Spread the love

Sudah dibaca 818 kali

“Ih, serem deh, Bil, serem banget!” ujar teman sekantorku berulang-ulang suatu hari. Ia duduk di meja kerjanya sementara aku membelakanginya, menghadap komputer. Aku memutar bangku dan menoleh ke arahnya demi mendengar ceritanya. Sejenak pikiranku meraba-raba apa yang hendak ia katakan. Mungkin dia akan bercerita tentang film atau kejadian menyeramkan.

Dugaanku salah seratus persen. Ia bercerita tentang pengalaman kesehariannya ketika berangkat kerja. Dari rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, ia selalu naik bus dari Terminal Tanjung Priok. Bus yang ia tumpangi selalu mangkal di salah satu sisi terminal. Bus baru berangkat bila penumpang penuh. Saat menunggu itulah ia serasa di dalam neraka.

Seorang pengamen dengan gitar di tangan mendendangkan lagu. Bukan pop, rock, apalagi keroncong, melainkan lagu rohani kristiani. Sekali-dua kali ia merasa baik-baik saja. Ia baru menganggap itu bermasalah pada dirinya ketika ia mendapati pengamen itu menyanyikan dua lagu yang itu-itu saja. Selalu berulang tiap pagi kala menunggu bus berangkat.

Pengulangan lagu selama beberapa bulan itu membuatnya tidak nyaman. Lirik dan lagu rohani itu selalu mengiang-ngiang di kepalanya hingga ia merasa nyaman dan hafal dengan liriknya.

Ia tahu itu tidak baik bagi dirinya. Ia muslimah yang semestinya mendengar lagu-lagu rohani keislaman. Bolehlah mendengar lagu rohani agama lain namun tidak tinggi intensitasnya.

Ingin sekali ia keluar dari situasi tidak mengenakkan itu, tapi sulit sekali. Ia pernah berpikir untuk memberikan sejumlah uang ke pengamen itu agar tidak mengamen di bus tempatnya duduk. Tapi apa itu memungkinkan?

Ia gemas terhadap pengamen itu dan merasa putus asa dengan kondisi yang ada. Ia mengatakan sangat bersyukur bila ada pengamen yang menyanyikan lagu rohani keislaman. Akan ia berikan sejumlah uang bila ia menemui mereka.

Maka terbitlah kecurigaan di benaknya. Bukankah pengamen itu sedang berdakwah? Mendakwahkan ajaran kristiani. Metodenya sederhana: nyanyikan saja dua lagu rohani di bus yang sedang mangkal setiap hari. Targetnya jelas: para penumpang yang naik bus itu. Namun ia tidak tahu apakah pengamen itu punya banyak teman yang melakukan hal sama di bus lain.

Sederhana
Mungkin hal ini tak terpikirkan atau lepas dari pengamatan. Tapi begitulah kondisinya. Sangat efektif! Sangat sederhana! Bukankah salah satu metode dakwah adalah mengulang-ulang atau repetisi?

Dalam pengertian luas, berdakwah merupakan upaya menyebarkan nilai-nilai atau ajaran tertentu lewat media tertentu. Dengan pengertian ini, kita bisa mengatakan semua orang bisa berdakwah tanpa harus memiliki pengakuan atau otoritas tertentu.

Televisi adalah sarana dakwah efektif di era abad informasi ini. Di dalamnya banyak ‘kelompok’ yang berdakwah, seperti film dan iklan. Film mendakwahkan kekerasan, pornografi, kekejaman, yang dibungkus lewat berbagai adegan. Nilai-nilai kebaikan, toleransi, demokratis juga bisa didakwahkan lewat film. Iklan, selain menjual produk, juga gaya hidup lewat penampilan bintang iklannya; gaya hidup mewah, hedonis, glamor, sederhana. Paradoks. Tapi percayalah dakwah yang terus gencar digaungkan di televisi adalah perusakan terhadap nilai-nilai sosio-masyarakat, budaya, dan agama. Misalnya liberalisasi hubungan antara orang tua dan anak, penumbuhan sikap hidup konsumtif dan gaya hidup mewah, hedonis, budaya pacaran, dan penyimpangan ajaran agama oleh film/sinetron berlabel religius.

Nah ternyata mengamen juga sarana efektif berdakwah bila dilakukan secara terarah. Banyak juga pengamen yang menyanyikan lagu rohani keislaman, tapi mereka biasanya berpindah dari satu bus ke bus lain.

Temanku bersyukur sepanjang Ramadhan 1428 H kemarin pengamen itu tidak beraksi lagi. Ia bisa tenang menjaga pikiran dan hatinya. Lalu setelah Ramadhan? Semua berjalan seperti biasa. Normal. “Serem, Bil, serem!”

Duren Sawit, Jakarta Timur. 15 November 2007.