Spread the love

Sudah dibaca 852 kali

Selasa malam, 26 Mei 2009, pukul 21.22 Waktu Indonesia Tengah, sebuah pesan layanan singkat masuk ke telepon seluler saya: “Malam pak…nontn TVONE pak!” Usai membacanya saya mengulas senyum penasaran. Sepertinya ada sesuatu yang hendak disampaikan Saleh, Kepala Sekolah SD 005 Sebatik Barat, Nunukan, Kalimantan Timur.

Sederet tanya yang seketika mengisi kepala itu terus membayang, mengiringi kegiatan makan malam saya bersama dua rekan; gotong royong makan tiga ikan bakar dan cumi bakar di warung kaki lima.

Sehari sebelumnya saya dan sejumlah rekan menyambangi Pulau Sebatik. Pulau ini berada di sisi utara Pulau Kalimantan. Tergolong dalam kawasan pulau terluar negeri ini. Uniknya, daratan pulau ini terbagi kepemilikan; Indonesia dan Malaysia. Dan, segala permasalahan yang melingkupi pulau ini beserta penduduknya berawal dari kondisi geografis ini.

Letak SD 005 Sebatik Barat 100 meter dari perbatasan RI-Malaysia (Sabah). Dua puluh enam siswanya anak Tenaga Kerja Indonesia di Sabah (TKI Sabah). Setidaknya itu yang dicatatkan Saleh sebagai calon penerima beasiswa yang diberikan Departemen Pendidikan Nasional. Sebenarnya ada 60 siswa, namun kebanyakan anak TKI ilegal. Jadi Saleh tidak mengkategorikannya sebagai siswa yang berhak menerima beasiswa.

Yang dimaksud TKI ilegal yaitu mereka yang menyeberang perbatasan RI-Malaysia tanpa menggunakan paspor atau kartu identitas resmi. Itu disebabkan pembuatannya yang sulit dan mahal. Sementara kebanyakan penduduk yang dianggap ilegal tersebut melakukan aktivitas perdagangan biasa, seperti menjual hasil bumi dan membeli kebutuhan sehari-hari. Sekitar 70% orangtua siswa SD 005 tergolong TKI macam ini.

Ayah Muhammad Faizal Effendi bekerja di Batu 24, Malaysia. Di perkebunan kelapa sawit. Siswa kelas 5 SD 005 ini tinggal bersama ibunya. Kendati hanya seminggu sekali bertemu ayahnya, Endi, panggilan akrabnya, tidak terlalu bersedih. Ia yakin ayahnya bekerja semata untuk membiayai kebutuhan keluarga dan sekolahnya. Bila sudah besar, ia ingin menjadi tentara.

Rekan Endi, Nurul Asikin, juga bernasib sama; bertemu ayah seminggu sekali. Begitulah. Waktu kerja para TKI rata-rata sama; tiga minggu bekerja, seminggu istirahat. Waktu istirahat biasanya mereka isi dengan berkumpul dengan keluarga. Dan waktu inilah yang ditunggu-tunggu Nurul untuk melepas kangen pada ayahnya yang bekerja di Tawau. Ia bercita-cita jadi dokter namun belum tahu dokter apa.

Walau berada dalam satu sekolah dan kantin yang sama, mata uang jajan mereka berbeda. Uang jajan Endi Rp 2.000 sehari. Sedangkan Nurul 50 sen Malaysia. Di pulau ini, alat transaksi menggunakan dua mata uang: rupiah dan ringgit.

* * *

Saya berharap perbincangan dengan dua rekan ihwal bagaimana mencari daun muda sebagai jodoh diakhiri dan kembali ke hotel—dua rekan saya ini memang beristri yang usianya terpaut jauh dari mereka.

Untunglah acara makan malam plus obrolan kisah asmara berakhir. Kami keluar warung dan menyeberang jalan, menuju kamar di lantai 6 Swiss-Belhotel yang nyaman. Di kamar, saya segera meraih remote control, mencari saluran televisi yang dimaksud Saleh. TV ONE sedang menyiarkan acara dialog. Saya bertanya-tanya, apa yang hendak dikabarkan Saleh.

Saya kemudian mengirim pesan layanan singkat, bertanya pada Saleh ihwal maksudnya meminta saya segera melihat TV ONE. Lalu ia menjawab, “Iya, Pak, tadi siang kles lagi antara KKI dan Marin Malaysia di Ambalat nggak jauh dari belakang rumah di SD tempat acara kemarin. Bapak sudah di Jakartakah?”

Berita tentang masuknya kapal perang Malaysia ke wilayah Indonesia sudah saya dengar siang dari televisi. Senin subuh menjelang fajar, 25 Mei 2009, kapal perang Malaysia jenis Fast Attack Craft Gun KD Yu-3508 memasuki perairan Nunukan, Kalimantan Timur. Namun aksi kapal berbobot 244 ton buatan tahun 1976  itu diketahui kapal patroli Indonesia. Kemudian Kapal Perang TNI Angkatan Laut dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur Untung Surapati-872 mengusirnya. Sejak saat itu, hingga naskah ini ditulis, manuver kapal perang Malaysia terus berjalan dan menjadi isu penting seiring masa pemilihan presiden. Tampaknya Malaysia ingin kembali mengangkat sengketa Pulau Ambalat dengan RI.

Saat menyimak televisi, saya dan beberapa rekan agak terkejut. Berarti, saat kami berada di Pulau Sebatik, peristiwa tersebut belum lama terjadi. Kami tiba pukul 12.15 WITA di SDN 001 Desa Sungai Nyamuk, Sebatik. Di ruang kelas V A, Tim Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas melakukan asistensi dan penjelasan pemberian beasiswa bagi anak-anak TKI Sabah kepada sejumlah Kepala Sekolah SD hingga SMA di pulau itu. Saya bertemu Saleh dan dua muridnya, Endi dan Nurul, di sana.

Duren Sawit, Jakarta Timur. 10 Juni 2009.