Sudah dibaca 106 kali

Capture 2020-06-06 23.59.12

Akhirnya pembelajaran jarak jauh dilanjutkan. Alasannya sangat sederhana: masa Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Kasus infeksi positifnya terus naik. Anak sangat rentan tertular virus ini.

Jadi, pada Tahun Ajaran Baru 2020/2021, yang jatuh pada minggu ke-3 Juli 2020, tidak ada sekolah yang boleh buka. Siswa tetap belajar dari rumah. Guru pun mengajar dari rumah (ada juga sih yang dari sekolah). Pertanyaannya, pembelajaran seperti apa yang baik diterapkan? Sebelum membahas hal ini lebih lanjut, mari kita lihat fakta-fakta berikut ini.

Fakta pertama. Pada 28 Mei 2020, Persatuan Guru Republik Indonesia mengadakan survei kepada guru, orang tua, dan siswa. Hasilnya, 85,5 persen orang tua khawatir jika sekolah dibuka kembali. 72,2% orang tua menghendaki pembelajaran jarak jauh dilanjutkan.

Sayangnya, masih menurut survei PGRI, hanya 53,5% guru yang sudah siap menjalankan kenormalan baru sekolah. Siswanya 46,5% menyatakan belum siap.

Fakta kedua. Kemendikbud mengadakan survei tentang PJJ. Hasilnya, 97,6% sekolah sudah menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Lalu bagaimana cara guru menerapkan PJJ? 80,7% guru memberikan tugas berupa soal kepada siswa. Meminta siswa belajar menggunakan berbagai sumber belajar elektronik. Uniknya, ada saja yang meminta siswa menyalin ulang materi pelajaran.

Problem lainnya adalah guru masih mengejar ketuntasan kurikulum. Ada 51,6% guru yang membelajarkan siswanya mengikuti buku teks pelajaran. Artinya, sebagian guru memindahkan pembelajaran di sekolah ke rumah.

Salah satu temuan menarik dari survei ini adalah mengenai kendala yang dihadapi guru. Disebutkan, Kendala terbesar yang dihadapi guru dalam menjalankan PJJ adalah kesulitan mengoperasikan perangkat digital (67,11%).

Fakta ketiga. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pernah mengadakan survei kepada siswa dan orang tua. Survei menyebutkan, siswa yang menyatakan tidak senang belajar dari rumah sebanyak 76,7% , hanya 23,3% menyatakan senang.

Kenapa ini terjadi? Ini terjadi karena minimnya interaksi antara siswa dan guru. 79,9% siswa menyatakan tidak ada interaksi sama sekali dengan guru kecuali memberikan tugas dan menagih tugas saja, tanpa ada interaksi belajar seperti tanya-jawab langsung atau aktivitas guru menjelaskan materi.

Kemudian ditemukan pula bahwa 81,8% guru menyatakan pembelajaran selama pandemi lebih menekankan pada sebatas pemberian tugas, jarang yang menjelaskan materi, diskusi ataupun tanya jawab. Dampaknya, 72,3% siswa merasa berat mengerjakan tugas-tugas dari guru.

Siswa mengeluh. Tugas menumpuk karena seluruh guru memberikan tugas dengan waktu yang sempit. Akibatnya, siswa kurang istirahat dan kelelahan. Selain persoalan interaksi dengan guru, siswa juga menghadapi problem lain seperti tidak memiliki kuota internet, ponsel dengan spesifikasi memadai, dan laptop.

Dari fakta-fakta tersebut, akankah kita mengulangi proses yang telah berjalan selama ini? Banyak kritik muncul ke publik bahwa PJJ membuat siswa, guru, dan orang tua stres. Banyak guru belum tahu mengenai metode pembelajaran yang baik diterapkan di masa pandemi ini.

Terlepas dari upaya-upaya revitalisasi terhadap PJJ, ada baiknya kita melihat perencanaan Kemendikbud ke depan yang akan melaksanakan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Inti dari pembelajaran dalam menghadapi AKM adalah menyiapkan siswa untuk memiliki keterampilan di bidang literasi dan numerasi. Literasi membahas tentang bagaimana memahami bacaan dan mengkritisi hasil bacaan. Numerasi membahas tentang bagaimana mengolah informasi dan data statistik

Sebenarnya apa sih tujuan pembelajaran yang menekankan kompetensi literasi? Analogi sederhanya seperti ini. Kita sering mendengar slogan: beri kailnya, bukan ikannya.

Nah, pembelajaran yang banyak dilakukan selama ini di sekolah adalah guru memberikan ikan kepada siswa. Pembelajaran dianggap berhasil jika guru telah menyampaikan semua materi pelajaran kepada siswa dan siswa mendapatkan nilai bagus saat dites.

Sebaliknya pada pembelajaran yang menekankan kompetensi literasi, guru membekalkan kepada siswa keterampilan-keterampilan yang membuat siswa mampu mencari informasi secara mandiri, memahami informasi itu, dan mengemasnya menjadi sesuatu yang baru dan berguna bagi kehidupannya.

Kembali pada ikan dan kail. Ikan diumpamakan ilmu pengetahuan dan kail diumpamakan keterampilan. Dengan paradigma seperti ini, kita mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir yang mereka dapat.

Salah satu contoh sederhana membekalkan siswa dengan keterampilan literasi adalah melatihkan siswa mencari informasi melalui berbagai sumber selain buku buku paket pelajaran, yaitu buku pengayaan, internet, perpustakaan, majalah, poster, wawancara tokoh, dan lain-lain.

Setelah siswa difasilitasi untuk dapat mengakses ke berbagai sumber pengetahuan itu, ajarkan mereka mengolah informasi tersebut secara ilmiah. Lalu, bantu mereka bagaimana meramu dan mempresentasikan temuannya melalui misalnya berbicara di depan kelas, menuliskannya di blog, atau menyampaikannya melalui vlog.

Pola yang dilatihkaan terus seperti ini, lambat laun akan memberi siswa keterampilan literasi. Siswa misalnya, dapat membedakan mana berita faktual, opini, dan hoaks.

Jadi, bagaimana rencana pembelajaran kita ke depan? Itu tergantung pada kita, mau berubah atau tidak?*

 

Tulisan ini merupakan naskah dari video yang dimuat di kanal YouTube: https://s.id/PJJlalu

Ada juga carousel naskah ini dengan alamat IG: https://www.instagram.com/p/CDZ50HAMF2b/

 

 

Dokumen terkait:

Tautan: Survei PJJ Kemendikbud: https://s.id/SurveiPJJ_Kemendikbud

Survei PJJ KPAI: https://s.id/Survei_KPAI

Bahan Publikasi lain terkait Covid-19: https://s.id/PublikasiCovid19