Spread the love

Sudah dibaca 839 kali

Pada malam yang dingin beberapa tahun silam, di area parkir Taman Ismail Marzuki yang disesaki hadirin, budayawan Emha Ainun Nadjib mengalirkan kata-kata indah yang cukup menghangatkan sekujur hati. Kurang lebih begini ia berkata, “Jika tiap orang memahami arti cinta sesungguhnya, lalu orang-orang itu berkumpul dalam sebuah kelompok, maka hadirlah sebuah jamaah cinta. Tak ada yang membuat mereka bersedih dan gundah gulana karena cinta telah mengalir dalam desah napasnya.

“Tak ada marah, karena kritik yang dilontarkan, teguran yang diberikan, hujatan yang ditusukkan, dan cacian yang diungkapkan, adalah bagian dari ekspresi cinta dari hati terdalam.

“Seburuk apapun perlakuanmu padaku, tak akan mengurangi rasa cintaku padamu.”

Ketika hati telah diselimuti cinta, setajam apapun kalimat menghunjam, sekeras apapun pukulan menggodam, hati itu tak akan terluka sedikit pun. Tergorespun tidak. Mereka mencinta bukan lantaran berharap diberi, sebaliknya memberi.

Bagi seorang pencinta, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah alunan nada-nada indah. Ia putih sebening kristal, air telaga tak terjamah manusia. Cinta merasuk, menjadi arus dalam aliran darah, menjadi desir dalam helaan napas, menjadi peluh yang keluar dari pori-pori kulitnya.

Cinta menjelma jadi apa saja. Ia virus, mematikan bagi jiwa-jiwa gelap yang disesaki iri, dengki, prasangka buruk, dendam, hasut, marah. Cinta menggiring jiwa yang diselimuti amarah (an-nafs al-ammarah) menjadi jiwa yang membenci dan menyesali segala hal buruk (an-nafs al-lawwamah) hingga pada akhirnya mengantarkan jiwa pada derajat ketenangan (an-nafs al-muthmainnah).

Jiwa-jiwa yang tenang itu dikumpulkan dalam sebuah jamaah, kelompok orang-orang beriman, dalam sebuah tempat abadi. Surgaloka. Tempat para pencinta tinggal selamanya.

Cinta di sini tidak dimaksudkan pada sesama manusia. Namun antara manusia dengan pemilik cinta sejati, yaitu Allah SWT. Di sinilah cinta mengalami pemaknaan yang hakiki; ia menghidupkan, memelihara, mengasihi.

Jika cinta manusia pada penciptanya diandaikan lampu, maka sinarnya akan menerangi objek-objek di sekitarnya. Andai cinta manusia pada penciptanya dianalogikan sebagai cermin, maka ia memantulkan sinar yang datang padanya ke segala arah.

Cinta sejati itu lampu dan cermin. Ia memengaruhi segala hal yang berada di sekitarnya, dalam jangkauannya. Manusia yang mencintai Tuhan, sikapnya baik pada manusia lain. Santun dalam bicara, hangat dalam berlaku. Ia menghindarkan diri dari perbuatan yang merusak hubungan kemasyarakatan dan menghancurkan lingkungan.

Jika sebuah jamaah, kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, beranggotakan manusia-manusia yang paham akan arti cinta sesungguhnya, maka kesejahteraan dan kedamaian ganjarannya. Semua aktivitas dilakukan sekadar mengharap ridha Allah. Mereka saling menasihati, memberi perhatian, juga sokongan. Perilaku-perilaku tak baik seperti saling curiga, berprasangka buruk, dan menjatuhkan dihindari.

Jabatan sebagai pengurus, pemimpin, atau penguasa dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggung jawabkan. Kelalaian pada amanah menjadi preseden buruk antara pelanggar dengan Tuhannya dan pencorengan nama baiknya di hadapan pemberi amanah.

Sehingga pada dasarnya orang-orang yang berkelompok pun adalah individu-individu yang punya urusan masing-masing dengan Tuhannya.

Jika hubungan antara manusia dengan Tuhannya tercermin dalam perilakunya terhadap sesama manusia dan lingkungannya, maka perilaku manusia dengan sesama dan lingkungannya adalah pencerminan hubungan manusia dengan Tuhannya. Orang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhannya, maka perilakunya terhadap sesama dan lingkungannya ikut baik. Sebaliknya, orang yang memiliki hubungan buruk dengan Tuhannya, pastilah ia tidak menjaga hubunganya dengan baik antara dirinya dengan sesama dan lingkungannya.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 29 September 2009.