminta maaf kepada Muhammad Saw. Lalu ia masuk Islam.

Cerita kedua tentang Muhammad Saw yang diusir oleh penduduk Tha’if saat hendak berdakwah di kota itu. Mereka tak hanya mengusir dengan caci-maki dan hinaan, melainkan pula melempari beliau dengan batu dan kotoran. Dalam pelariannya dengan segenap luka dan sedih, malaikat menghampirinya dan meminta izinnya untuk mengangkat sebuah gunung dan menimpakannya kepada penduduk Tha’if. Malaikat, yang diciptakan dari cahaya, yang seluruh hidupnya dibaktikan untuk menyembah Allah, marah melihat perlakuan manusia kepada kekasih Allah Swt.

Namun Nabi Saw melarang keinginan malaikat itu. Ia justru berdoa kepada Allah Swt agar memaafkan pendudukan Tha’if dan memberi hidayah kepada mereka.

Kisah ketiga tentang pengemis buta di pojok pasar. Setelah Nabi Saw wafat, Abu Bakar bertanya pada Siti Aisyah, apa yang dilakukan Nabi Saw yang tak pernah dilakukannya. Setelah diberitahu oleh anaknya itu, Abu Bakar pergi ke pasar. Di sana ia menjumpai seorang pengemis tua dan buta, berteriak-teriak menghina Nabi Muhammad Saw.

Abu Bakar menghampiri lelaki itu, mengeluarkan makanan yang dibawanya, dan menyuapi si lelaki buta. Sambil mengunyah suapan makanan, lelaki itu terus melontarkan caci makinya kepada Nabi Saw. Menganggapnya sebagai orang gila. Abu Bakar berupaya meredam marahnya.

Belakangan si lelaki tua buta merasa ada yang aneh. Ia tak merasa suapan makanan yang diterimanya tak seperti yang biasa ia terima. Ia menuduh Abu Bakar bukan orang yang biasa menyuapinya. Abu Bakar lalu bertanya apa yang dilakukan orang yang biasa menyuapinya. Kata lelaki buta, orang yang menyuapinya selalu mengunyah makanan hingga halus sebelum memasukkannya ke mulut lelaki itu.

Saat itulah Abu Bakar menangis. Ia membayangkan bagaimana seorang pemimpin mulia yang selalu dihina namun memperlakukan orang yang menghinanya dengan sangat lembut.

Lelaki tua buta itu bertanya ke mana orang yang biasa menyuapinya. Abu Bakar berkata bahwa orang itu sudah wafat. Ia adalah orang yang selama ini dihina dan dianggap gila oleh lelaki tua buta. Abu Bakar mengatakan bahwa orang mulia itu adalah Muhammad Saw.

Lelaki tua buta itu kaget lalu menangis. Ia menyesali perbuatan yang dilakukannya selama ini.

Tiga kisah ini mengajarkan kita tentang kaitan marah dan maaf. Nabi Saw tidak marah ketika dirinya dihina, diperlakukan buruk, dan dianggap gila. Ia merespon positif perlakuan negatif itu dengan memaafkan dan mendoakan orang-orang itu. Kita belajar dari beliau bahwa kekuatan terhebat menaklukkan orang bukanlah dengan kekerasan, melainkan sikap lembut dan tawakal kepada Allah. Sebab, hakikatnya, orang berubah bukan karena usaha kita. Hanya Allah yang bisa mengubah sifat dan perilaku hamba-hamba-Nya.

Maka, ketika kita dilanda perasaan marah, berzikirlah ditempat sepi, bershalawat dan ingatlah ketiga kisah Nabi Saw itu. Bayangkan bahwa masalah yang kita hadapi tak ada apa-apanya dibandingkan dengan peristiwa yang telah dilalui Nabi Saw. Beliau, manusia mulia dan maksum, telah dijamin masuk surga oleh Allah Swt, tak pernah menunjukkan sikap sombong kepada orang lain. Tak pernah menunjukkan kemarahan bahkan kepada orang-orang yang menghinanya. Apalah kita manusia biasa, yang sering berbuat salah, merasa benar dan berhak melampiaskan kemarahan pada orang yang belum tentu salah.

Tancapkan keinginan dalam diri untuk bisa melakukan apa yang telah dicontohkan Nabi Saw: meredam sikap marah dan membalasnya dengan tersenyum dan berdoa. Menaklukkan keangkuhan orang yang menghina dengan sikap sabar dan tawakal.

Kalau Anda sedang mengendarai sepeda motor atau mobil, Anda bisa berzikir, bershalawat, dan mengingat kisah Nabi Saw itu sambil menyetir. Resapi, bayangkan dalam-dalam bahwa Anda ingin melakukan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dalam meredam amarah. Lalu rasakanlah, perlahan-lahan, hati Anda akan lunak. Kemarahan Anda akan lumer, mencair seperti es batu diterik mentari. Perlahan-lahan pula, Anda akan merasakan genangan air keluar dari pelupuk mata Anda. Hangat menyusuri pipi.

Jadilah orang hebat dengan mengganti rasa marah dengan senyum. Taklukkan orang marah dengan sikap ramah. Marah hanya membuat diri kita binasa. Ramah membuat pribadi kita luar biasa.