Spread the love

Sudah dibaca 893 kali

Usai berselancar di dunia maya di warung internet dekat perempatan Jalan Radin Inten, tadi sore, aku keluar untuk pulang. Sepeda motor kuhidupkan. Aku tidak hendak beranjak ketika pandangku tertuju pada sekumpulan anak yang bermain di trotoar. Seorang anak berdiri menyender pada tiang listrik yang tertancap di badan trotoar. Teman di dekatnya membungkuk, memasukkan kepala ke bawah selangkangannya dari arah depan.

 

Sementara selangkangan anak yang memasukkan kepala dari arah depan mengapit kepala teman sekelompoknya yang memasukkan kepala dari bawah pantatnya. Berturut-turut ke belakang.

 

Agak lama mereka membentuk formasi, karena beberapa di antara mereka merasa tidak nyaman dengan posisi tersebut; kepala di bawah selangkangan. Buat yang memasukkan kepalanya, ada kekhawatiran akan dikentuti temannya. Sebaliknya, yang membiarkan selangkangannya dimasuki kepala, merasa tidak nyaman karena harus mengapit kepala yang bergerak-gerak. Dari jauh aku dapat membaca gerak bibir mereka saat mengucapkan hujat dan cacian. Satu-dua mengambil posisi berkelahi, tapi tidak diteruskan.

 

Formasi terbentuk dengan posisi rapuh. Anak berbadan tinggi dan besar membungkuk dekat penjaga yang berdiri. Yang paling kecil membungkuk paling belakang.

 

Satu…dua…tiga!

 

Dengan cepat, satu per satu sekelompok anak lain berlari dan melompat ke tubuh-tubuh membungkuk itu.

 

Bruk!

 

Tiap satu tubuh mendarat di punggung, formasi bergerak-gerak. Menahan hunjaman dan berat badan lawan. Seorang anak melompat dan mendarat pada tubuh anak terakhir. Temannya tak membiarkan situasi membaik. Ia langsung menerjang dan hinggap di tubuh temannya.

 

Bruk!

 

Ini benar-benar sulit. Lompatan terakhir ini membuat formasi membungkuk goyah dan akhirnya ambruk. Semua tertawa. Aku di atas motor, satpam dan tukang ojek di depan warnet, ikut tertawa.

 

Aturan permainan ini sederhana. Permainan dibagi dua kelompok. Kelompok pertama, yang kalah undi—biasanya lewat suit—membentuk formasi seperti tadi. Anak yang berdiri sebagai penjaga atau kepala. Anggota kelompok kedua duduk di punggung anggota kelompok pertama. Orang pertama dan terdepan melompat berfungsi sebagai ketua kelompok. Ketua masing-masing kelompok bisa bergantian sesuai kesepakatan.

 

Kelompok pertama tidak boleh ambruk. Kalau ambruk harus membentuk formasi baru. Kelompok kedua, saat duduk di punggung kelompok pertama, tidak boleh menjejak tanah/lantai. Bila ada yang ketahuan kakinya menjejak lantai, kelompok ini berganti posisi dengan kelompok pertama. Setelah posisi stabil, kedua kelompok tidak ada yang melanggar ketentuan, masing-masing ketua kelompok beradu suit. Bila kelompok pertama menang, maka posisi berganti. Tapi bila sebaliknya, posisi berulang. Begitu seterusnya.

 

Saat melihat mereka bermain, ingatanku terlempar pada masa sekitar 15 tahun silam, kala aku duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar. Kami menyebut permainan ini Kuda Gedubrak. Entah apa artinya, aku tidak pernah menanyakannya. Aku masih ingat, aku sering memainkan permainan ini di sekolah dan di rumah bersama teman-teman. Ini permainan menantang dan keras, maka harus siap-siap menanggung risiko. Tidak seterusnya menjadi kelompok yang duduk di atas punggung lawan. Bisa jadi terus merana dihantam tubuh-tubuh berat dan kekar lalu luka terinjak-injak. Ini permainan anak lelaki. Aku tidak pernah melihat anak perempuan memainkannya. Juga campuran.

 

Percayalah, saat anak-anak memainkan permainan ini, setidaknya berkaca pada usia aku dulu, tidak ada pikiran kotor dalam membentuk formasi seperti itu. Bahkan untuk memikirkan sebuah kejorokan; memasukkan kepala diapit selangkangan lewat bawah pantat. Paling-paling hanya khawatir dikentuti—salah satu posisi rawan kentut adalah tubuh tegang dan tiba-tiba sebuah hentakan hebat membebat.

 

Sungguh, aku tidak bermaksud menceritakan sebuah permainan porno atau berbau porno. Tapi itulah realitanya. Aku tidak tahu dari daerah mana permainan ini berasal. Yang pasti, dari rentang sekian tahun kulalui, aku baru kembali melihat itu permainan sore tadi.

 

 

Permainan masa kanak-kanak

Kuda Gedubrak salah satu permainan saat aku kanak-kanak. Ya Tuhan, bahagianya aku. Tiap hari aku bermain, mengikuti musim yang selalu berganti. Sejumlah permainan yang pernah kumainkan bisa kusebutkan di sini; senjata rahasia ninja, anggar, kelereng, layang-layang, galasin, benteng, gambaran, gentrong, kiyu-kiyu, karet, congklak, bekel, bengkat, mencari jejak, petasan, pletokan, panahan, gangsing, adu biji karet, perang-perangan.

 

Semua menyenangkan. Sebab kala kukecil masih banyak kebun yang bisa dirambah dan menjadi tempat bersembunyi. Banyak pohon tinggi yang bisa dipanjat. Banyak tanah lapang yang bisa dijadikan tempat bermain.

 

Kalau musim hujan tiba, aku senang bermain di sawah. Tidak memancing, karena aku tidak bisa memancing dan cukup sabar mendapatkan ikan. Aku ikut rombongan teman-teman yang menangkap ikan menggunakan racun bernama cengkaling—berbentuk seperti kamper; padat, kecil, putih, dan mudah larut. Kalau tidak ada cengkaling, cukup membuat bendungan lalu menguras air dalam bendungan sehingga ikan mudah ditangkap. Selokan-selokan yang mengitari Kompleks IKIP juga jadi medan perburuan favoritku. Aku sangat senang bila mendapatkan ikan gabus besar, betik atau betok berukuran sedang, dan menyabarkan diri bila dapat ikan sepat kecil. Ikan julung-julung, jepi, atau cere tidak masuk dalam daftar buruanku. Ikan lele, aku jarang mendapatkannya.

 

Aku masih ingat, walau sering ke sawah ataupun rawa sehingga kulit sering busik (bila digaruk akan membekas goresan putih), baru sekali aku digigit lintah. Itu terjadi saat aku memancing di rawa yang kini berubah menjadi kompleks perumahan di kawasan Pondok Kelapa, tepatnya di depan kampus Universitas Darma Persada, Jakarta Timur. Aku baru menyadari digigit lintah setelah beberapa ratus meter meninggalkan rawa. Panik aku saat itu. Untunglah lintah itu tidak sulit dilepas dari kakiku—barangkali sudah kenyang menyedot darahku.

 

Waktu kecil aku juga suka bersinggungan dengan besi-besi tua. Dulu, sebelum Jalan  Radin Inten dibangun, daerah itu merupakan areal persawahan, rawa, dan jalanan becek berlumpur. Sejumlah bangunan tradisional seperti pabrik kerupuk (ya Tuhan aku masih mengingatnya!) dan rumah-rumah tua digusur. Beragam perkakas yang terbuat dari besi, aluminium, tembaga, dan lain-lain, teronggok di mana-mana. Banyak sekali yang tertimbun dalam tanah.

 

Besi-besi itu dikumpulkan, lalu ditukar dengan ayam negeri, burung puyuh, berondong, atau piring/gelas di tukang pulung/pengumpul yang sering berkeliling kampung. Terkadang barang ditukar uang, walau aku dan teman-teman jarang melakukannya.

 

 

Sekarang

Namun permainan, tempat, dan suasana mengasyikkan itu berubah drastis. Semenjak di kampungku Cilungup dibangun kantor Camat Duren Sawit, pendirian rumah dan perbaikan fasilitas jalan raya berkembang pesat. Kebun-kebun dan tanah lapang disulap menjadi rumah megah. Tanah, ya tanah, menjadi sulit dicari untuk dijejak. Aspal dan coran semen menggantikannya. Para tuan tanah yang kebanyakan warga Betawi menjualnya ke kaum pendatang.

 

Situasi ini tentu saja membatasi akses anak-anak untuk bermain. Kasihan sekali mereka. Tidak punya tanah lapang sebagai tempat bermain dan bercengkrama. Televisi tak cukup baik menggantikan suasana. Semua sudah berganti.

 

Melihat ini aku menjadi sedih, walau tidak bisa berbuat apa-apa. Perkembangan jiwa anak, yang turut diperkaya oleh berbagai permainan yang melibatkan rasa, emosi, dan pikiran, terganggu. Tidak ada lagi suasana kebersamaan, kerja dalam tim dan saling membahu mencapai tujuan bersama dalam sebuah permainan yang sportif. Mereka kini menjadi jiwa-jiwa individualis karena tidak pernah terikat oleh sejumlah permainan anak-anak.

 

Yang tersaji kini adalah orang-orang dengan jiwa dan perilaku kaum metropolis yang individualis, sok modern, gagap teknologi, dan ironisnya tidak berpikiran maju; kreatif, efisien, berani mengambil keputusan. Apa yang bisa diharapkan dari orang-orang macam begini?

 

Tidak, tidak, aku tidak sedang membicarakan anak-anak di lingkungan sekitarku. Aku bicara tentang situasi kehidupan yang lebih luas. Sebab, sampai hari ini, salah satu permainan sedang menjadi musim di sekitar tempat tinggalku, yaitu layang-layang. Yang bermain adalah teman-teman sebayaku, juga pemuda berkeluarga. Walau harus berdiri di atap rumah tetangga, atau jalan raya.

 

 

Duren Sawit, 17 Mei 2007.