Spread the love

Sudah dibaca 958 kali

Seandainya jalan dari rumah ke masjid ada dua, tiga, atau empat jalur, dari jarak terdekat hingga terjauh, maka saya pastikan akan menggunakan semua jalur itu. Sayangnya, saya hanya punya satu jalur untuk mencapai masjid. Sebab rumah saya berada di gang buntu.

Saya kadang merasa jadi orang aneh jika tiap maghrib dan isya pergi ke masjid. Setidaknya ada dua tempat yang saya lewati kalau pergi ke masjid, di mana tempat tersebut biasa jadi tempat tongkrongan beberapa orang; di belakang rumah seorang tetangga dan pinggir jalan.

Tiap lewat, dan ada yang ‘sudi’ melihat atau menyapa saya, saya akan berkata, “Yuk, ke masjid!” atau, “Yuk, shalat!” sembari menunjuk arah masjid yang menggemakan azan. Mereka akan menjawab, “Iya, iya…” atau “Entar…” tanpa beranjak dari posisinya. Tak pernah saya menemukan orang-orang yang berkata demikian kemudian shalat berjamaah di masjid.

Pada taraf itu saya masih bisa berharap suatu saat hati mereka terketuk untuk shalat berjamaah di masjid. Tetapi, ini yang membuat saya heran, beberapa orang yang melihat saya bersarung dan berpeci dari kejauhan saat ke masjid, berbalik badan atau menjauh, atau masuk rumah. Hati kecil ini bertanya-tanya, jangan-jangan mereka bosan mendengar ajakan saya.

Saya menampilkan diri sebagai orang biasa. Ke masjid, saya lebih sering memakai kaus. Tidak pakai baju koko atau kemeja. Pikir saya, ini untuk mengesankan bahwa untuk shalat ke masjid pun tak usah repot-repot berdandan atau pakai pakaian bagus. Asal rapi dan menutup aurat, itu sudah cukup. Mereka yang lebih memilih nongkrong ketimbang shalat di masjid, asal bercelana panjang, bisa langsung ke masjid tanpa pulang dulu ke rumah untuk pakai sarung. Biarlah yang berpakaian rapi—berbaju koko dan bersarung—Pak RT yang juga tetangga saya—saya jadi mengingat-ingat, dari jalanan gang itu, hanya kami berdua yang sering ke masjid.

Sepanjang perjalanan ke masjid—jarak rumah ke masjid sekitar 40 meter—saya juga melewati warung dan beberapa rumah di depan masjid. Ada juga kios pulsa telepon seluler tepat di seberang masjid. Tukang nasi goreng malah mangkal di samping masjid. Bisa dibayangkan, ketika sejumlah orang sibuk berwudhu kemudian shalat—teras masjid dan tempat berwudhu tampak jelas dari jalanan—orang-orang di sekitar masjid bergeming dari aktivitasnya; duduk-duduk, jualan, ketawa-ketiwi. Mereka kemudian shalat, saya tidak tahu. Yang pasti, usai shalat isya, pintu masjid ditutup.

Lama saya merenung, berusaha memahami bagaimana mereka memandang keberadaan masjid. Apakah masjid dipandang sebagai tempat orang-orang suci, dan mereka yang merasa banyak berbuat dosa sungkan ke masjid? Atau masjid dipandang sebagai diskotek yang tak pantas disambangi?

Saya lupa siapa yang pernah saya dengar mengatakan hal ini, “Kalau kamu ingin tahu kondisi masyarakat di suatu tempat, lihatlah bagaimana mereka mengatur shaf shalat.”

Pada shalat maghrib yang kadang berisi dua shaf makmum dan shalat  isya yang bahkan satu shaf pun tak terpenuhi, shaf makmum tak rapat-rapat amat. Ujung telapak kaki antarmakmum tak bersentuhan. Malah, sering, saat saya merapatkan ujung telapak kaki saya ke telapak kaki mereka, mereka menggeser kaki. Tak mau bersentuhan. Parahnya, pada beberapa kesempatan, saya melihat Pak RT yang bergelar haji tadi shalat menyendiri. Berdiri di bawah kipas angin dan berjauhan dengan shaf makmum yang lain.

Kondisi demikian akan tampak pula saat shalat tarawih. Sejumlah Pak Haji punya tempat favorit shalat: di bawah kipas angin. Mereka akan menyilakan orang lain mengisi shaf yang tidak kena kipas angin.

Pernah, seorang tetangga—usianya masih di bawah saya—saya tegur usai shalat. Waktu itu dia berdiri di samping saya. Saya tahu betul bagaimana tiap gerakannya mendahului imam. “Makmum tidak boleh mendahului gerakan imam,” bisik saya ke telinganya, ramah. Beberapa saat kemudian dia membalas, “Sok tahu!” lalu beranjak pergi. Di hari-hari kemudian saya merasa dia memusuhi saya. Tiap saya sapa dia memalingkan muka. Saat Lebaran pun seolah dia tak ingin mengenal saya.

Rumah orang ini di seberang masjid. Dia punya kakak dan bapak—saya biasa memanggilnya ‘Abeh’ dalam bahasa Betawi yang artinya ‘Bapak’—yang juga sering ke masjid. Kakaknya, sama seperti dirinya, sering mendahului gerakan imam. Ia pun mencipta jarak yang mencolok dengan makmum lain saat berdiri shalat. Bapaknya biasa jadi imam pengganti jika imam masjid tidak shalat di masjid—biasanya shalat isya.

Saya pun merasa punya ‘masalah’ dengan bapaknya. Saya hafal betul tiga surat yang sering ia baca kala jadi imam: Adh-Dhuha, Al-Ma’uun, dan Al-Fiil. Masalahnya, bacaan panjang-pendeknya saat membaca surat favoritnya Adh-Dhuha banyak yang salah!

Memang ia sudah tua. Suaranyapun kecil dan sering tertelan raungan kendaraan yang melintas di depan masjid. Saat memanjatkan doa, sejumlah jamaah lebih memilih berdoa sendiri atau bangkit untuk shalat sunat ba’ da isya atau langsung pulang. Barangkali mereka ragu dengan bacaan doa orang itu.

Selalu terbetik keinginan untuk mengoreksi bacaannya. Tapi kekhawatiran selalu berhasil menguasai saya. Jarang sekali orangtua mau mendengar nasihat dari anak muda, terlebih soal agama. Anaknya saja, yang jauh lebih muda dari saya, hanya dinasihati agar tidak mendahului gerakan imam mengatakan saya sok tahu lalu seolah memusuhi saya.

Soal shalat, saya juga punya ‘masalah’ dengan seorang kyai. Ia berasal dari kampung sebelah, ‘guru’ bagi sejumlah jamaah masjid. Usai mengisi pengajian bapak-bapak ba’da maghrib, ia memimpin shalat isya.

Gerakan shalatnya begitu cepat. Seperti ayam mematuk makanan. Saya sering ketinggalan bacaan dan gerakan. Dia seperti tidak peduli dengan makmum yang ingin khusyuk dengan bacaan shalat.

Sampailah saya pada pemikiran bahwa saya tidak akan ke masjid dan menjadi makmum jika kyai itu jadi imam. Tapi pemikiran itu tak pernah saya tunaikan. Masa bodoh dengan jurus ayamnya, yang penting saya bisa khusyuk shalat.

 

SAYA pernah berandai-andai: andai shalat adalah tahlilan. Sebab bisa dipastikan jumlah jamaah tahlilan lebih banyak ketimbang jamaah shalat. Di kampung saya, undangan tahlilan atau selamatan cukup disampaikan dari mulut ke mulut. Dan yang datang pastilah banyak, dari beberapa RT. Saya pun, pernah dalam suatu tahlilan, bertemu dengan beberapa tetangga yang jarang ke masjid.

Coba bandingkan dengan panggilan azan lewat pengeras suara. Hanya orang tuli dan tidur pulas yang tak dapat mendengar suara azan. Apa sebaiknya azan diganti saja dengan ajakan shalat berjamaah di masjid yang disampaikan lewat mulut ke mulut? Ah, ini juga tidak benar.

Barangkali lantaran dalam tahlilan atau selamatan disediakan makanan, rokok, dan besek/berkat (bungkusan makanan). Selain besek, mereka pun bisa bawa pulang rokok dan makanan kecil yang tersisa di piring.

Saya sering bertanya-tanya, kalau begitu di mana peran para haji di kampung ini? Mereka seperti tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka seperti merasa cukup jika masjid sudah diisi oleh beberapa jamaah. Setidaknya mereka pergi ke masjid tidak sendiri, melainkan bersama anak-anak mereka.

SAYA punya rahasia kecil yang sebenarnya sungkan saya ungkapkan. Apalagi jika tulisan ini terbaca oleh warga kampung saya. Tapi biarlah saya mengambil risiko itu.

Dua belas tahun lalu saya mengirimkan surat kaleng kepada seorang pengurus masjid. Dua kali saya kirim, tentu dengan alamat fiktif, yang berisi keluhan supaya imam memeriksa shaf shalat jamaahnya sebelum memulai shalat. Harapan lain yaitu supaya remaja masjid yang sudah lama terbentuk namun kemudian tenggelam diaktifkan kembali.

Pada sebuah shalat Jumat, pengurus itu membacakan surat kaleng saya ke hadapan jamaah sebelum shalat Jumat dimulai. Di shaf belakang hati saya tersenyum-senyum.

Entah karena pengaruh surat kaleng itu atau usaha beberapa teman—saya yakin opsi kedua yang berperan besar—organisasi remaja masjid diaktifkan kembali. Jamaah masjid, pengurus remaja masjid yang lalu, beserta pemuda-pemudi kampung, berkumpul. Dilakukan pemilihan pengurus baru remaja masjid.

Kepengurusan terbentuk. Saya diamanahkan sebagai staf saja. Anehnya, saat akan rapat atau acara pengajian yang mengundang pembicara digelar, Sang Ketua harus menyambangi rumah sejumlah pengurus agar mereka datang ke masjid. Padahal undangan tertulis telah disebar.

Saya pernah berkoar-koar dengan pengeras suara, mengundang pemuda-pemudi agar datang ke masjid untuk mengikuti pengajian. Hasilnya nihil. Tak ada penambahan jamaah kecuali segelintir pengurus. ‘Untungnya’, penceramah pun batal datang.

Saya dan teman-teman lalu berkesimpulan bahwa remaja di sekitar masjid tak punya ketertarikan dengan masjid atau pengajian. Mereka lebih suka nongkrong di jalan atau menatap layar televisi. Perlahan kepengurusan mengendur. Saya pun kemudian menyibukkan diri di organisasi kampus dan jarang pulang—pulang hanya sebentar.

Lebih dari sepuluh tahun kemudian, kondisi ini tidak berubah.

Masjid jadi tempat asing. Penuh hanya ketika shalat Jumat dan pembagian hewan kurban—pembagian di teras masjid. Barangkali, sekalipun masjid itu terbakar, yang sedih hanya segelintir jamaah yang rajin datang. Selebihnya, meminjam istilah yang tren beberapa tahun lalu, “Emang gue pikirin!”

Tapi saya tak mau ambil pusing. Tetap saja shalat di masjid. Tak peduli dengan perasaan asing yang kian lama menderu-deru. Bukankah nanti, pada suatu massa, agama fitrah ini dipandang aneh oleh umatnya sendiri?

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 26 Januari 2010. 07.43 WIB