Sudah dibaca 690 kali

Allah SWT dengan segala kebesaran-Nya bertransaksi dengan manusia. Allah beri surga, manusia beri hidup dan segala kepemilikannya. Akte transaksi tercantum dalam kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Plus stempel janji yang dijamin keasliannya.

Lalu turunlah manusia ke bumi. Beranak-pinak menikmati kehidupan; orangtua, saudara, keluarga, harta, perniagaan, rumah. Sebagian terpagut pada aneka keindahan itu, sebagian lagi beramal saleh.

Lalu turunlah para Nabi dan Rasul. Seru peringatan agar menyembah Tuhan Yang Esa. Tatanan baru dimunculkan, menghadapi logika kebenaran, struktur masyarakat, dan sistem ekonomi yang sudah mapan. Mereka ditentang, diteror, dicap teroris, dibunuh.

Mereka manusia biasa. Wahyu Allah membuat mereka luar biasa; tanggung jawab yang berat, beban hidup tak tertanggungkan, asa tak kian putus, keyakinan tak kian pupus. Mereka hadir karena banyak manusia lupa pada transaksi itu. Juga pada ikrar pengakuan ketuhanan sebelum lahir.

Mereka menderita. Mereka terluka. Mereka tersenyum. Mereka abadi.

Salah satu dari mereka Muhammad SAW. Selama 23 tahun ia berdakwah; meniti benang-benang tauhid pada kain rusak dan tak layak pakai. Lalu ia mengubah kain itu menjadi indah dan layak pakai.

Ia menderita. Dicap gila. Didakwa teroris. Diludahi. Dilempari batu dan kotoran hewan. Tapi ia sangat ingat pada transaksi itu. Ia tak membalas mereka. Ia mengasihi mereka. Ia menyeru mereka.

Maka kembalilah mereka, berbondong-bondong, pada pangkuan tauhid. Ingat pada transaksi. Dan harta, nyawa, serta segala yang dicintainya, rela dipasrahkannya. Cahaya Islam telah menjadikan mereka laron yang lupa pada dirinya, hanya ingat pada Sang Pencipta.

Namun, berpuluh-ratus-ribu tahun kemudian, penderitaan itu masih hadir. Terlalu banyak yang lupa pada transaksi. Kejahatan dan aib di tiap zaman Nabi diulang. Musyrik. Membunuh. Berzina. Menyalahi timbangan. Suka pada sesama jenis. Plus modifikasi dan inovasi keburukan kontemporer.

Mereka lupa pada transaski. Lupa pada sejarah. Yang ingat banyak yang diam. Sebagian stres lalu lupa ingatan dan berharap disapa Malik.

Kemudian yang terjadi kemiskinan. Kelaparan. Penderitaan. Transaksi sulit teringat di musim ini. Negara miskin penduduknya busung lapar, negara kaya penduduknya juga busung lapar. Malah ada yang mati kelaparan. Ironi, itu lagu anak jalanan, dimainkan pejabat diaminkan preman.

Islam punya zakat. Infak. Sedekah. Masih tentang transaksi. Transaksi dunia. Sesama manusia. Tapi ini turunan transaksi akhirat. Bunganya berlipat ganda. Bonusnya surga.

Soal ini penyair Taufik Ismail bikin puisi. Judulnya ‘Sajak Anak Muda Serba Sebelah’. Dibacanya itu sajak di hadapan ratusan siswa SMA. Di Kota Bukittinggi kampung halamannya. Di SMA 1 Bukittinggi 5 Agustus 2009 tepatnya. Tentang Si Toni salah satu generasi muda.

Si Toni yang dihabisi. Seluruh anggota tubuhnya sebelah dikurangi. Yang tersisa kuping, tangan, mata, ginjal, dan kaki bagian kiri.

“Toni adalah salah satu generasi muda,” kata Taufik Ismail dengan suara tegas, “anak muda yang tidak mendapat pendidikan yang layak.” Hingga naluri dan otak terkoyak. Menjadi tertawaan orang banyak.

“Si Toni banyak,” tukas Taufik Ismail. “Keluarkan zakat dan infak kalian! Berikan pada Si Toni, agar dia mendapat pendidikan yang layak seperti kalian.” Ratusan siswa terhenyak. Bangunkan api rasa yang tertidur nyenyak.

Bisalah orang curang dalam transaksi. Mengurangi takaran mengatur timbangan. Tapi timbangan Allah tak akan bisa dimanipulasi. Biarpun ia kaya harta berlimpahan.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 26 Agustus 2009.