Sudah dibaca 724 kali

Cepi memasukkan foto kucing berparas misterius ke dalam buku hariannya. Secepat kilat ia selipkan buku harian itu ke bawah kasur seolah tak ingin ketahuan Memet. Lalu ia berkata untuk mengalihkan perhatian Memet yang tengah memasang raut curiga, “Seorang pegawai pajak tertangkap tangan memeras wajib pajak.”

Memet menyungging sinis sebentar, menunjukkan kesebalannya pada Cepi. “Biar saja, orang rakus macam itu layak masuk kakus.”

“Ngapain? Buang hajat?”

“Maksud kakus itu penjara, Cepi!”

Cepi tercenung sejenak. “Kau berkata seolah-olah bukan termasuk orang seperti itu, Met.” Suara Cepi bernada protes. Memet, di matanya, selalu tampil sebagai aktor yang bukan dirinya sendiri.

“Aku kadang tertawa geli melihat orang-orang korup macam kita, Cep. Punya rumah mewah, istri cantik, mobil banyak, tanah berhektare-hektare, tapi masih saja pengin punya duit lebih banyak lagi. Sebenarnya apa yang dicari?”

“Kepuasan.” Raut Cepi tampak serius.

“Pernahkah kepuasan itu di dapat?”

“Met…,” Cepi memainkan jari-jarinya, “Apa kamu sudah impoten?”

Memet melayangkan telapak tangannya ke kepala Cepi. “Sialan kau, Cep! Rautmu sok serius, padahal otakmu masih level cetek. Kasihan istrimu, punya suami seperti ini.”

“Kau jangan menyepelekanku, Met. Ia selalu bilang puas kok setelah…”

Plak! Tamparan Memet ke kepala Cepi membuat Cepi menghentikan ucapannya. “Cukup! Ucapanmu selalu bikin tandukku memanjang!”

Cepi tersenyum genit. Ia melempar lirikannya ke kepala Memet dan mengucek-ucek mata. Mana, nggak ada tanduknya, kok.

“Sebagai warga wajib pajak,” nada suara Memet serius, “kita juga dihadapkan pada dilema. Dilema ini muncul setelah kasus GT terungkap: jika kita tahu bahwa pajak yang kita bayarkan dikorup oleh sejumlah petugas pajak, buat apa kita bayar pajak? Toh kita pun tidak tahu secara detail uang pajak yang kita bayarkan digunakan untuk apa saja.”

“Makanya, banyak pengusaha dan orang kaya enggan bayar pajak?”

“Itu salah satunya.”

“Salah yang lain?”

“Kalau pun kita bayar pajak, kita tak ikhlas jika bayar penuh. Jadilah kita bersekongkol dengan petugas pajak. Pilihannya cuma satu: suap petugas pajak. Uang yang kita bayarkan kepadanya jauh lebih kecil daripada jumlah pajak yang seharusnya kita bayarkan.”

Memet teringat kasus GT. Puluhan perusahaan menyuapnya, namun setelah ia dijatuhi vonis, kasus itu seakan ikut terkubur. Aparat penegak hukum tak mengusut perusahaan-perusahaan penyuap GT. Ia mensyukuri hal itu karena salah satu perusahaan penyuap GT adalah miliknya, meskipun ia juga telah mengeluarkan banyak duit agar kasus ini dipeti-eskan. Untung kasus ini tidak ditangani KPK. Yang menakjubkan, AH, hakim yang memutus kasus GT, dibuang jauh ke pelosok sana. Permainan yang sempurna!

“Mungkin si petugas pajak juga berpikir, jika aksinya ketahuan, dia akan dihukum ringan. Hukuman ringan itupun ditambah bonus remisi. Sekeluar dari penjara, harta hasil korupsinya masih menggunung. Mau beli mobil mewah atau tambah bini pun masih lebih dari cukup.” Usai berkata, Cepi tertawa terkekeh-kekeh. Sebenarnya ia sedang menyindir Memet.

“Inilah indahnya negeri ini, Cep. Surga bagi orang-orang macam kita.”

“Aku pun sudah bersumpah, sebagai bentuk syukur kepada negeri ini, aku ingin dikubur di tanah air tercinta ini kalau mati. Sebab, negeri ini sudah beri banyak kesejahteraan pada kita.”

Lalu keduanya senyam-senyum sembari memerhatikan dua cicak bergandengan mesra menapaki atap di luar sel. Tak menduga Asan, pengacara Memet, sudah berdiri di balik sel.

“Kau memanggilku untuk datang kemari, Met?” Ucapan Asan bernada bete karena orang yang diajak bicara masih sibuk mengamati cicak bermesraan. Cepi pun demikian.

Asan menghitung domba. Setelah mencapai domba urutan ke-99, ia coba merunut arah pandang keduanya. Akhirnya tatapnya tertuju pada dua cicak itu. Jadi itu binatang mesum yang menyita perhatian dua makhluk durjana ini. Serta merta Asan melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah dua cecak mesum itu. Kedua cecak kaget, saling melepas rangkulan, kemudian lari berlainan arah.

Air muka Memet dan Cepi beriak kecewa. “Yah…!”

“Met…”

“Diam kau! Tak bisa kau beri kami kesenangan sekejap saja? Kau pikir enak terkurung di dalam sel begini? Di luar sana kau bisa melihat komidi putar atau naik odong-odong sepuasmu, tapi di sini kami cuma bisa bermesraan dengan dinding lusuh.” Memet merepet. Ia benar-benar tersinggung.

“Maaf kalau aku mengganggu kesenangan kalian berdua.” Baru kali ini aku melihat ada orang menjadikan cicak mesum sebagai bahan penawar resah.

“Ada apa kau kemari, San.” Suara Cepi datar, tak menunjukkan kemarahan. Namun sebenarnya itu agar Memet tak terus merepet.

“Kau minta aku datang kemari, Met?”

“Tidak. Siapa bilang?” Memet merajuk.

“Ini buktinya!” Asan mengeluarkan secarik surat dan menunjukkannya pada Memet.

Memet menyimak isi surat. Perlahan urat-urat saraf wajahnya tertarik. Tak berapa lama tawanya meletus. “Itu surat palsu, San! Aku tak pernah membuat surat macam itu. Lagi pula di surat itu tak ada tanda tanganku. Sumpah, kalau aku bohong, gantung aku di Monas!”

Melihat Memet tertawa, Cepi ikut tertawa. Jadilah dua koruptor itu tertawa-tawa. Asan merengut. Ia kembali memerhatikan surat di genggamannya. Sialan! Apa maksud Inah melakukan ini? Jangan-jangan…

Asan buru-buru keluar. Tak ingin mendengar tertawaan Memet dan Cepi. Memet dan Cepi terus tertawa hingga perut buncit mereka terguncang-guncang.  Keduanya baru berhenti tertawa saat melihat dua cicak tadi kembali bergandengan tangan dan berangkulan mesra. Acara sesungguhnya baru benar-benar dimulai.*

 

Tangerang, Banten. Sabtu, 13 April 2013.