Spread the love

Sudah dibaca 989 kali

Berbicara tentang FLP seharusnya selalu dikaitkan dengan pembicaraan tentang seni dan da’wah,. karena FLP didirikan dengan harapan dan komitment menulis adalah berda’wah. Irfan Hidayatullah menyebutkan bahwa membaca FLP berarti membaca sebuah usaha sungguh dalam merepresentasikan sebuah identitas kultural keislaman. Identitas kultur Islam lah yang seyogyanya di bangun oleh seluruh anggota organisasi kepenulisan  ini.

Dalam sejarahnya antara seni dan da’wah memang tak dapat dipisahkan. Kita dapat melihat bagaimana para pendahulu da’wah di tanah air memanfaatkan seni dan kebudayaan sebagi senjata da’wah yang ampuh. Para Kanjeng Sunan memanfaatkan bahkan menyadur seni Hindu (Mahabarata dan Ramayana) sebagai sarana penyampaian Islam. Tidak hanya itu, karya sastra seperti hikayat, cerita panji dan babad juga digubah dalam penyampaian da’wah.  Dalam kesempatan lain, tidak sedikit para ulama yang membuat tulisan-tulisan seni bernuansa Islam.

Infiltrasi Islam melalui bidang budaya memang tidak dapat terbantahkan adanya. Jadi sesungguhnya FLP adalah usaha sadar dalam melanjutkan kiprah perjuangan para pendahulunya tersebut. Karakter da’wah yang bersifat global, yang bukan hanya dalam masa kekinian, melainkan sebagai sebuah perjuangan yang berkesinambungan, sudah seyogyanya ada sebuah “link” antara FLP dengan bangunan raksasa yang bernama ‘da’wah’ ini. FLP semestinya mampu mengidetifikasikan diri sebagai salah satu komponen dalam sistem da’wah Islamiyah.

Dalam hal ini, FLP dapat bekerjasama secara reguler dan kontinyu dengan komponen-komponen da’wah yang lain. Entah itu yang “serumpun” komponen seni-seni Islam (misalkan dalan kegiatan pentas seni dan budaya), atau yang tidak serumpun, misal dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan atau kesejahteraan rakyat.

Tentu menuju kondisi ideal ini tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak kendala yang terjadi di lapangan. Ada banyak hal yang harus dikerjakan secara serius oleh semua komponen FLP,  agar FLP menjadi sebuah organisasi yang benar-benar kompeten dalam dunia da’wah.

1. Setiap Anggota FLP harus sadar bahwa mereka bergerak dalam da’wah.

Bi’ah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan dalam interaksi setiap anggotanya. Pengurus FLP bertanggung jawab dalam perkembangan wawasan keislaman para anggotanya, sehingga gerak FLP tidak kehilangan orientasinya. Wawasan tentang dunia Islam, sejarah perkembangan seni Islam, dan pemahaman  tentang fiqh da’wah adalah sebuah keharusan.

2. FLP harus pro-aktif dan kreatif dalam mengadakan kerjasama dengan komponen da’wah yang lainnya.

Untuk melaksanakan da’wah yang bersinergi dengan gerakan da’wah kontemporer,  FLP perlu   melihat isu-isu yang beredar di dalam masyarakat serta mengetahui karakter dan marhalah yang dilakukan oleh Gerakan Islam lain. Bagi FLP ranting yang berada di kampus-kampus, kerja sama dengan Lembaga Da’wah Kampus  dapat di laksanakan.

3. FLP harus mempunyai agenda Da’wah.

Sebuah kegiatan, betapapun kecilnya, haruslah memiliki perencanaan yang matang,  apalagi gerakan da’wah yang sangat besar. Perencanaan ini menyangkut nilai, orientasi, strategi dan sistem. Sudah saatnya bagi FLP untuk membuat setting goal yang berorientasi terhadap perkembangan da’wah Islamiyah.

 

Wallahu alam bi shawab

 

* Artikel ini ditulis oleh Ahmad Lamuna (Ketua Sub Divisi Muda dan Madya), dimuat di Buletin PENA Edisi Vol. 5, No. 3, Thn 2008