Spread the love

Sudah dibaca 1028 kali

—Tulisan kedua dari tiga tulisan—

Taksi meluncur tersendat ketika memasuki kawasan Cawang. Di luar hujan masih turun deras sehingga memacetkan jalanan. Aku duduk diam dan tidak mau memikirkan apa-apa. Aku sudah pasrah saja. Biar kuhadapi segala kemungkinan. Ini kali pertama aku akan dirawat di rumah sakit. Barangkali Allah menginginkan aku punya pengalaman diopname di rumah sakit—huh, kenapa tidak dinamakan Rumah Sehat saja biar tumbuh semangat di hati para penghuninya.

Ketika taksi memasuki terowongan underpass Cawang, laju kendaraan begitu pelan. Huh, aku lama-lama bisa stres sendiri. Tapi syukurlah walau bergerak perlahan taksi terus berjalan merayap.

RS. BUDHI ASIH
Sore, sekitar pukul 17, taksi tiba di lobi Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih. Rumah Sakit ini diresmikan Gubernur Sutiyoso pada 2006. Jadi gedung ini belum genap satu tahun ditempati. Gedung lama terletak beberapa meter dari gedung ini.

Aku keluar dari taksi. Lobi dipenuhi orang-orang. Hujan masih turun deras, anginnya mengembus sampai lobi. Aku berjalan agak terhuyung mengikuti Bapak memasuki rumah sakit. Usai bertanya pada petugas informasi, kami berjalan ke dalam menuju meja pendaftaran.

Ah, megah sekali Rumah Sakit ini. Aku tidak memerhatikan sekitar dengan seksama, namun bisa merasakan gedung ini begitu kokoh dan besar. Pintu lift­-nya ada beberapa.

Setiba di meja bagian pelayanan, aku mendengar petugas berkata ruangan untuk pasien demam berdarah masih ada, tapi ruangan untuk pasien penyakit lain sudah penuh. Bapak mengatakan padanya bahwa aku kena demam berdarah. Ia menyodorkan berkas uji laboratorium yang menunjukkan trombositku 106.000 beserta surat rujukan dari RS Duren Sawit. Petugas itu mengatakan aku harus dites ulang karena rumah sakit ini hanya memakai bukti terbaru. Jadi aku akan disuntik lagi, dong, batinku. Habis deh, darahku.

Lalu aku dan Bapak berjalan menuju ruang UGD. Di sana aku berbaring di matras pasien. Di kanan-kiriku beberapa orang tua sudah berbaring lebih dulu. Entah sakit apa. Untung tidak ada yang teriak-teriak.

Ketika aku membaringkan tubuh, pinggulku terasa sakit. Aku tidak bisa tidur telentang! Terpaksa aku duduk karena tidak mungkin aku tidur telungkup. Kucoba tiduran lagi karena aku lelah, tapi tetap tidak bisa. “Sus, ada bantal, nggak? Saya nggak bisa tiduran. Pinggul saya sakit,” ujarku ketika seorang suster datang.

“Di sini nggak ada bantal. Nanti di ruang perawatan,” jawab suster. Lalu ia menyuntikku, mengambil sampel darah dari lengan kananku. Barangkali untuk uji laboratorium.

Aku tidak tahu apa yang diurus Bapak, yang kurasa prosesnya sangat lama. Aku capek duduk sendirian, melihat orang mondar-mandir. Ah, andai Ibu ada. Kenapa ya kejadiannya terjadi saat dia tidak ada? Biasanya kalau aku sakit Ibu yang merawatku.

Hal yang kukhawatirkan terjadi juga. Suster yang tadi menyuntikku datang membawa kantung dan selang infus. Kali ini ia memilih lengan kiriku.

Crep!

Uh sakit sekali ketika jarum suntik menghunjam pergelangan tangan. Aku berusaha mengalihkan pikiran saat jarum suntik masuk kulit, tapi tetap saja terasa sakit. Tapi…kok kini telapak tanganku yang dipegang?

Crep!

Suster memasukkan sesuatu ke atas punggung telapak tanganku. Rasanya sakit. Aku melirik. Ternyata selang infus. Lalu bagaimana dengan tusukan di pergelangan tangan tadi? Keinginan yang dibatalkan? “Sus, ini ada darah di tangan saya,” ujarku sambil melihatkan segumpal darah di atas pergelangan tangan. Lalu suster itu membalut luka tadi dengan kapas dan plester.

Suster pergi dan tak lama kemudian menutup gorden yang mengelilingi matras-matras pasien. Jadilah aku tidak bisa melihat orang-orang hilir mudik. Aku cuma bisa melihat pasien lain di kanan-kiriku. Tiada pemandangan yang bagus.

Sampai pegal aku menunggu Bapak. Aku berharap ia cepat menyelesaikan administrasi. Lama menunggu bikin aku banyak berpikir. Aku teringat perkataan petugas administrasi, “Ruangan untuk pasien demam berdarah masih ada, tapi ruangan untuk pasien penyakit lain sudah penuh.” Tiba-tiba aku berkeinginan agar aku sedang mengidap demam berdarah. Supaya dibolehkan dirawat di rumah sakit ini. Aku bingung kalau mengidap penyakit lain seperti tipes, harus pergi ke rumah sakit mana? Kondisi di luar sedang hujan deras dan aku cuma ditemani Bapak yang tidak berpengalaman mengurus administrasi rumah sakit—Ibu lebih berpengalaman. Aku sudah capek sakit, aku ingin segera sembuh. Dan aku ingin segera mendapat kasur nyaman di rumah sakit ini.

Akhirnya Bapak datang bersama seorang petugas. Aku turun dari matras dan duduk di atas kursi roda. Petugas membawaku menuju lantai sembilan. Naik lift. Di lantai sembilan, di pintu masuk ruangan sisi barat, seorang petugas keamanan menghampiri. Ia membersihkan jalan dari hamparan sendal di depan pintu. Di ruang 906 aku masuk dan dibaringkan di tempat tidur dekat pintu. Sempat kuamati, dari delapan tempat tidur, sudah enam terisi; satu di dekat pintu, satu lagi dekat jendela.

Alhamdulillah, akhirnya aku bisa berbaring di tempat nyaman, bebas dari suara bising. Aku bisa menenangkan pikiran dan jauh dari segala permasalahan organisasi dan pekerjaan. Tapi keinginan itu tak segera terlaksana. Seorang pasien berewok keturunan Arab, yang ranjangnya tepat berada di dekatku, turun dari ranjangnya sambil memegang kantung infus. Ia mendekati suster berjilbab putih.

“Sus tolong lepaskan infus ini sebentar saja. Saya mau makan,” kata orang keturunan Arab itu.

“Tidak boleh, Pak Zaenal!” ujar suster dengan nada tinggi.

Zaenal terus memaksa. Ia berkata bahwa ia sudah capek.

“Selang infus tidak boleh di lepas,” ulang suster, jengkel. “Saya tidak mau lepas. Nanti saya diomeli dokter.” Usai berkata suster itu pergi. Zaenal kembali ke ranjangnya sambil menggerutu. Pasien lain dan para penunggu bersuara tidak jelas. Sepertinya kekesalan terhadap Zaenal.

Malam kulalui dengan perasaan tidak nyaman. Pinggulku masih terasa pegal. Kugunakan bantal untuk menyangganya dan meninggikan ranjang bagian kepala. Bapak pulang sebentar untuk mengambil pakaianku. Aku memberitahu adik dan Ibu yang masih dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

 

Rabu, 7 November 2007   
Pagi menyapa. Dokterku, dr. Myrna, datang. Kujawab pertanyaannya apa adanya yang kebanyakan seputar keluhan yang kurasakan. Suasana ruangan agak hiruk pikuk. Maklum kelas 3. Seorang suster datang hendak menyuntikku ketika Zaenal tiba-tiba batuk-batuk dan muntah ke lantai dekat ranjangnya. Walau tak terlihat kentara, kuperhatikan suster itu dan suster lain seperti jijik dan risih dengan ulah Zaenal. “Kamu mau nanti dipindah sebentar ke ruang sebelah? Biar ruang ini nanti dibersihkan,” kata suster. Aku mengangguk.

Kemudian aku dipindahkan ke ruang seberang. Ruangan ini hanya berisi lima tempat tidur, tapi tak ditempati. Artinya aku sendirian di ruangan itu. Bapak menemani. Karena tempat tidurku dekat jendela sisi utara, aku bisa melihat gedung dan hilir mudik kendaraan di luar gedung.

Cukup lama aku ditempatkan di ruangan itu. Entah berapa jam. Aku tidak betah. Bapak sendiri tidur-tiduran di ranjang lain yang tidak diberi seprai. Di ruangan ini aku menyantap sarapan pagi—bubur, ati ayam plus sayuran. Aku menghabiskannya separuh.

Akhirnya aku pindah ke tempat semula. Kondisi ruangan sudah bersih. Aku ke toilet dekat pintu untuk buang air kecil dan saat kembali mendapati Ibu sudah berdiri dekat ranjangku. Syukurlah, akhirnya ada Ibu. Aku merasa lebih tenang. Gantian Bapak pulang. Jaga rumah.

Menjelang siang seorang pasien pulang. Ranjangku digeser menggantikan tempatnya. Posisinya dekat jendela. Terasa panas di tempat itu lantaran jendela tidak diberi gorden dan pendingin ruangan mati. Untung saja jendela menghadap selatan, tidak ke timur atau barat. Jadi sinar matahari tidak langsung menerpa jendela.

Sebagai pasien demam berdarah, aku diharuskan banyak minum air putih. Entah mengapa, aku tidak bernafsu minum. Aku malah nafsu makan. Pagi tadi Bapak membelikanku bubur ayam dan kuhabiskan setengah. Lalu berlanjut sarapan di ruang sebelah yang kuhabiskan setengah—kalau tidak kekenyangan pasti kuhabisi..

Walau demikian aku harus terus minum. Aku sempat shock ketika seorang suster melaporkan jumlah trombositku, di depan dr. Myrna, turun menjadi 84.000. Padahal, ketika aku masuk rumah sakit ini, jumlah trombositnya 110.000—lebih besar 4.000 dari uji lab di RS. Duren Sawit. Jumlah trombosit normalnya 150.000.

Sering minum bikin aku rajin ke kamar mandi. Repotnya, kalau ke kamar mandi, posisi tangan kiri harus selalu lebih rendah dari kantung infus. Posisi ini harus terus dipertahankan ketika di dalam kamar mandi dan buang air kecil (BAK).

Kamar mandi berukuran sedang. Ada baskom plastik dan selang air di sebelah kiri yang sedikit bocor—airnya muncrat ke mana-mana. Gantungan infus terletak di sebelah kanan. Inilah yang bikin aku repot. Saat BAK, kantung infus digantung di sebelah kanan. Selangnya menyeberangi lubang WC dan bermuara di telapak tangan kiriku. Agar posisi selang infus di punggung telapak tangan stabil, aku harus memosisikannya di depan dada. Aku sempat tertawa sendiri tiap melakukan posisi ini. Sebab saat BAK posisiku seperti ‘Pahlawan Bertopeng’ di film Shinchan usai mengalahkan musuh. Bedanya, tangan kiriku ke depan dada, sementara tangan kananku…, ya begitulah.

Untuk berwudhu, aku menggunakan baskom plastik. Tak mungkin aku menggunakan selang yang debit airnya tinggi, lagi pula aku ‘hanya punya satu tangan’. Maka baskom kuisi air dan dari situ tangan kananku leluasa meraup air dan membasahi sekujur bagian tubuh berwudhu.

Saat siang, seorang tetangga, Pak Joko, datang membesuk. Sendiri. Sebenarnya ia tidak dibolehkan petugas untuk membesuk karena belum waktunya jam besuk—waktu besuk pukul 17.00-19.00. Ia bisa masuk lantaran beralasan pada petugas bahwa ia datang dari daerah yang jauh.

Senja tiba, teman-teman sekantorku datang; Azti, Adib, Heru, Fachru, dan Jay. Suasana berubah menjadi ramai. Begitulah kalau bertemu dengan teman-teman. Canda tawa membelah kebekuan. Heru, fotografer, mulai beraksi. Kameranya memburu apa saja. Selang infus tak terkecuali. Mungkin dia mau bikin pameran tunggal berjudul ‘Infus’.

Aku sempat bicara dengan dua reporterku, Azti dan Adib, soal kondisi kantor. Tidak berubah. Masih tidak jelas. Untuk melepas kepenatan bicara tentang pekerjaan, kami mengalihkan pembicaraan.

Sebelum maghrib, teman-teman pulang. Membawa canda tawa. Tak lama berselang adikku, Merlin, dan saudara sepupuku, Dendy, datang. Aku bersyukur Dendy sudah diangkat satu tingkat di tempatnya bekerja di Departemen Koperasi; dari satpam menjadi teknisi.

Malam datang bersama Bapak. Ia menginap di rumah sakit, menungguiku. Ibu, Merlin, dan Dendy pulang. Ibu pulang biar bisa istirahat dengan tenang di rumah. Setiba di rumah tadi pagi dari Bojonegoro, ia langsung ke rumah sakit mengunjungiku.

Usai shalat Isya aku tilawah. Aku meminta Merlin membawakan mushaf berukuran kecil dan baru tadi sore dia bawa. Sengaja aku memilih Qur’an untuk dibaca supaya hati tenang, selain meneruskan kebiasaan rutin tilawah. Aku tidak minta dibawakan buku bacaan—semisal buku Wars Within yang sedang kubaca—karena aku tidak ingin pusing mengingat.

Aku tidak peduli pasien atau pengunggu lain melihatku. Aku tilawah dengan suara lirih. Semoga pula ibadah ini, seperti shalat dan tilawah, diikuti pasien lain yang tidak shalat atau tilawah lantaran sakit—juga para penunggu pasien. Usai tilawah, aku membaringkan tubuh, menenangkan pikiran.

Di ruangan itu, yang selalu menyita perhatianku adalah Zaenal—kini posisi ranjangnya berseberangan dengan ranjangku. Tingkah polah lelaki itu—barangkali usianya di atas ku—sembarangan dan seperti anak kecil. Ia maunya pulang, terus merayu suster dan umi-nya.

Malam itu menjadi malam mengerikan bagiku. Zaenal terus mengiba-iba umi-nya agar besok pulang. Umi-nya menolak karena dokternya, dr. Asep, belum membolehkannya. Trombositnya masih rendah. Namun Zaenal tidak peduli. Ia mengatakan sudah tidak kuat berlama-lama di rumah sakit. Ia menuduh umi-nya sengaja mencelakakannya karena menolak keinginannya. Ia menyebut umi-nya ‘anjing’, ‘bangsat’, serta perkataan lain yang malas kudengar. Ia juga, kuperhatikan, hampir akan memukul umi-nya. Durhaka, vonis hatiku. Aku tak kuat melihat perlakuan orang itu pada ibunya.

Aku sangat terharu pada umi. Ia, terlihat sudah berumur, sangat sabar menenangkan anaknya. Kadang ia memanggil suster untuk membantunya memberi penjelasan pada Zaenal. Ia rela tidur di lantai dekat ranjang Zaenal.

Aku menduga Zaenal tidak kuat berlama-lama lantaran dia tak kuasa menahan diri untuk tidak merokok. Ia sempat melontarkan janji pada umi-nya, kalau dibolehkan pulang cepat ia akan mengurangi rokok dan minum khamr. Aku jadi ingat perkataanku pada seorang teman kampus beberapa tahun lalu. Ia perokok berat. Untuk membunuhnya, kataku, sangat mudah. Beri dia makan banyak, jauhkan rokok darinya, lalu kurung dia sehari saja.

Sudahlah, aku tidak mau mempedulikan anak durhaka itu. Aku pengin cepat pulang. Aku harus minum banyak dan makan…..”Pak, beliin Billy Nasi Goreng, dong!” Ya, aku mau makan banyak. Makan nasi goreng menjelang tidur sepertinya bukan ide buruk.

Bapak turun membeli nasi goreng. Aku menunggu sembari melihat perilaku Zaenal. Barangkali ini yang membuat prihatin dan gemas pasien dan para penunggunya padanya.

Aku makan lahap nasi goreng tapi tidak menghabiskannya. Biar setengahnya kumakan tengah malam. Ini baru pukul 22. Lalu aku tidur. Kupikir aku tidak akan tidur nyenyak seperti kemarin.

Ternyata dugaanku salah. Aku tidur pulas semalam.

 

Kamis, 8 November 2007
Fajar menyingsing. Aku membuka mata lalu menoleh pada jendela. Langit masih gelap. Tak lama kemudian gema azan bersahut-sahutan. Kemudian menyusul bunyi azan dari pengeras suara yang terletak di plafon tengah ruangan. Suara mesin, pikirku. Suaranya selalu sama dan berbunyi tiap waktu shalat tiba.

Kuedarkan pandangan, para pasien masih bergulat dengan mimpi. Aku bangkit dari ranjang, mengambil karet gelang, dan mengikat selang infus antara kantung dan pengatur debit—beginilah ajaran suster supaya darah di tangan tidak mengalir ke selang. Usai berwudhu dan shalat subuh, aku kembali tilawah.

Aku tidak mengingat pasti siapa saja pasien di ruangan itu. Sebab pasien selalu keluar-masuk perawatan. Yang pasti, selama aku dirawat, ada dua pasien yang terus menemaniku; Zaenal dan ‘Pak Haji’—posisi ranjang dua pasien ini bersebelahan.

Pak Haji sakit diabetes. Ia selalu memanggil Zaenal—sakit demam berdarah—‘habib’. Ia ‘cerewet’ dan selalu mengingatkan Zaenal agar setelah pulang makan nasi kebuli. Pak Haji bicara dengan memekik semata konsumsi hiburan, untuk ditertawakan.
Sekitar pukul tujuh sarapan datang. Masih bubur plus lauk dan sayuran. Aku menyantapnya senang-senang saja. Yang penting perut terisi.

Suster tahu telapak tanganku di sekitar infus membesar alias bengkak. Tiga jariku, yaitu kelingking, manis, dan tengah, juga bengkak. Lalu ia melepas selang infus dari punggung tanganku—terletak di antara jari kelingking dan manis, berjarak dua jari dari pangkal keduanya. Aku sempat melihat plastik pipih berukuran kecil sebentar tergeletak di atas punggung tangan. Barulah kutahu yang masuk ke pembuluh vena bukan jarum infus, melainkan selang kecil dari plastik dengan panjang sekitar lima sentimeter.

Setelah selang infus dilepas dan ditinggal suster, aku merasa menjadi orang bebas. Aku bisa menggaruk punggung dengan tangan kiri secara leluasa. Ke kamar mandi dan BAK tanpa membawa kantung infus. Mondar-mandir di ruangan. Aku juga bisa shalat dhuha (secara normal) di lantai beralas sajadah, tidak lagi di atas ranjang dengan duduk. Aku mengungkapkan kegembiraan ini dengan mengirim pesan layanan singkat (SMS) ke seorang teman—kadang aku memberi kabar ke beberapa teman lewat nomor Esia.

Namun kegembiraan itu tak lama. Usai keluar dari kamar mandi, dua suster sudah menungguku di samping ranjang sebelah kanan. “Ada apa, sus?” tanyaku, pura-pura tidak tahu.

“Dipasang lagi selang infusnya, Bil,” ucap seorang suster, akrab.

“Tangan sebelah kanan, ya?” tanyaku lagi. Aku berbaring.

“Terserah,” kata suster yang satu lagi. “Tadi, kan, tangan sebelah kiri.”

“Tapi kalau mau di sebelah kiri lagi tidak apa. Biar gampang kalau mau makan,” sela suster yang satu. Aku mengiyakan.

Keduanya kemudian pindah ke sisi kiriku dan mulai sibuk dengan infus. Kali ini titik infus bukan di punggung tangan, melainkan di lengan yang berjarak tujuh jari dari lubang infus pertama. Saat mereka memasukkan selang infus, aku mencoba merasakan selang itu masuk ke pembuluh vena. Rasanya nyeri.

Sesudah suster pergi, aku merasa kurang nyaman dengan infus baru ini. Aku merasa perlu beradaptasi selama beberapa menit. Kepalaku kembali pusing. Aku tidur.

Siang, saat membuka mata, aku melihat Pak De Cipto berdiri di pintu masuk. Sepertinya ia mencariku di antara pasien. Aku melambaikan tangan, ia datang. Lalu ia duduk di sebelah kiriku.

Kepalaku masih pusing. Ibu tidak ada, entah ke mana. Kata seorang penunggu ia sedang keluar mencari makanan. Pak De mengajakku bicara. Ia pamanku yang baik. Walau hatinya keras, ia orang baik. Dia pernah menawariku posisi PNS di kantornya namun aku tolak. Ia marah, begitu pula orang tua dan beberapa saudaraku. Hingga ketika aku membesuknya saat kena serangan jantung di RS Persahabatan, suatu hari, kalimat pertama yang terucap saat melihatku adalah, “Pak De heran sama kamu, Bil. Kok disuruh jadi PNS tidak mau?”

Tak lama berselang Bu Pepen datang. Ia teman Ibu. Rumahnya beda satu gang dari rumahku dan ia kadang bertandang ke rumah. Bersama Ibu ia aktif di posyandu, PKK, dan kelurahan untuk kerja-kerja sosial. Katanya ia datang bersama ibu-ibu lain, namun tidak bisa masuk lantaran dicegah petugas.

Aku tak bisa menahan diri untuk BAK. Aku bangkit, mengikat selang dengan karet, dan turun dari ranjang. Pak De membantuku membawakan selang infus. Usai kembali ke ranjang, Bu Pepen mohon diri.

Kemudian OM Han datang. Ya, Pak De datang bersama Om Handoyo. Om Han sempat dicegah masuk oleh petugas jaga namun nekad masuk dengan alasan hendak menemui kakaknya. Om Han ayah Dendy. Aku dekat dengannya saat aku masih kecil. Banyak mainanku dibelikan olehnya. Kadang pula aku menginap di rumahnya di Bekasi. Ia adik Ibu, anak bungsu dari sepuluh bersaudara.

Sebelum keduanya pulang, Ibu datang. Ibu sempat bertemu Bu Pepen cs di luar. Ibu bercerita ia disindir oleh mereka, kenapa anak Juru Pemantau Jentik (Jumantik) terkena demam berdarah. “Saya bilang saja Billy kena demam berdarah di TIM,” kata Ibu.

Pak De Cipto dan Om Han pulang. Usai shalat zuhur aku makan siang. Tubuh masih terasa lemas dan kepala pusing.

Sore tiba, dua saudara sepupuku Iin dan Dendy datang. Mereka satu kantor di Departemen Koperasi tapi beda pekerjaan. Melihat kedatangan mereka aku tertawa geli. Tadi siang dua orang tua mereka datang, sorenya mereka datang—Iin anak Pak De Cipto.
Merlin dan Teguh, teman dekatnya, datang menyusul. Merlin bawa beberapa keperluan untukku—kebanyakan makanan.

Tak lama kemudian dua teman dari FLP DKI Jakarta datang; Iecha dan Purkon. Banyak sekali mereka bawa ‘oleh-oleh’. Aku menceritakan kronologi bagaimana aku bisa sakit, yang kumulai saat mengadakan acara di Annida pada Sabtu 3 November bersama Iecha. Lalu Purkon bercerita tentang pengalamannya terserang malaria ketika bekerja di hutan Kalimantan. Ia dirawat sebulan di rumah sakit padahal sudah sembuh dalam seminggu. Kami juga bicara beberapa hal soal organisasi. “Sudah Mas Bill nggak usah banyak mikir dulu,” imbuh Iecha.

Pukul 19 Iecha dan Purkon pamit pulang. Kemudian menyusul Iin dan Dendy. Aku kembali sendirian, ditemani Ibu. Namun aku berpikir akan melewati malam ini dengan sebaik-baiknya. Aku ingin menikmati malam sendirian.

Aku lupa pukul berapa, tapi Ibu sudah tidur di lantai sebelah kiri ranjang dekat jendela. Dengan susah payah aku mengambil susu cair coklat bungkus dan mencampurnya dengan air termos ke dalam secangkir gelas plastik kecil. Kupindah tiang gantungan infus ke lubang di sisi ranjang paling bawah. Aku bangkit dari ranjang dan menarik kursi plastik ke dekat jendela. Semua aman. Aku duduk di depan jendela menatap suasana malam Cililitan-Condet-Kramat Jati sambil menikmati susu hangat. Tangan kiriku agak bebas bergerak karena dekat dengan tiang infus. Ibu masih tidur pulas. Aku tidak mempedulikan hiruk-pikuk keluarga pasien yang baru masuk.

Aku berusaha merenungi keberadaanku di rumah sakit, juga kenapa aku terserang demam berdarah. Ah, aku belum bisa berpikir keras. Maka aku menatap lalu lintas kendaraan dan kerlip lampu rumah-rumah penduduk. Aku mencoba menangkap makna.

Susu habis kusedot. Mataku sudah sayu dan tubuhku lelah. Aku mengembalikan semuanya pada posisi semula. Ibu sempat terbangun sebentar. Malam itu kulalui dengan tidur pulas.

 

Jumat, 9 November 2007
Kulalui subuh seperti biasa; shalat subuh dan tilawah. Paginya juga sama; sarapan dan diambil darah untuk uji lab. Hanya hari ini begitu mengejutkan. Aku tak menyangka doaku dalam sujud dan usai shalat terkabul: sembuhkan aku dengan cepat ya Tuhan. Pukul 9.30 dr. Myrna datang. Ia melihat, dari data yang diberikan suster, perkembangan trombositku meningkat terus; dari 84.000 – 94.000 – 117.000. Walau belum mencapai posisi normal 150.000, ia berkata, “Billy kamu nanti boleh pulang. Trombositmu meningkat terus. Tapi nanti setelah hasil cek darah tadi pagi ya!”

Mendengarnya aku senang sekali. Aku tidak menyangka akan pulang ‘secepat’ itu. Aku menargetkan Sabtu pulang. Maka kuberitahukan teman-temanku bahwa aku bisa pulang siang ini. Termasuk ke Merlin. Tapi sayang Ibu belum tahu. Tadi pagi Bapak datang dan Ibu gantian pulang.

Meski divonis boleh pulang, selang infus masih menempel di tanganku. Dan aku ingin mengisi waktu tersisa dengan kegembiraan. Aku melirik Pop Mie di atas meja yang dibawa Merlin kemarin. Kuminta Bapak menuangkan air panas ke dalamnya.

Aku menikmati Pop Mie sambil duduk menghadap jendela. Sebelumnya tiang infus kupindah ke lubang di sisi ranjang paling bawah. Baru habis setengah, dua suster datang. Mereka langsung menegurku. “Lho kok makan itu? Makanan itu, kan, ada pengawetnya,” kata seorang suster.

Aku nyengir. Kuberikan sisa Pop Mie pada Bapak dan kembali berbaring di ranjang. Bapak menghabiskan Pop Mie.

Pukul 11 suster mencopot selang infus dari lenganku. Aku lega sekali. Bapak turun mengurus administrasi. Alhamdulillah bea pengobatan gratis. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memang menggratiskan bea perawatan bagi penderita DBD.

Aku merasa rugi tidak bisa shalat Jumat hari itu. Badanku masih letih, kepala pusing, dan tidak ada masjid di rumah sakit itu. Bapak shalat Jumat di masjid yang terletak sekian ratus meter dari rumah sakit dalam cuaca gerimis.

Pukul 12.33 aku dan Bapak meninggalkan ruang perawatan. Aku pamit pada semua pasien dan penunggunya, juga kepada suster kuucapkan terima kasih. Aku meninggalkan RS Budhi Asih dengan taksi.

Aku sangat senang kala tiba di rumah. Suasananya agak berubah. Udara rumah wangi oleh pengharum ruangan. Aku duduk di bangku panjang dan mencoba menenangkan pikiran.

Tidak, aku belum tenang. Suara brengsek musik dengan bass keras dari bengkel mebel sebelah rumah masih merobek-robek gendang telingaku. Aku ingin mereka, para pekerja itu, tahu bahwa kesenangan mereka selama ini mengganggu orang lain. Mereka harus diberi tahu dan diperingati. Aku tidak boleh tinggal diam terus ditindas. Aku tidak mau membiarkan diriku terus ditindas.

Kuadukan keberatan ini pada Bapak, dia malah menggerutu. Kuadukan pada Ibu, ia tidak berani berbuat apa-apa. Maka segeralah aku mengambil kunci motor. Kupacu motor menuju bengkel yang untuk mencapai pintu depannya harus berputar masuk gang dahulu. Aku sedikit khawatir pada diri sendiri karena wajahku masih pucat, tubuh lemas, dan kepala pening.

Di sana aku menemui sejumlah pekerja yang sedang asyik dengan pekerjaannya. Musik masih mengalun tak jelas—suaranya samar namun bass-nya mendentam-dentam. Kujelaskan pada mereka bahwa rumahku disebelah bengkel mereka, aku sedang sakit dan butuh pengertian mereka agar kalau menyetel radio bass-nya dikecilkan atau dimatikan. Mereka seperti tak perlu banyak waktu untuk berdebat. Seseorang dari mereka naik bedeng lalu mengecilkan suara radio dan mematikan bass. Aku berterima kasih pada mereka atas itu dan pulang dengan perasaan puas; aku sudah membuktikan diri tidak mau ditindas terus.

Setiba di rumah aku bisa beristirahat dengan tenang. Alhamdulillah.

 

Duren Sawit, Jakarta Tmur. 12 November 2007.