Belajar Ikhlas dari Amira
Sudah dibaca 896 kali

Film Assalamu’alaikum Baitullah menunjukkan bahwa keikhlasan menerima ketentuan Allah SWT merupakan jalan terbaik menjadi pemenang dalam pertarungan kehidupan. Manis di adegan terakhir.
Semua orang pengin hidup bahagia. Namun seringkali sulit mencapainya. Dalam prosesnya, ada saja tantangan menghadang. Usaha bertahun-tahun, ending-nya kejatuhan durian berulang kali.
Itu yang dialami tokoh utama Amira Khadijah. Orang yang dicintai pergi, suami ketahuan selingkuh, buah hati yang ditunggu bertahun-tahun hilang. Semua itu datang bersamaan seperti dilempar durian montong berkali-kali dari atas truk pengangkut. Hancur lebur.
Tak kuat merasakan terjangan ujian, Amira hendak mengakhiri hidup. Namun takdir berkata lain. Allah Swt masih mencintainya.
Dengan dukungan sahabat dan komunitas hijrah, Amira bangkit dari keterpurukan. Di saat itulah cintanya bersemi kembali. Namun, lagi-lagi, ujian datang menghadang. Ia harus berhadapan dengan sahabat saat cinta itu menyapa.
Kegetiran hidup dan keteguhan hati menuntun Amira memilih jalan keikhlasan. Ia pergi mengikuti kata hati: Baitullah. Namun di sanalah Allah Swt menunjukkan takdir terbaik untuk Amira. Lelaki itu memang untuknya.
Menyelami Karakter
Diangkat dari novel laris Asma Nadia Assalamu’alaikum Baitullah, film ini diproduksi oleh VMS Studio, ditulis oleh Titien Wattimena, dan disutradai oleh Hadrah Daeng Ratu. Pemeran utamanya di antaranya Michelle Ziudith selaku Amira, Arbani Yasiz sebagai Barra, Tissa Biani memainkan tokoh Amel, Miqdad Addausy sebagai Pram, dan Maudy Koesnaedi sebagai ibu Barra. Film ini tayang perdana pada 17 Juli 2025 di bioskop-bioskop tanah air. Saya beruntung menjadi salah satu penonton pertama pada pemutaran perdananya di XXI Pondok Indah Mal 1, Jakarta Selatan.

Rangkaian peristiwa yang ditemui Amira bisa jadi juga dialami banyak perempuan sedunia. Namun karakter perempuan bernama Amira bukanlah tokoh lemah, mudah terima keadaan, dan pasrah. Memang ia sempat berada diposisi terendah dalam hidupnya dan ingin menjauhi dunia. Namun, ketika kesempatan kedua diraihnya, ia menunjukkan sikap kemandirian, karakter, dan pesona yang kuat. Ia lebih mengutamakan perasaan sahabatnya. Ia menggunakan hati dan akal sehat ketimbang emosi saat menghadapi dilema. Amira, dalam hal ini, menunjukkan kapasitas sebagai seorang perempuan kuat, mandiri, dan ikhlas. Transformasi karakter tokoh utama berjalan dengan lembut.
Lokasi syuting yang membuat saya takjub adalah Baitullah, Ka’bah di Masjidil Haram. Saya kira ada larangan untuk syuting di kawasan Ka’bah namun ternyata salah satu adegannya memang di sana. Jujur ya, air mata saya turun ketika Amira tawaf dan ibunya berada di sampingnya. Amira berhalusinasi karena ibunya yang sudah lama ingin ke Baitullah meninggal. Saya seketika teringat ibu dan ingin sekali mengajaknya umroh atau berhaji.
Menonton film ini, saya seperti menyelami kondisi psikologis perempuan dan laki-laki dalam menghadapi situasi. Peran psikologis para tokoh tidak diletakkan di titik ekstrem, melainkan di ranah yang seharusnya: tengah-tengah. Tak ada yang menjadi pecundang. Mereka berjalan sesuai dengan kondisi yang membuatnya bertambah dewasa. Mengalah, bukan kalah. Ikhlas, bukan pasrah.
Saya beruntung bertemu Mbak Asma Nadia untuk membuat konten. Saya tanya apa yang membuat warga Indonesia harus menonton film ini. Katanya, “Akan ada banyak orang yang relate dengan cerita ini. Karena konflik rumah tangganya bikin relate. Konflik luka batinnya bikin relate. Konflik jodohnya bikin relate. Dilemanya, kerinduan Baitullah-nya bikin relate.” Ia yakin anak yang nonton film ini akan muncul keinginan untuk membawa orangtuanya ke Baitullah (klik tautan ini).Selamat menonton!*

Aku kalau jadi Amira mungkin udah stress ya. Tapi dari film ini mengajarkan banyak pesan moral. Pastinya kalau perempuan nonton film ini banyak meweknya karena sedih banget kalau yg namanya diterpa ujian hidup
Iya, banyak pesan moralnya.