Sudah dibaca 747 kali

Ketika pada akhir Mei terbang ke Pulau Kalimantan, saya merasa keadaan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh sesuatu di luar diri saya. Itu kali pertama saya naik burung besi, duduk di bagian tengah badan pesawat dekat jendela, dan singgah ke tiga pulau: Tarakan, Nunukan, Sebatik. Sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Lalu pada kali kedua, kembali saya ditugaskan menyambangi Pulau Sumatera. Kali ini ke Bukittinggi. Perjalanan kedua saya menggunakan pesawat terbang. Padahal dalam perjalanan tugas ke Yogyakarta sebelumnya, saya enggan menggunakan pesawat. Terlalu dekat, pikir saya. Saya memilih berangkat naik kereta Eksekutif dan pulang naik kereta Bisnis karena menginginkan suasana ramai—banyak pedagang mondar-mandir dalam kereta.

Saat mendengar penugasan meliput acara Sastrawan Bicara Siswa Bertanya dengan pembicara Putu Wijaya dan  Taufik Ismail, hati saya berbunga-bunga. Dulu saya memimpikan dapat berbincang dengan para sastrawan terkenal. Dan wawancara dengan sastrawan Hamsad Rangkuti di Yogyakarta pada awal Juni lampau kembali membangkitkan keinginan lama. Lalu, bayangan mewawancarai Putu Wijaya dan Taufik Ismail membuat saya makin bersemangat.

Pada 4 Agustus, bersama seorang teman, saya terbang ke Sumatera Barat. Naik Lion Air. Satu pesawat dengan sastrawan Taufiq Ismail, penyair Jamal D. Rahman, aktor Iman Sholeh, dan beberapa panitia. Ternyata Putu Wijaya tidak masuk dalam rombongan. Ia tidak jadi pembicara di Bukittinggi, melainkan di Banjarmasin seminggu kemudian. Pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau siang hari. Sejumlah orang dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat menjemput.

Lantaran jumlah rombongan tak mampu ditampung di satu mobil, saya dan teman menumpang mobil yang dikendarai pegawai Dinas Pendidikan yang justru menuju Padang, tidak langsung ke Bukittinggi. Di tengah jalan Kota Padang, kami diturunkan dan dipindah ke mobil travel.

Setelah menunggu lama, kami melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Mobil travel yang mangkal di beberapa tempat mangkal butuh mengangkut lima penumpang sehingga perjalanan lambat.  Teman yang berharap perjalanan cepat bersedia membayar dua kali lipat jika sopir tak lagi mengangkut penumpang. Sopir bersedia.

Perjalanan begitu panjang. Butuh dua jam untuk sampai ke Bukittinggi. Lelah, saya tertidur. Baru bangun saat mobil melintas di kawasan Lembah Anai. Kawasan wisata perbukitan yang indah dan penuh jalan berliku. Teman dan sopir bilang sayang sekali saya tertidur dan tidak bisa melihat pemandangan menarik Lembah Anai. Mungkin ada benarnya, tapi saya menyaksikan sejumlah keindahan di tempat itu.

Di tengah perjalanan saya teringat pada seorang teman yang tinggal di Bukittinggi. Perjumpaan saya dengannya terjadi sekitar dua tahun lalu. Di sebuah masjid di Kota Depok. Saat itu saya dan beberapa teman Forum Lingkar Pena DKI Jakarta sedang shalat zuhur. Saya bertemu dengannya dan ia bertanya bagaimana bergabung dengan FLP DKI Jakarta. Saya memberitahukan caranya dan beberapa bulan kemudian dia benar-benar mendaftar. Kali pertama bertemu di teras Masjid Amir Hamzah Taman Ismail Marzuki, tempat pertemuan organisasi, saya pangling dibuatnya.

Ia memperkenalkan diri sebagai pedagang kain di Bukittinggi. Ke Jakarta membeli bahan di Pasar Tanah Abang. Tinggal dengan saudara di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Dalam jangka beberapa waktu ia ke Jakarta, memesan barang yang diperlukan, dan kembali ke Bukittinggi.

Membayangkannya saat melintasi desa-desa asri menuju kampung halamannya membuat saya terharu; berat sekali perjalanan yang ia tempuh. Saya pikir ada bandara di Bukittinggi. Ia harus naik mobil travel dari Padang untuk tiba di rumahnya.

Ah, mungkin ia sudah terbiasa. Apalagi ia berdarah Minang yang dikenal sebagai pedagang dan perantau ulung. Dan saya orang baru, jadi perjalanan dua jam dianggap sangat jauh.

Hawa Bukittinggi dingin. Kata sopir, cuaca sekarang tak sedingin dulu. Sudah banyak penebangan hutan akibat perluasan permukiman penduduk dan lahan pertanian. Kami mampir dulu ke Kantor Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi di seberang alun-alun. Saya mengabarkan kedatangan ke teman itu. Ia senang mendengarnya.

Lalu berdua teman—ia lelaki separuh baya bergelar Haji—kami menyambangi Hotel Bagindo di pinggir Jalan Jenderal Sudirman. Mungkin itu rekomendasi temannya di kantor Dinas.

Di hotel kami istirahat sebentar. Saya sudah membuat janji dengan teman untuk menyambangi kios dagangnya di Pasar Atas. Saya keluar sore pukul 17.00. Oleh pegawai hotel saya disarankan menggunakan jasa ojek atau angkutan kota ke arah utara. Pasar Atas, katanya, di dekat Jam Gadang.

Ah, Jam Gadang. Saya hanya mengenalnya lewat acara-acara televisi. Mengira bahwa bangunan bersejarah itu terletak di Kota Padang. Ternyata ia ada di sini. Dan sebentar lagi saya akan menyambanginya.

Dengan memegang kamera saya keluar hotel. Dari sana pucuk Jam Gadang terlihat. Di luar suasana begitu terang. Lalu lintas jalan tak terlalu ramai. Embusan angin dingin tetap terasa menjamah kulit. Untung saya memakai jaket.

Saya berjalan ke perempatan, berharap melihat tukang ojek. Tapi tukang ojek tak tampak. Saya tanya ibu pedagang jagung bakar, ia malah menyuruh saya bertanya pada pedagang lain. Ternyata tukang ojek hanya ada malam hari. Saya naik angkot saja.

Bayar Rp 2.000, saya diturunkan di sebuah persimpangan oleh sopir angkot. Katanya saya tinggal jalan sebentar ke arah yang ia tunjuk dan Pasar Atas berada di belakang Jam Gadang.

Mengingat jarak yang dekat dari hotel, saya berpikir untuk jalan kaki saja jika begitu. Saya sudah terbiasa jalan kaki untuk mencapai lokasi yang tak terlalu jauh.

Dalam perjalanan ke Jam Gadang, saya melihat patung Mohammad Hatta. Ia berada di tengah taman. Saya langsung potret saja dia.

Area di sekitar Jam Gadang begitu ramai. Orang-orang duduk-duduk menikmati angin sore. Beberapa penjual makanan dan mainan berkeliling menyambangi mereka. Di sebelah barat Jam Gadang berdiri Plaza Bukittinggi. Sebelah utaranya Pasar Atas. Dan di sebelah timur Pasar Bawah. Saya menghubungi teman.

Saya berpikir kejutan apa yang sebaiknya saya tunjukkan saat kali pertama bertemu dengannya di Jam Gadang. Tapi saya tidak punya ide menarik. Hanya ketika dia datang sembari mendekatkan telepon selulernya ke telinganya, menghubungi saya, saya bersembunyi. Perlahan saya berjalan mengikutinya dan saya potret dia dari jarak jauh. Tak tega, saya menghampirinya.

Saya mengutarakan syukur bahwa akhirnya saya bisa bertemu dengannya di kampung halamannya. Suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Kami berfoto sebentar dengan latar belakang Jam Gadang lalu ia mengajak saya menyambangi kiosnya.

Di kiosnya banyak sekali kain bahan. Yah, namanya kios kain. Sebenarnya ia sebagai penjaga saja karena ayahnya yang pemilik kios.

Menjaga kios mulai dilakoninya sejak duduk di bangku SMA. Usai kuliah di Universitas Andalas, Padang, mengambil Jurusan Akuntansi, ia kembali menjaga kios.

Azan maghrib menggema. Ia menunjukkan saya lokasi masjid di dekat pasar.

Masjid Raya Bukittinggi. Masjid ini besar dan unik. Tempat ambil air wudhunya di bawah tanah. Harus melewati lorong sepanjang sekitar 20 meter. Air wudhu ditampung di kolam kecil yang melingkar merapat dinding. Tak ada kran. Jamaah berwudhu dengan gayung kecil dan menciduk air ke kolam itu.

Lokasi buang air kecil agak luas. Dan menjaga privasi. Tiap ruang disekat tinggi.

Secara geografis posisi masjid ini relatif tinggi. Dari sana saya bisa melihat Gunung Singgalang yang tertutupi kabut.

 

 Duren Sawit, Jakarta Timur. 20 Agustus 2009. 08.28