Spread the love

Sudah dibaca 116 kali

Foto: lifestyle.kompas.com

Agama adalah candu. Itu potongan kata Karl Marx (1843). Filsuf Jerman. Bapak Komunisme. Dulu Marx melihat orang-orang ke gereja sebagai bentuk pelarian terhadap realita. Penindasan kapitalisme, bukannya dihadapi, malah ditinggal dan cari ketenangan dalam naungan agama. Saat buruh teralienasi di pabrik-pabrik, sebagian orang teralienasi di tempat ibadah. Makanya Marx mengkritik praktik keagamaan saat itu.

Ali Akbar Navis, dalam cerpen Robohnya Surau Kami (terbit 1956), mengkritik tokoh yang selalu berdiam (beribadah) di masjid. Sang tokoh yang yakin masuk surga karena rajin beribadah, dikritik langsung oleh Tuhan. Beribadah di masjid membuatnya lupa dunia di luar masjid. Enggan urun tangan pada persoalan yang dihadapi orang terdekat dan lingkungan masyarakatnya.

Dua potret kondisi di atas merupakan upaya sebagian umat mempertahankan diri/melarikan diri. Penindasan serupa raksasa. Makan siapa saja yang lemah. Sulit dihindari. Tak selalu bisa dihadapi. Tekanan hidup terlalu kuat. Lari dari realitas menjadi pilihan. Agama menawarkan kenyamanan.

Dalam konteks itu, agama kini menjelma menjadi gawai. Banyak jamaahnya. Bocah sampai sepuh. Saat orang memegang dan “masuk” ke dalamnya, orang banyak lupa diri. Tersirap pada realitas baru yang diciptakan oleh gawai: media sosial, game, komunitas, dll. Terkunci di dalamnya. Sulit keluar.

Ketimbang tempat ibadah yang sepi, “dunia” dalam gawai lebih interaktif. Ramai. Penuh keseruan. Gaduh. Kabar artis. Berita viral. Bebas komentar. Video. Audio. Tulisan. Pilih mana suka. Tekan saja. Cukup modal jari.

Selain hiburan, tentu ada juga tawaran lain. Edukatif. Informatif. Muncul tiap hari. Cuma modal kuota. Ceramah ustad. Tulisan pakar. Liputan wartawan. Bagi pengalaman teman, orang jauh, atau orang tak dikenal.

Baca Juga: Motor Setan

Gawai memerangkap orang, mencegah mereka keluar dari dunianya. Berjam-jam lamanya. Lupa waktu. Lupa anak. Lupa suami/istri. Lupa makan. Lupa mandi. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Mereka teralienasi. Anti sosial.

Muncul kebiasaan baru. Tangan gatal kalau tidak pegang gawai barang semenit. Saat makan. Saat ngobrol dengan pasangan atau teman. Saat di dalam lift. Saat berkendara. Saat dengar ceramah Jumatan. Saat nongkrong di toilet. Menjelang tidur. Bangun tidur.

Wajah agama kadang tidak sesuai dengan wajah yang ditampilkan penganutnya. Tidak ramah pada perbedaan. Memandang penganut lain lebih rendah. Merasa lebih suci dari saudara seagama.

Gawai juga. Di tangan sebagian pemiliknya, ia tidak dimanfaatkan sesuai kualifikasinya. RAM besar hanya untuk medsos dan main game. Atau sekadar terima telepon dan WA. Harga mahal, pemanfaatan minimal.

Bukannya kita harus meninggalkan gawai. Apalagi agama. Bijaklah dalam bergawai. Cerdaslah dalam beragama. Itu kuncinya. Paham?

Tangerang, 16 Juli 2021