Sudah dibaca 797 kali

Minggir…minggir…!

Manusia mau lewat!

 

Dalam acara Kenduri Cinta yang digelar Jumat malam 14 Agustus 2009 lalu di parkiran Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, seseorang yang berbicara di panggung mengutip salah satu lirik lagu almarhum Mbah Surip yang tidak termasuk dalam kompilasi lagu yang telah beredar. Mbah Surip yang selalu pentas dalam hajatan acara Emha Ainun Najib (Cak Nun), dulu, selalu membawakan lagu ini. Namun entah mengapa dalam beberapa pentas belakangan, ia tak menampilkannya.

Saya lupa judul dan lirik lengkapnya. Hanya dua kalimat di atas yang bisa saya ingat. Namun saya tidak lupa kandungan isi lagu tersebut, bahwa kondisi zaman telah mengubah relasi manusia dengan setan. Setan tak lagi merasuki manusia. Sebaliknya, manusialah yang merasuki setan. Mbah Surip, layaknya seorang penyeru dalam lagu tersebut, memperingati para setan agar minggir atau lari jika manusia akan lewat.

Tentu saja lagu ini mengundang tawa hadirin. Seolah ini adalah lagu omong kosong yang cukup diapresiasi dengan lengking tawa. Namun, usai lagu diperdengarkan pemusik berambut gimbal itu, Cak Nun atau pembicara lain membahas makna lagu, seperti ingin menyampaikan bahwa tawa yang bersama-sama dilontarkan tadi sebenarnya ditujukan kepada diri sendiri. Dan memang inilah, menurut saya, salah satu pesan yang terkandung dalam lagu-lagu sangat sederhana gubahan Mbah Surip: mengajak manusia menertawakan diri sendiri.

Menertawakan diri sendiri merupakan metode kritik yang aman. Sebab, pada dasarnya, manusia enggan dikritik dan malas introspeksi diri. Mereka selalu mengeluh dan cenderung membela diri jika dikritik orang lain. Instrospeksi diri pun, saat menemui diri sendiri bersalah, kadang tidak membawa perubahan berarti terutama bagi yang keras kepala dan merasa dirinya selalu benar.

Dengan menertawakan diri sendiri, manusia menggugat ego terdalamnya. Menangisi kelemahannya dengan cara tersenyum. Sebenarnya ia menangis, namun wajahnya gembira. Sebab manusia hakikatnya tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.

Kembali pada relasi manusia, setan, dan zaman yang jungkir balik. Sejak dulu tindak kejahatan senantiasa diidentikkan dengan ulah setan. Memang sudah takdir setan berperan sebagai pengganggu manusia dalam memanusiakan dirinya. Maka sudah lazim pula jika apapun keburukan sifat dan perilaku manusia, setanlah biang keroknya!

Tetapi sebagian orang melihat banyak manusia menjadikan setan sebagai kambing hitam. Mereka (manusia) sadar perbuatannya salah dan berdosa, namun tetap dilakukan; membunuh, maksiat, judi, mabuk-mabukan, korupsi. Untuk “menenangkan” hati, mereka timpakan kekhilafan itu pada setan. Setan dicaci maki sebagai pelaku utama perbuatan dirinya, padahal dia mampu tidak melakukan dosa-dosa itu.

“Kekecewaan” pada realitas itu, oleh sejumlah sastrawan, diangkat dalam medan fiksi. Dalam cerita, setan atau iblis diberikan ruang untuk menyampaikan pendapatnya. Mengutarakan uneg-unegnya. Bahwa mereka kecewa perilaku biadab yang muncul di muka bumi selalu ditimpakan penyebabnya kepada mereka.

Mungkin, pada beberapa kondisi, iblis dan setan kaget dengan perilaku biadab yang dilakukan manusia. Barangkali mereka akan berkata, “Masya Allah, kok manusia bisa bertindak sebiadab itu ya? Wah, saya jadi terinspirasi nih!” (pengucapan ‘Masya Allah’ menandakan setan dan iblis saja masih takut pada Tuhan). Akhirnya setan dan iblis belajar pada manusia bagaimana mengingkari keberadaan Tuhan. Manusia jadi guru dadakan setan dan iblis.

Perilaku biadab itu merujuk pada tindakan di luar nilai-nilai manusiawi yang selain sama dengan perilaku beratus-ribu tahun lalu, plus perilaku neo-biadab di zaman modern.

Membunuh sesama manusia merupakan salah satu perilaku biadab warisan awal zaman; Qabil, anak Nabi Adam a.s, membunuh Habil. Kemudian muncul varian-varian lain yang diberitakan terjadi pada zaman-zaman nabi sesudahnya, seperti menyiksa, mengubur bayi hidup-hidup, dan memakan bagian tubuh manusia (kanibal).

Namun kini, ditunjang kemajuan teknologi, varian kebiadaban bermunculan baik berefek individual maupun massal. Baik dilakukan secara sadis maupun elegan. “Lagu lama” semacam penyiksaan, penguburan bayi hidup-hidup, dan kanibal berubah menjadi “lagu anyar” dengan tambahan kejahatan mutilasi, bom teroris, korupsi yang mengakibatkan kesengsaran banyak orang, dan sistem ekonomi neoliberal yang menggadaikan hak individu masyarakat lemah.

Iblis mungkin akan berdalih dan bersumpah, “Ketika seorang manusia memotong-motong tubuh manusia lain, saya sedang tidak merasukinya. Mereka dalam kondisi sadar, kok. Bahkan, saat mereka melakukannya, saya bersembunyi di pojok dinding sembari menutup mata sambil sesekali beristighfar.”

Atau mereka berkata, “Saya bingung saat menghampiri seorang teroris, sebelum meledakkan bom yang menewaskan banyak orang, dia banyak menyebut nama Tuhan. Khawatir juga dicap teroris, saya tidak beristighfar jadinya.”

“Bahkan,” dengan kemarahan yang tertahan iblis berkata, “kami difitnah lewat film-film horor! Masak kami membunuh manusia! Itu, kan, namanya membalikkan kenyataan! Kami hanya menyuruh manusia agar saling membunuh, tidak turun tangan langsung! Wong edan!”

Nah, kondisi jungkir balik ini, barangkali, yang menginspirasi Mbah Surip mencipta lagu guna menggugah kesadaran manusia agar tidak berperilaku melebihi setan dan iblis. Manusia diajak untuk memikir kembali laku keseharian, apakah mendekat atau menjauh dari sifat setan dan iblis.

Manusia dengan segala potensinya dapat menjadi lebih mulia dari malaikat. Dan mereka pun dapat menjadi lebih rendah dari binatang ternak.

 

 

Duren  Sawit, Jakarta Timur. 18 Agustus 2009.