Spread the love

Sudah dibaca 145 kali

Alhamdulillah saya dapat Majalah Horison Edisi Khusus 55 Tahun (1966-2021). Kabarnya, dicetak terbatas (termasuk kausnya). Sudah lama sekali saya tidak menikmati karya-karya apik di majalah ini. Sampai lupa kapan terakhir beli majalah ini. Dulu saya sempat sedih saat redaksi Horison mengumumkan tidak akan lagi menerbitkan edisi cetak dan beralih ke media internet.

Saya bukan apa-apa di dunia sastra. Penikmat saja. Oleh karena itu, pertemuan dengan para sastrawan yang tulisannya sering saya baca merupakan keberuntungan. Pertemuan yang cukup intens karena terkait dengan pekerjaan saya: meliput kegiatan mereka.

Sejak bekerja di Kemendikbud pada awal 2009 (membuat majalah, buletin, dan mengelola laman Ditjen Mandikdasmen), saya meliput berbagai kegiatan para sastrawan itu seperti Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB), workshop Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS), dan workshop bagi finalis Lomba Menulis Cerita (LMC). Ketiga acara tersebut merupakan kerja sama Kemendikbud dengan para sastrawan yang rata-rata redaktur di majalah Horison. SBSB merupakan kunjungan sastrawan ke sekolah di sejumlah kota di Indonesia. Workshop MMAS adalah pelatihan bagi para guru bahasa terpilih. Workshop LMC adalah pelatihan bagi para finalis lomba cerpen bagi siswa SD dan SMP. Dalam setahun, saya meliput ketiga kegiatan tersebut dan menuliskannya di laman dan majalah internal.

Tentu banyak sekali peristiwa yang mengharukan saat bertemu dan meliput kegiatan mereka. Kali pertama meliput SBSB yaitu di awal Agustus 2009 di Bukittinggi, Sumatera Barat (ini penerbangan ke-2 saya dengan naik pesawat). Saat itu ada Pak Taufiq Ismail, Kang Iman Soleh, dan beberapa satrawan lainnya. Peritiwa ini tak terlupakan juga karena saat saya di sana terdengar kabar kematian Mbah Surip (4 Agustus 2009). Saya kenal Mbah Surip sejak awal 2000 karena sering “konser Tak Gendong ke Mana-mana”  di acara Kenduri Cinta Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) tiap bulan Jumat ke-4 di parkiran Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Dua hari kemudian (6 Agustus 2009) penyair W.S. Rendra meninggal. Tak berapa lama berlalu saya meliput SBSB di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang salah satu sastrawannya adalah Putu Wijaya. Malam setelah acara saya datang ke Taman Budaya Kalsel untuk melihat penampilan Putu Wijaya dan seniman-budayawan lainnya memperingati kepergian Si Burung Merak.

Setahun berikutnya (2010), SBSB kembali diadakan di Bukittinggi. Sepulang acara, saya mampir ke Rumah Puisi Taufiq Ismail di Kabupaten Tanah Datar. Tempatnya sangat asri, diapit kaki Gunung Singgalang dan kaki Gunung Merapi. Saya mewawancarainya sekitar satu jam. Ia bercerita panjang lebar tentang kegelisahan pada dunia sastra tanah air terutama di dunia pendidikan. Usai bercerita, ia mengajak saya berkeliling bangunan dan menikmati indahnya bunga-bunga yang ditanam oleh istrinya, Bu Ati.

Saya juga melihat-lihat koleksi buku yang tertata rapi di rak-rak buku besar. Salah satu bukunya tentang Raja Ali Haji yang menciptakan Gurindam Dua Belas (beberapa tahun kemudian saya menyambangi makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau). Menurut Pak Taufiq, ia mengangkut 7.000 judul buku dari Jakarta ke rumah itu. Saat itu di sana juga ada anak-anak sekolah dan guru. Kata Pak Taufiq, Rumah Puisi sering dikunjungi siswa dan guru untuk membaca buku dan berdiskusi dengannya.

Mulai 2012, saya meliput Workshop LMC. Saya mewawancarai peserta siswa SD dan SMP serta guru pendamping. Satu penulis yang selalu saya ingat bernama Sherina Salsabila. Saya “menemukannya” duduk sendiri di ruang acara sementara peserta lain sudah kembali ke kamar masing-masing. Saya mewawancarainya. Cerita tentang latar belakang kepenulisannya sangat menyentuh perasaan saya. Besoknya diumumkan bahwa Sherina pemenang I kategori SD. Saya takjub. Sekelumit cerita tentang Sherina Salsabila saya tulis dalam buku Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar; Sebuah Refleksi (Kemendikbud, 2017). Sherina setelah itu terus berprestasi, menerbitkan buku, memenangkan lomba, dan kini kuliah di Turki.

Tahun 2015 merupakan tahun terakhir pelaksanaan kegiatan SBSB, MMAS, dan LMC di Ditjen Dikdasmen. Entah kenapa itu terjadi, sepertinya karena alasan terjadi pemotongan anggaran. Saya tak habis pikir pula kenapa acara sebagus itu dihapus sementara pada 2015 Kemendikbud di bawah kepemimpinan Anies Baswedan gencar menjalankan program literasi dengan menerbitkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti (regulasi ini pada 2016 menjadi dasar munculnya Gerakan Literasi Sekolah di Ditjen Dikdasmen, Gerakan Indonesia Membaca di Ditjen PAUD dan Dikmas, dan Gerakan Literasi Kebangsaan di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa). Sejak saat itu saya tak lagi meliput  kegiatan para sastrawan dan menimba langsung praktik bersastra (menulis dan apresiasi sastra).

 

Refleksi Kepenulisan

Tak ada yang kebetulan. Semua berjalan sesuai skenario Tuhan. Pada 1999, saat berkuliah di Universitas Negeri Jakarta, saya memulai “karier” di dunia kepenulisan dengan bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika. Saya belajar ilmu dan praktik jurnalisme. Pada 2002, saat diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Didaktika, saya bergabung dengan organisasi pengaderan penulis Forum Lingkar Pena. Di sini, saya belajar menulis fiksi (cerpen dan novel).

Ilmu jurnalistik yang berbasis nonfiksi bertemu dengan ilmu kepenulisan fiksi di kepala kemudian membuat saya “goncang.” Sulit sekali rasanya memadukan dua bidang kepenulisan yang “bertolakbelakang” ini.

Bersyukur hal ini tidak berlangsung lama. Pada 2003 saya menemukan buku berjudul Jurnalisme Sastra karya Septiawan Santana Kurnia (lihat vlog saya dengan beliau di tautan ini). Buku ini bercerita tentang jurnalisme sastra atau jurnalisme naratif yang mengawinkan dunia fiksi dan nonfiksi. Tahun berikutnya, 2004, saat menjabat Pemimpin Redaksi Tabloid Transformasi UNJ, saya mengikuti pelatihan Jurnalisme Sastrawi yang diadakan oleh LPM Teknokra Universitas Lampung. Narasumbernya adalah Andreas Harsono, wartawan senior yang menerbitkan majalah Pantau pada 2001 (majalah yang menerapkan jurnalisme sastrawi dalam tulisan-tulisannya, sayang beberapa tahun kemudian tutup). Berbekal keilmuan itu dan buku Jurnalisme Sastra, saya coba menerapkan gaya kepenulisan feature di tabloid Transformasi (di pers mahasiswa agak sulit menerapkan kepenulisan sastrawi karena butuh waktu lama dalam peliputan, kedisiplinan, dan jam terbang tinggi).

Pada 2005, saya kembali mengikuti pelatihan jurnalisme sastrawi yang diadakan oleh LPM Hayam Wuruk, Universitas Diponegoro, Jawa Tengah. Kali ini pembicaranya adalah Linda Christanty dan (alm.) Agus Sopyan. Keilmuan saya semakin bertambah dan mulai berkreasi dalam menulis feature dan cara pengajarannya kepada kru redaksi.

Selulus kuliah pada 11 Maret 2006, sebulan kemudian saya bekerja di Majalah Event Guide. Saya juga masih aktif FLP DKI Jakarta. Pada 2007, saya diamanahi sebagai Ketua Umum FLP DKI Jakarta hingga 2009. Seingat saya, selama 2 tahun itu (2007-2009), kegiatan pelatihan dan diskusi menulis nonstop diadakan tiap hari Ahad di pelataran Masjid Amir Hamzah, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kecuali libur Lebaran.

Pada akhir 2008, saya bergabung di sebuah rumah produksi di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Saat itu saya dan sejumlah teman belajar menulis skenario pada Nucke Rachma, penulis skenario sinetron Ta’aruf dan Muslimah yang tayang tiap hari (streaping) di dua stasiun televisi berbeda. Tapi saya hanya bertahan sekitar tiga bulan.

Sebelumnya, setelah sekitar 1,5 tahun bekerja sebagai reporter di Majalah Event Guide, pada pertengahan 2007 saya pindah kerja sebagai redaktur di majalah Spiritual Community yang didirikan oleh Ustad Abu Sangkan (Pendiri Pelatihan Shalat Khusyu). Pada awal 2008, majalah ini tutup. Mengisi waktu luang sambil mencari kerja, saya menerima tawaran Ketua PKK untuk mengajar sebagai tutor di PAUD Nusa Indah Duren Sawit Jakarta Timur (berlangsung 2,5 tahun sampai 2010).

Saya keluar dari Rumah Produksi lebih karena diajak mantan Pemred Spiriual Community untuk bekerja di Kemendikbud mengelola laman, majalah, dan buletin. Maka, pada awal 2009, saya bergabung di Kemendikbud.

Pada 2009 itu, kendati saya sudah bekerja di Kemendikbud sebagai konsultan dengan gaji lumayan besar (mungkin bonus karena kerja sosial di PAUD), saya tetap belajar menulis. Saya tiap sore sampai tengah malam (kadang sampai pagi) berkendara sepeda motor dari rumah di Duren Sawit Jakarta Timur ke rumah kontrakan mahasiswa di belakang kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di kawasan Ciputat (32 km). Saya bersama beberapa mahasiswa UIN yang juga anggota FLP Ciputat membentuk kelompok penulis skenario untuk acara televisi. Kadang menginap di Ciputat, kadang menginap di rumah kontrakan Mas Sakti Wibowo di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Mas Sakti adalah anggota FLP yang menjadi penulis skenario sampai sekarang.

Sore-malam (pagi) belajar menulis skenario, pagi-siang mengajar di PAUD, dan siang-sore bekerja di Kemendikbud, Senayan, Jakarta. Ketiga aktivitas bersamaan itu berlangsung setahun. Pada Mei 2010, setelah menikah, saya pindah ke Tangerang dan hanya bekerja di Kemendikbud, menulis untuk laman, majalah, dan buletin. Lalu bertemu para sastrawan itu.

Lepas 2015, di akhir tahun itu saya ditugaskan mengawal pembentukan Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah. Saya bertemu sejumlah akademisi (dosen bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan menulis) dari Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Yogyakarta, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Negeri Jakarta; pegiat literasi; dan LSM. Sedih “kehilangan” sastrawan, saya bertemu dengan para akademisi, pegiat, dan praktisi literasi di Satgas GLS. Saya kembali bersemangat. Banyak sekali ilmu baru saya dapat, hasil diskusi intens dengan mereka. Saya memasuki “dunia baru” yang lebih luas dari kepenulisan dan bahasa yaitu literasi. Saya juga bertemu dengan teman-teman pegiat Taman Bacaan Masyarakat yang militan, mengingatkan saya saat berkecimpung di organisasi pers kampus.

Pada 2017, atas motivasi dan perkenan pimpinan tempat kerja, saya berkuliah S-2 di Program Studi Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Jakarta. Keilmuan yang selaras dengan bidang kerja yang saya kawal. Saya merasakan keilmuan yang saya pelajari selama bergiat di pers kampus dari hasil diskusi dan membaca buku (pendidikan, sastra, sosial, ekonomi, filsafat) terpakai. Rasanya senang sekali.  

Sepanjang mengawal Satgas GLS sebagai sekretaris (2017-sekarang), saya telah menulis beberapa buku terkait literasi. Di antara sekian buku yang ditulis, yang paling berkesan adalah saat menulis buku Gerakan Literasi Sekolah, Dari Pucuk Hingga Akar; Sebuah Refleksi. Saya agak “kecanduan” dengan proses mencari data (riset). Sangat menantang dan menyenangkan. Di buku ini, kemampuan jurnalistik saya tersalurkan (melalui wawancara dengan para narasumber), kemampuan menulis feature saya tersalurkan, kemampuan mengorganisasi data tersalurkan. Saya telah membuat beberapa kerangka tulisan (outline) untuk dilanjutkan dalam penulisan buku nonfiksi yang membuat candu pada riset, namun sepertinya harus ditangguhkan dulu untuk menyelesaikan S-2. Oh ya, kuliah S-2 pada 2017 merupakan doa yang dikabulkan Allah Swt setelah terpanjat selama satu dasawarsa.

Hidup tak ada yang kebetulan. Kita harus tahu Dia ingin kita berkontribusi seperti apa selama hidup di dunia.*

Tangerang, 14 Agustus 2021