Sudah dibaca 100 kali

Kirana baca Buku 1

Kompetensi apa yang Anda tumbuhkan pada anak Anda sehingga saat mereka masuk sekolah nanti ada keterampilan baru yang mereka kuasai?

Dua hari ini saya sangat menikmati berdiskusi dengan Kirana, putri saya (kelas II SD). Saya melatihnya menulis cerpen. Tapi saya tidak memulainya dengan mengenalkan unsur-unsur cerpen dan disiplin menerapkannya saat dia menuliskan imajinasinya. Saya tidak menargetkannya agar ia bisa menulis cerpen dalam waktu dekat. Lho, kok begitu? Saya fokus pada proses, bukan hasil.

Sama saat saya mendongeng dan membacakan buku sejak ia balita hingga TK, saya tidak menargetkan ia bisa membaca. Saya menargetkan ia senang membaca dan cinta membaca.

Hasil dari proses itu mulai kelihatan. Ia rajin membaca tanpa disuruh. Saat kami berdiskusi, ada saja kutipan buku yang disampaikannya: ia membandingkan hasil bacaannya dengan tema diskusi.

Ada beberapa target dengan melatihnya menulis cerpen. Pertama, agar ia menuliskan isi kepalanya. Ia banyak membaca, tentu banyak ide yang hinggap di kepala, minta di keluarkan. Dengan mendorongnya menulis cerpen, ia bisa mengeluarkan isi kepalanya sehingga plong dan terasa enak. Mengalirkannya melalui narasi dan tokoh yang punya keinginan.

Kedua, agar ia banyak bicara. Tipikal anak sebenarnya ingin berbagi sesuatu yang ada di kepalanya. Berbagi dalam bentuk tulisan terstruktur melalui cerpen dan berbagi dalam bentuk lisan yang disampaikan secara tak terstruktur (bebas bicara apa saja) memberinya keseimbangan dalam berpikir. Saya minta dia menceritakan hasil tulisannya dan kami mendiskusikannya.

Ahad kemarin (5/4/2020) kami menikmati asyiknya berdiskusi. Sore, saat saya mendorong sepeda yang dikendarai anak bungsu saya, ia mendekat dan membacakan cerpennya. Dengan membaca cerpen sendiri, melatih dia merefleksi tulisannya. Juga bagaimana berbicara (membacakan cerita) di depan saya.

Itu cerpen keduanya di hari itu, ditulis 2,5 halaman. Cerpen pertamanya (1,5 halaman) ditulis siang dan sudah kami diskusikan. Di cerpen kedua ini, ia menyesuaikan cerita dengan masukan yang saya berikan sebelumnya.

Usai membaca, saya menyampaikan pertanyaan, tentu didahului dengan pujian. Memang patut dipuji karena dia mengalami kemajuan, yaitu cerpen kedua satu halaman lebih panjang dari cerpen pertama. Saya tidak bermaksud mengoreksi habis-habisan isi ceritanya, melainkan memberinya banyak kesempatan untuk bercerita tentang latar belakang ceritanya yang memang lebih panjang dari tulisannya. Saya memberi perhatian penuh saat ia bercerita sampai saya agak mengabaikan putra saya yang duduk di sepeda roda tiga.

Saya sangat hati-hati menyampaikan pendapat, tidak ingin tampak seperti mengkritik. Saya ingin membesarkan hatinya bahwa latihan yang intens akan membuat tulisannya semakin bagus. Tapi, sekali lagi, saya tidak fokus pada hasil cerpennya yang harus terus mengalami kemajuan, melainkan agar ia banyak mengeluarkan isi kepalanya.

Ketiga, agar ia lancar bicara. Orang lancar bicara karena banyak bicara. Tidak mengalami kegagapan atau jeda ucapan. Dengan memberinya kesempatan untuk banyak bicara, otomatis akan membuatnya lancar menyampaikan pendapat/isi kepala.

 

Beberapa jam sebelumnya…

Karena memang berfokus pada proses, saya mulai mengenalkan cerpen dari membedah cerita yang pernah dibacanya. Saya berangkat dari pengalamannya dalam memahami sebuah cerita: ada tokoh, keinginan tokoh, konflik, dan solusi. Saya membuatkan matriknya. Agar tidak terkesan teoretis, saya bercerita pengalaman saat dulu bekerja di sebuah rumah produksi. Sebelum membuat naskah skenario, kita diminta untuk membuat sinopsis. Nah, sinopsis terdiri dari paragraf singkat yang bercerita tentang tokoh, keinginan tokoh, konflik, dan solusinya. Saya membuat matrik dan menjelaskannya secara singkat pada Ahad siang, saya mulai membedah cerita pada Sabtu malam usai membacakannya buku (bekal ini digunakannya saat membuat cerpen pertama).

Ahad siang, setelah berdiskusi tentang cerpen, kami berdiskusi tentang puisi. Ya, sudah sekian bulan saya mendorongnya untuk membuat puisi. Puisi yang saya jadikan contoh adalah kumpulan puisi penyair Joko Pinurbo berjudul “Haduh, Aku di-Follow” (KPG, 2013). Sekali lagi, fokus saya bukan agar dia bisa menulis puisi, melainkan agar ia mengeluarkan isi kepala dengan bahasanya secara bebas. Puisi Jokpin pendek-pendek dan menghibur. Saya mulai mendorong Kirana untuk mengeluarkan isi kepala dengan ungkapan pendek namun terasa enak dirasa. Jadi, tahu, kan, kenapa saya mendahului mendorongnya menulis puisi disusul menulis cerpen?

Kumpulan puisi Jokpin berikutnya yang bebas dibaca Kirana adalah buku barunya berjudul “Perjamuan Khong Guan” (GPU, 2020). Saat mengulasnya, ada hal menarik yang dikatakannya, “Di sekolah, aku disuruh bikin puisi yang berima, tapi kok puisi Jokpin nggak semuanya berima.” Saya kemudian mengambil buku kumpulan puisi Taufiq Ismail berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” di rak buku. Melalui buku ini, saya menunjukkan sesuatu yang agak berbeda dengan pelajaran yang diterimanya di sekolah tentang membuat puisi.

Pertama, meskipun dominan berima, tapi tidak semua sajak Taufiq berima. Kedua, alinea puisi tidak selalu terdiri dari empat baris. Ketiga, puisi tidak selalu pendek. Taufiq Ismail banyak membuat puisi panjang.

Dari fakta tersebut, saya sampaikan bahwa ia bebas membuat puisi tanpa harus memperhatikan hal-hal teknis seperti berima, jumlah kalimat dalam satu alinea, dan panjang-pendek puisi. Untuk mendukung pernyataan ini, saya hampir saja bercerita tentang buku dan film “Dead Poets Society” yang dibintangi oleh Robin Williams.

Malam ini (6/4/2020), kami berdiskusi panjang tentang tulisan pengalamannya saat TK (kemarin ia membaca buku kumpulan cerita pengalaman penulisnya). Berlanjut diskusi tentang cerpen yang dibuatnya. Saat berdiskusi, saya membiarkannya banyak bicara, mengeluarkan isi kepala.

Perlahan, saya mengenalkannya tentang keuntungannya menulis, yang salah satunya adalah membuat orang tidak pikun. Lalu dia menceritakan isi buku yang tokohnya kalau marah dan sedih membuat lukisan dan hasilnya bagus. Dari cerita ini, saya sampaikan bahwa emosi orang tidak bisa diredam, malah bagusnya disalurkan dalam bentuk kegiatan lain. Saya kemudian bercerita pengalaman saat menulis artikel dalam kondisi marah dan stres. Pesannya, dalam kondisi emosi tidak stabil, kita masih bisa menulis.  Lalu Kirana berkata sesuatu yang membuat saya terharu, “Aku kalau marah membaca, kalau santai menulis. Kalau membaca, marahku bisa hilang.”

Jadi sebaiknya kita fokus pada proses. Proses yang baik akan membuahkan hasil memuaskan dan jangka panjang.

Tangerang, 6 April 2020.