Spread the love

Sudah dibaca 726 kali

“90,5%, Met.”

“Apaan? PPN? Gila!”

“Memang terdengar gila. Tapi kita dan 240 juta rakyat Indonesia dipaksa untuk menerimanya.”

Memet tercenung. Tak mengerti. “Kita bicara apa sih?”

“90,5% anggota DPR sekarang mencalonkan diri lagi jadi anggota DPR di pemilihan caleg tahun depan.”

“Apa?!” Suara spontan Memet tampak seperti orang baru melihat alien.

“Biasa saja, Met. Toh kita tak bisa berbuat apa-apa.”

“Jadi parpol-parpol itu kerjaannya apa? Sepertinya tak ada kaderisasi internal di antara mereka.” Memet sewot. Ia tak pernah mengerti tentang pikiran orang-orang yang mengurusi parpol. Tentang apa yang mereka cari di dunia ini.

“Kaderisasi?” Cepi tertawa.

“Aku bisa menebak, anggota DPR periode mendatang akan berperilaku sama dengan periode ini. Jalan-jalan ke luar negeri atas nama studi banding, bolos rapat tapi tanda tangan, minim kinerja membuat undang-undang, merampok duit rakyat lewat berbagai pembahasan anggaran dengan pemerintah, de el el.”

“Stop, Met, Stop! Kalau pembicaraan kita ini diteruskan, dan ada kamera tersembunyi, kita akan dihabisi.” Nada bicara Cepi ketakutan.

“Biar! Kebenaran harus disuarakan! Ini kritik buat mereka!”

“Kita realistis saja, Met. Apa yang bisa kita lakukan?”

“Jangan lagi pilih mereka! Kita imbau rakyat Indonesia agar tidak memilih lagi anggota DPR yang kerjanya tidak beres. Aku akan menggalang massa, menggelar demonstrasi ke gedung DPR. Kalau perlu, kita kampanye golput!”

“Aku setuju, Met! Kita juga buat publikasi yang memberi edukasi ke masyarakat. Biar mereka tahu kebobrokan mereka. Tapi, tentu saja, tidak semua anggota DPR tidak beres, kan, Met?”

“Itu pasti. Kita cuma akan menyasar mereka yang punya nafsu berkuasa dan kerja asal-asalan.”

“Aku akan mendirikan markas tempat kita kumpul. Kalau perlu, kita buat ormas.” Otak politis Cepi berlari. Ia buat ormas agar bisa tawar-menawar kekuasaan dengan para pejabat negeri.

“Aku akan mengerahkan para pengusaha agar mendukung rencana kita.”

“Kapan kita mulai? Aku sudah tidak sabar lagi nih!” Tangan Cepi mengepal-ngepal geregetan.

Keduanya terdiam. Agak lama. Memikirkan rencana masing-masing. Lalu keduanya saling pandang.

“Kita masih terkurung di sini, Met. Apa bisa kita realisasikan rencana itu?”

Memet garuk-garuk kepala. “Itulah persoalan besar kita sekarang, Cep. Kita masih di sini. Boro-boro galang massa, kita sendiri tidak tahu kapan bisa lepas dari kasus ini.”

Raut sumringah Cepi berubah mendung. Lama-lama mewek. Isak tangisnya mulai terdengar. Seketika ia memeluk Memet erat. “Aku tak mau membusuk di penjara, Met… Tidak mau!”

Memet gelagapan. Ia ingin menenangkan hati Cepi, tapi tak tahu harus mulai dari mana.

“Hwa….! Hwa…!” Suara Cepi kini terdengar meraung-raung.

Teriakan Cepi mengundang perhatian dua petugas. Mereka mendekati sel. Setelah melihat dari dekat apa yang dilakukan dua tahanan itu, mereka meletakkan jemari di dada dan mengurut-urutnya, lalu pergi sembari geleng-geleng kepala.

Memet yang masih digelantungi Cepi berteriak, “Pak, kita tak melakukan apa-apa. Sungguh! Kita masih normal. Pak! Pak!”*

 

Jakarta, 1 Mei 2013.