Spread the love

Sudah dibaca 84 kali

Sumber: josephmuciraexclusives.com

Ini entah ungkapan siapa, sepertinya Mario ‘Salam Super’ Teguh: “Perubahan diawali dengan keberanian untuk mengakui kegagalan.”

Tidak semua orang berani mengakui kegagalan sebab rata-rata orang ingin dipandang hebat atau berhasil oleh orang lain. Justru perasaan seperti itu yang membuat pikirannya buta sehingga ia rabun dan tidak melihat semakin terperosok ke jurang kegagalan. Orang yang mengakui kegagalan sadar bahwa ia harus jeda sejenak, tarik napas, lalu berpikir keras untuk berubah. Sebelum memulai

Setelah tahu dan sadar bahwa kita harus berubah kalau ingin hidup berkecukupan, selanjutnya apa? Sebaiknya: jangan gila!

Kita pakai definisi pencipta bom nuklir Albert Einstein saja ya: Kegilaan adalah melakukan hal yang sama terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda.

Kira-kira, dengan definisi itu, apa kita masih waras atau sedang gila? Ini soal keberanian mengakui. Salah satu penyakit kronis warga dunia abad ini adalah senang berbohong pada diri sendiri dan orang lain serta berpura-pura hebat. Hal ini diungkap oleh insinyur Google Seth Stephens-Davidowitz dalam bukunya Everybody Lies.

Davidowitz mengungkap berbagai survei massal menunjukkan bahwa banyak orang memilih berbohong agar citranya bagus di mata orang lain. Ia membandingkan hasil survei dengan big data Google yang bisa melacak “keaslian” orang (kelompok).

Baca juga: Kesadaran yang Datang Belakangan

Nah, balik lagi ke pertanyaan soal waras dan gila, posisi kita ada di mana?

Sering kita ingin sukses (karier, penghasilan, kepopuleran) tetapi tidak tahu harus melakukan apa. Kalaupun tahu, setelah baca buku, nonton video Youtube, baca pengalaman orang di media sosial, atau dengar cerita dari teman, tentang kisah sukses seseorang yg ditempuh dengan mati-matian, kita takut melangkah. Cari aman. Takut gagal. Akhirnya, kita melakukan itu-itu saja dan menyiapkan seribu argumen untuk mendukungnya.

Kita menjadi reaktif jika ada orang mengkritik kebiasaan kita. Kita sudah siap menyerang dan menghabisinya sekali mereka bersuara. Artinya, dalam kondisi itu, kita lebih senang status quo alias tidak ingin berubah. Problemnya, hati kita terus menjerit: “Wahai Dewi Fortuna, ajaklah aku pergi bersamamu, ke mana kek asal nggak miskin terooos.” Nah, sesuai formula Einstein, ini namanya GILA.

Seperti kata Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, ketakutan untuk berubah menjadi penghalang terbesar seseorang dalam mencapai keberhasilan. Ingin kaya tapi enggan membaca buku, atau cari informasi tentang jalan menjadi kaya. Terus tenggelam dalam rutinitas kerja dan kegiatan lain yang sebagian besar tidak produktif: nongkrong, ngerumpi, main game, main medsos, dll. Sesudah sadar duitnya hampir habis, mulai berpikir untuk tambah penghasilan dengan cara instan.

Setelah sadar dan cari tahu informasi tentang bagaimana menjadi kaya, akhirnya saya tahu salah satu cara agar kaya tanpa kerja keras: punya passive income. Duit mengalir ke kantong kita tanpa perlu kerja keras. Bentuk passive income macam-macam: investasi, punya saham, dll. Intinya, uang kita diputar untuk usaha tapi orang lain yang melakukannya. Kita tinggal ongkang-ongkang kaki saja. Rasanya terdengar enak.

Kenyataannya, ini cerita dari Kiyosaki dan orang di laman internet serta video Youtube, untuk membangun passive income, butuh kerja keras ekstra. Prosesnya juga tak mudah. Bahkan butuh waktu lama. Tapi, kalau mau jadi orang kaya, ya harus dijalani. Kalau tidak mau kerja keras di saat pensiun, ya harus punya passive income. Kalau tidak mau kerja keras di masa muda, ya siap-siap saja kerja kerasnya dipindah ke masa tua.

Sejumlah orang memberi nasihat untuk memulainya: dari hobi atau passion. Biasanya sesuatu yg disukai akan cepat bertumbuh tanpa terasa kerja kerasnya.

Baca juga: Bagaimana Agar Nasib Kita Tidak Menimpa Anak Kita

Passion saya menulis, lalu jenis passive income apa saja dari passion ini? Nah, ini asal mula kebingungan terjadi. Seperti judul buku “Malu Bertanya Sesat di Ranjang”, bertanyalah saya pada orang-orang melalui media sosialnya Mark Zuckerberg. Seorang penulis terpancing menjawab: royalti buku. Penulis cerita anak yang produktif menerbitkan buku itu tentu saja berkata begitu.

Apalagi? Saya meramban internet. Usaha jasa pembuatan buku, laman/blog yang mendatangkan iklan, hm… apalagi? Saya sih yakin masih banyak pekerjaan yang bisa didaftar dari kegiatan menulis sebagai bisnis, apalagi kalau saya melompat ke bisnis lain selain menulis, jadi Youtuber misalnya.

Saya masih harus cari banyak informasi: baca buku, nonton video di Youtube, baca pengalaman orang di internet, baca saran orang di media sosial, ikut kursus keuangan, dll. Ilmu saya masih sangat sedikit soal pendidikan keuangan, atau literasi finansial. Saya harus investasi pada pendidikan keuangan saya sendiri.

Sampai di sini, kamu mungkin melihat saya, berdasarkan formula Einstein, sedang pergi meninggalkan kegilaan. Hello, saya tidak mau jadi gila selamanya! Setidaknya saya tidak mau seperti kamu, iya kamu, yang tidak mau berubah. Kalau sama-sama tidak mau jadi gila, yuk kita melangkah bersama!

Kunciran, Tangerang, 24 Juli 2021