Sudah dibaca 689 kali

Gelap merayap di langit Banjarmasin pada Rabu 12 Agustus 2009 ketika halaman Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan dipenuhi muda-mudi. Mereka duduk di atas karpet, menghadap panggung kecil yang membelakangi papan bertulis “Malam Renungan&Doa”. Wakil Gubernur Kalimantan Selatan Rosehan NB berada tengah-tengah mereka.

Sastrawan besar W.S. Rendra meninggal dunia pada 6 Agustus 2009. Karya, jasa, dan pengaruhnya pada seni dan budaya nusantara kembali diungkap, ditelaah, dan direnungkan dalam acara itu. Beberapa sastrawan mengungkapkan testimoni, orasi, dan pentas seni mengenai segala hal yang berkaitan dengan ‘Si Burung Merak’.

Salah satu sastrawan yang hadir adalah Putu Wijaya. Berpakaian hitam-hitam dengan topi putih khasnya, Putu Wijaya bercerita tentang pengalamannya berinteraksi dengan W.S. Rendra.

Itu dimulai ketika ia mengagumi puisi-pusi Rendra saat duduk di bangku SMA. Kali pertama ia bertemu Rendra di Denpasar pada 1964. Dan ia merasa puisi-puisinya dipengaruhi oleh Rendra.

Putu Wijaya juga bercerita tentang keterlibatannya di Bengkel Teater, grup teater bentukan Rendra, dan berbagai pementasan yang kebanyakan bertema kritik sosial dan budaya. Secara singkat Putu Wijaya menyampaikan beberapa ‘ajaran’ Rendra.

“Rendra mengajak kita mempertimbangkan tradisi.” Ia, kata Putu Wijaya, mengajak kita melihat esensi tradisi tiap daerah. Di Indonesia ada ribuan tradisi. Buang yang palsu, ambil yang bagus lalu analisis dan reposisi.

Kedua, Rendra mengajarkan kegagahan di dalam kemiskinan. “Orang miskin harus gagah, menjaga harga diri.” Harga diri harus dijaga, tidak boleh dibiarkan diinjak-injak orang lain lantaran tersandera kemiskinan.

“Dia orang yang mengajarkan kita agar berani melawan. Rendra bahkan berani melawan setan!”

Pernah suatu hari Rendra bersama teman-temannya, termasuk Putu Wijaya, bertandang ke Taman Ismail Marzuki (TIM)—taman budaya yang didirikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta  Ali Sadikin. TIM bekas kebun binatang dan angker. Saat itu beberapa orang berteriak-teriak, kesurupan. Banyak yang gentar termasuk Putu wijaya. Kemudian Rendra dengan suara lantang berseru, “Siapa yang mengganggu teman-teman saya, keluar! Hadapi saya!”

Keempat, Rendra mengajak kita agar tidak mudah menyerah. Keinginan harus gigih diperjuangkan.

Putu Wijaya ingat Rendra pernah berkata soal kebaruan. Memang, katanya, tidak ada yang baru. Tapi kalau kita memiliki posisi tertentu, maka kita akan lihat hal baru. “Rendra sangat lihai, pintar melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain.”

Putu Wijaya berharap agar Rendra jangan hanya dikenang, dijadikan dongeng dalam memori orang-orang. Ia harus dikenalkan pada orang-orang, terutama generasi muda, yang belum mengenal Rendra. Jadikan Rendra sebagai ilmu pengetahuan.

Bagi Putu Wijaya, Rendra sangat komplit. “Bagi saya dia seorang guru, teman, sekaligus musuh.” Rendra senang berbagi ilmu dan pengalaman kepada teman-temannya. Ia juga enak diajak bicara. Kadang hal-hal kecil dibahasnya dengan nada guyon. Kalau ingin berhasil, “Dia orang yang harus saya langkahi.” Dan tidak ada orang yang bisa menggantikan dirinya.

Soal guru-murid, Putu Wijaya masih ingat Rendra pernah berkata, “Murid berhasil kalau berani menaiki kepala gurunya.” Artinya, seorang murid harus bisa melampaui kemampuan gurunya dan berani berbeda jika itu dianggapnya benar.

Sebelum ditutup dengan acara renungan dan doa, sastrawan Kalimantan Selatan Micky Hidayat membacakan maklumat. “Maklumat seniman-sastrawan-budayawan Kalimantan Selatan, agar W.S. Rendra diangkat sebagai Pahlawan Kebudayaan Indonesia.” Maklumat akan dikirim kepada Presiden, DPR, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Pendidikan Nasional, Dewan Kesenian Jakarta, dan berbagai instansi lain.

Pukul 23.30 acara usai. Gelap merayap di langit Banjarmasin, memberi kesadaran bagi hadirin Taman Budaya bahwa perjuangan W.S. Rendra harus terus dilanjutkan!

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 14 Agustus 2009.