Ada Apa dengan Kemampuan Baca Anak SMA?
Sudah dibaca 62 kali

Diskusi dengan 2 guru dan 2 kepala sekolah dari 3 provinsi selama 2 hari kemarin mengentakkan hati saya betapa kemampuan literasi murid-murid Sekolah Menengah Atas (SMA) sangat mengkhawatirkan. Seorang kepala SMA di Riau menceritakan bahwa banyak muridnya yang malas membaca. Keterampilan membacanya rendah. Tak suka membaca teks panjang.
Solusi yang ditempuhnya cukup ‘radikal’: beli Majalah Bobo. Majalah untuk anak Sekolah Dasar itu kemudian diedarkan kepada murid-muridnya dan… mereka suka! Awalnya saya pikir ia bercanda: kok anak SMA baca majalah anak SD?
Namun kemudian saya memandang itu sangat rasional. Memaksa anak-anak remaja yang malas baca dan kemampuan membacanya rendah untuk membaca buku jenjang D dan E atau level mahir malah terasa, mengutip ucapan populer Rocky Gerung, sebuah ‘kedunguan’! Dalam matematika, ini seperti memberi soal persamaan kepada anak-anak yang belum paham penambahan/pengurangan dan perkalian/pembagian. Lebih sederhana lagi: sebuah kezaliman memaksa seseorang membaca ayat Al-Qur’an kalau orang itu tidak hafal huruf hijaiyah apalagi agamanya bukan Islam.
Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana anak-anak SMA zaman sekarang malas membaca, sulit memahami teks sederhana, atau masih terbata-bata saat membaca. Jika pertanyaan itu sebatas menggugat jati diri mereka tak ada guna karena kondisi itu telah menjadi fenomena di mana-mana. Konten media sosial tentang anak SMA tak bisa menjawab soal perkalian sederhana, atau tak hafal ibu kota provinsi, atau bingung menjawab hal yang dulu mudah dijawab oleh anak SD, sudah jadi barang viral dan bahan tertawaan lintas generasi.
Sebagian orang pun sudah mafhum bahwa otak anak-anak itu sudah busuk (brain rot). Terlalu sering menggulir konten receh di Medsos, tak ada budaya membaca di keluarga, minimnya buku bacaan di rumah dan sekolah, dan, ini yang paling berpengaruh, tak adanya sosok teladan membaca di rumah dan sekolah, ‘mengondisikan’ mereka menjadi seperti sekarang. Bagaimanapun, mereka adalah korban dan orang-orang dewasa di sekitarnya adalah para pelakunya.
Maka, sekali lagi, ini sangat rasional: anak SMA suka baca majalah anak SD. Sebab, mereka mudah memahami teksnya, temanya ringan, dan konteksnya sesuai dengan kehidupan keseharian. Tubuh mereka remaja tetapi kemampuan berpikir mereka masih anak-anak. Agak sulit membayangkan jika mereka diminta baca Majalah Tempo, Koran Kompas, atau buku Anak Semua Bangsa.
Membaca untuk Kesenangan
Kebanyakan guru dan orang tua memandang semua anak SMA bisa baca dan mudah paham buku dengan teks panjang. Mereka sulit membayangkan sembilan tahun duduk di jenjang SD dan SMP ternyata tak menghasilkan anak-anak pandai membaca. Orang bule menyebutnya ‘Schooling without learning’ alias pergi ke sekolah tapi tidak belajar. Berangkat pagi dengan semangat juang, pulang siang dengan otak kosong. Maka menjejali anak-anak itu dengan buku teks panjang bacaan level mahir bertema rumit dianggap hal wajar.
Anak SMA suka baca bacaan anak SD memaksa kita berpikir ulang tentang program literasi yang digulirkan selama ini, atau konten buku bacaan yang dihadirkan di sekolah: rasanya ada yang salah dengan persepsi kita. Sesuatu yang tidak rasional perlahan menjangkiti pikiran kita: memukul rata kemampuan membaca anak-anak SMA dan memaki anak-anak malas baca sebagai bermasa depan suram (madesu). Lalu kita terkaget-kaget mendengar kaset rusak tentang anak SD kelas tinggi dan anak SMP-SMA belum lancar membaca.
Mari lebih dulu kita buka pikiran dan lapang dada menerima situasi menyebalkan ini. Bagaimanapun, merekalah generasi muda yang akan mengisi ruang-ruang pembangunan negara. Menggantikan kita yang saban tahun dimakan usia dan sebentar lagi berbaring di tanah air mata. Berdiam diri dan memaki bukan solusi.

Mari kita berpikir sejenak tentang buku-buku yang dihadirkan untuk mereka. Bagaimana jika kemampuan membaca disesuaikan dengan buku yang ada? Untuk mengetahui kemampuan membaca setiap anak, kita dapat melakukan asesmen membaca kepada mereka. Setelah terpetakan kemampuan membaca setiap anak, pertemukan mereka dengan buku yang cocok. Ya, tugas guru bukan menjejali murid dengan buku-buku yang dianggap keren, melainkan membantu murid menemukan buku yang menarik minat bacanya. Anak-anak yang malas baca, atau rendah keterampilan membacanya, akan lebih tergugah dengan buku-buku bertema hobi atau keseharian mereka.
Jadikan membaca sebagai kegiatan senang-senang saja. Jangan tugaskan mereka untuk menulis resensi, sinopsis, atau ringkasan hasil bacaan. Kalau dipaksakan, mereka akan senyum di depan dan tertawa di belakang kita seraya berkata: dasar orang gila.
Variasikan kegiatan membaca dengan aktivitas lain yang bersifat apresiatif. Tawarkan mereka untuk berbagi pendapat tentang isi buku di depan kelas. Atau, sekali-sekali, tak ada salahnya Anda melakukan membaca nyaring (read aloud) di depan kelas, mendialogkan teks yang menarik, dan memberi banyak kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan isi pikiran.
Sebagaimana keterampilan hidup lainnya, membaca adalah keterampilan penting yang perlu terus dilatih, sering dilakukan hingga menjadi kebiasaan. Perlu alokasi waktu khusus bagi mereka untuk membaca buku yang disuka. Mulailah beri anak-anak waktu untuk membaca buku yang mereka suka. Tak usah lama, minimal 15 menit, asal sering. Saat mereka baca, Anda jangan ke mana-mana. Tetaplah berada di dekat mereka sambil juga membaca buku. Lalu bukalah ruang dialog tentang hasil bacaan. Dialog tentang isi buku dalam suasana menyenangkan, percayalah, akan menambah kedekatan Anda dengan mereka.
Membaca Lambat
Anak-anak yang malas dan jarang baca buku pasti lambat membaca dan sulit memahami isi bacaan. Maka mengadakan tantangan baca banyak buku hanya akan membuat mereka semakin minder dan jauh dari buku. Asah kembali empati Anda. Mereka pasti tidak menginginkan posisi seperti demikian.
Kalau Anda ingin mereka rajin membaca dan memahami isi bacaan, mulailah dari langkah sederhana. Izinkan mereka membaca buku yang disukai dengan membaca lambat (slow reading). Hargai kerut kening dan komat-kamit mulut saat mereka mengeja dan berupaya meraih maknanya.
Perlahan, dengan semakin sering baca buku dan mudah memahami maknanya, mereka akan menjadi pembaca cepat dan cermat. Dengan sendirinya mereka akan menaikkan frekuensi membaca dan mencari tema bacaan yang semakin sulit dipahami. Di sinilah kesenangan anak pada tantangan diletakkan sesuai proporsinya. Kita pun hanya perlu sabar mendampingi mereka berproses menjadi pembaca rakus. Pertanyaannya, apa kita cukup sabar menjalani proses itu?*
Tangerang, 7 Mei 2026
Leave a Reply