Sudah dibaca 747 kali

Kaget sekali saya saat mendengar berita meninggalnya Mbah Surip pada Selasa silam, 4 Agustus 2009. Saya seperti tidak memercayai berita infotainment sore itu. Mbah Surip, sang penyanyi sederhana itu, tutup usia ketika sedang naik daun.

Saya, yang hingga kini berada di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tiba-tiba merasa kehilangan. Bagi saya, Mbah Surip merupakan seorang penghibur sejati. Ia hadir dalam kepolosan dan tiada dalam kepolosan pula.

Sebenarnya saya tidak begitu mengenal Mbah Surip—toh dia pun pasti tidak mengenal saya karena kami tidak pernah berinteraksi langsung. Saya mulai menikmati lantunan lagu-lagu riangnya sekitar tujuh tahun lalu saat masih kuliah di Universitas Negeri Jakarta.  Mbak Surip sering tampil menghibur hadirin Kenduri Cinta yang digawangi budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Kenduri Cinta yang digelar rutin sejak 1998 hingga kini tiap Jumat kedua saban bulan di parkiran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, seperti kekurangan ruh jika Mbah Surip tak memperdengarkan suara berat khasnya. Jika acara diskusi terasa mendekati titik jenuh, Cak Nun atau pembawa acara lain selalu meminta Mbah Surip melantunkan lagu-lagu segarnya, seperti Tak Gendong dan Bangun Tidur Lagi.

Pastilah, saat Mbah Surip mentas, hadirin yang semula duduk-duduk di pinggir jalan atau menggerombol dekat pedagang kaki lima, mendekati area acara. Mbah Surip seperti magnet yang menarik orang-orang agar mendekati dan menikmati sajian hiburannya. Tak pernah kehadirannya tidak mengundang tawa hadirin. Ia hadir semua tertawa.

Hadirin tertawa, bukan menertawakan. Andaipun menertawakan, mereka menertawakan diri sendiri. Mbah Surip mengajak orang-orang menertawakan dirinya sendiri; mereka yang mengaku beriman, terbaik, terpandai. Dan selalu saja Mbah Surip selalu dalam keadaan tertawa—mulutnya terbuka lebar. Entah dia sedang menertawakan orang-orang yang tertawa atau menertawainya, atau ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Tak ada yang tahu pasti.

Namun Cak Nun selalu mengajak orang-orang menertawakan dirinya sendiri. Orang-orang yang selalu mengeluh dalam kefakiran, orang-orang yang merasa dirinya hebat setelah menolong orang lain, orang-orang yang merasa dirinya berhak atas penghormatan saat memegang jabatan. Ia seperti ingin mengajak hadirin memaknai Mbak Surip yang tampil nyentrik ala Jamaika namun selalu terkesan sederhana.

Pernah, suatu kali, Cak Nun memberi pemaknaan filosofis terhadap lirik lagu Tak Gendong Kemana-mana. Ternyata, pemaknaan tersebut begitu mendalam yang barangkali tidak disadari hadirin sebelumnya. Bagaimana seorang pemimpin memosisikan dirinya sebagai seorang ‘penggendong’, pengayom bagi orang-orang yang memberinya kekuasaan. Ya, seorang pemimpin adalah penuntun, pemangku, penggendong. Tidak boleh semena-mena.

Menggendong artinya melayani dengan sepenuh hati, seperti seorang ibu menggendong bayinya. Ia menjaga bayinya agar tetap nyaman dalam pelukannya. Menimang-nimangnya dengan sepenuh hati agar kelak sang bayi tumbuh besar menjadi seorang pemimpin. Ia menjauhkan bayi dari terik mentari, gigitan nyamuk, dan dinginnya udara. Ia bersedia mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan bayi. Dan ia merasa berdosa jika tiba-tiba bayinya menangis lantaran terganggu.

Mbah Surip pergi ketika perhatian orang-orang tertuju padanya. Dulu dia diremehkan, dipandang sebelah mata. Namun, saat ia mendapatkan perhatian publik, ia tetap sederhana. Popularitas tak mampu membuat prinsip hidup dan kesederhanaannya luntur. Seakan ia ingin menertawakan orang-orang yang menyangka dia akan berubah setelah menjadi musisi terkenal.

Mbah Surip, lewat Ring Back Tone telepon seluler dan video klip, menghibur banyak orang. Royalti tak pernah ia kecap. Ia belum bisa menikmati kerja kerasnya.

Itulah kenapa saya mengatakannya seorang penghibur sejati. Ia tak membutuhkan tepuk tangan, penghargaan materi, dan perhatian orang-orang. Ia hanya ingin memberi seluruh hidupnya untuk menghibur orang lain. Namun, di balik hiburan itu, ia mengajak orang-orang untuk merenung dan akhirnya menertawakan dirinya sendiri karena banyak orang lupa diri.

 

Kamis, 6 Agustus 2009, pukul 01.10.

Di tengah Kota Bukit Tinggi yang gelap karena listrik mati.