Sudah dibaca 653 kali

Pelayan

 

Sambil menutup koran, Memet tertawa-tawa sendiri sembari geleng-geleng kepala. Melihatnya, Cepi penasaran.

“Kenapa, Met? Ada yang lucu?”

Bukannya menjawab, Memet malah tertawa keras.

Wah, sudah gila nih orang. Sepertinya koran itu penyebabnya.

“Presiden kita frustasi, Cep. Frustasi! Ia frustasi karena tindakan korupsi di negeri ini tak ada habis-habisnya.”

Cepi malah bingung. Kenapa orang frustasi malah ditertawai?

“Tapi kupikir itu wajar. Sebab, banyak sekali kepala daerah yang berasal dari partainya tersangkut kasus korupsi. Bahkan mantan bendahara umum MN dan mantan wakil Sekjen AS sudah nginap di penjara, menyusul mantan ketua umumnya AU yang sudah berstatus tersangka korupsi.”

“Katakan tidak pada…”

“…hal korupsi!”

Keduanya tertawa-tawa. Cepi merasa baru nyambung dengan isi kepala Memet.

“Akhirnya ini soal integritas, kredibilitas, dan otoritas,” ucap Memet. “Ia orang nomor satu di negeri ini, juga menduduki beberapa posisi nomor satu di partainya. Tapi siapa yang mau mematuhi ucapannya? Ia berkoar-koar agar korupsi ditinggalkan, tapi sebaliknya oleh anak buahnya sendiri korupsi beramai-ramai diamalkan.”

“Jadi, ia frustasi terhadap partainya atau pejabat negeri ini?” Nada suara Cepi terdengar serius. Akhir-akhir ini ia bingung membedakan antara pelayan rakyat dan pelayan partai. Sebab kebanyakan pejabat negara yang nota bene pelayan rakyat justru banyak menghabiskan waktu dan pikiran untuk mengurusi partainya. Dana negara pun banyak diserap untuk kepentingan partai. Bahkan, banyak anggota DPR yang bolos saat rapat. Bahkan ada saja yang tanda tangan lalu kabur tak ikut rapat. Itu tampak seperti orang yang berpura-pura wakil rakyat padahal wakil partai.

“Entahlah, mungkin ia frustasi terhadap dirinya sendiri. Dengan posisinya, mestinya ia benar-benar jadi panglima penegakan hukum. Namun, sekali lagi, ia ditelikung banyak aparat penegak hukum.”

“Ia tidak tegas,” simpul Cepi.

“Banyak orang bicara begitu. Kalau mau, ia bisa saja mengimbau aparat penegak hukum untuk bersikap lebih keras kepada koruptor. Mengimbau agar koruptor dihukum mati atau dipenjara minimal 20 tahun, misalnya.”

“Ia khawatir dibilang intervensi terhadap penegakan hukum.”

“Itu seperti lingkaran setan yang tak pernah selesai.”

Keduanya kemudian termenung.

“Tapi tidak mungkin.” Suara Cepi memecah keheningan. “Kukira, Presiden pun di mata sebagian aparat penegak hukum sudah cacat. Ia pernah memotong masa hukuman terhadap pengedar narkotika.”

“Aparat sudah capek, sekuat tenaga bahkan mempertaruhkan nyawa untuk menangkap pengedar narkotika, setelah ditangkap dengan harapan pengedar dihukum mati atau berat, Pak Presiden malah memberi keringanan. Barangkali di antara mereka ada yang disorientasi dan lama-lama frustasi.”

“Yah, semuanya frustasi. Tentu saja hanya golongan kita yang senang dengan kondisi ini. Kalau semua aparat penegak hukum di negeri ini frustasi mengikuti Pak Presiden, dengan mudah para koruptor macam kita pesta pora.”

“Kamu sendiri tidak frustasi?”

“Kenapa aku harus frustasi, Cep. Aku bukan presiden, pejabat, atau aparat penegak hukum negeri ini.”

“Sudah berapa lama kamu tidak menafkahi batin istri?”

Raut sumringah Memet seketika layu. Berganti sendu. Ia merapat ke jeruji sel, membentur-benturkan kepalanya ke jeruji, lalu berkata, “Aku juga frustasi soal ini, Met. Frustasi, you know!”

“Kau frustasi pada persoalan kecil, itu dapat dimaafkan. Tapi frustasi pada persoalan besar, itu sulit dimaafkan.”

Memet menoleh pada Cepi. “Kata-katamu sungguh bijak, Cep.”

“Oh, tidak juga.Itu kalimat yang kukutip dari koran.”*

 

Tangerang, Banten. 28 April 2013.