Spread the love

Sudah dibaca 1334 kali

Ahmad Tohari
Ahmad Tohari

SABTU pagi 12 Juli sepotong pesan layanan singkat mampir ke telepon selulerku. Isinya begini: “Ass  wr wb. Ini penting. Saya naik KA Purwajaya sampai Gambir nanti malam jam 01.30 – 02.00. Saya niat istrht di PSJ saja. Apa panitia bisa jemput? Segera balas. AT”. Kemudian pikiranku melayang ke lembaran ingatan beberapa tahun silam usai membaca buku trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. “Ingin sekali aku bertemu penulis hebat ini,” gumamku waktu itu.

Ternyata mimpi itu menjadi kenyataan. Ahmad Tohari, pengarang Ronggeng Dukuh Paruk, minta aku menjemputnya kemarin. AT adalah inisial namanya. Aku segera berkoordinasi dengan panitia lain untuk mengetahui siapa yang bisa menemaniku menjemputnya di stasiun Gambir dini hari. Tak mungkin menjemputnya dengan sepeda motor. Bisa masuk angin, dia. Harus dijemput dengan mobil.

Ahmad Tohari salah satu pembicara Seminar Sastra yang diselenggarakan Forum Lingkar Pena, organisasi pengkaderan penulis terbesar di Indonesia. Seminar bertema “Sastra Hijau; Sastra, Lingkungan, dan Kearifan Lokal” merupakan acara terakhir dari rangkaian acara Silaturahim Nasional Forum Lingkar Pena yang digelar di PPPPTK Bahasa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, pada 11-13 Juli 2008. Acara lainnya yaitu Talkshow bertema “Kreatif dan Kaya tanpa Merusak Lingkungan” dengan pembicara sutradara Aris Nugraha (ANP Production) dan Putut Widjanarko (Wakil Direktur Penerbit Mizan) dan moderator cerpenis Boim Lebon. Acara ini digelar Jumat pagi 11 Juli.

Seminar Optimalisasi Perpustakaan Sekolah dan Taman Baca untuk Lingkungan Sekitar digelar pukul 13.30. Pembicaranya Wien Muldian (aktivis perbukuan dari Forum Indonesia Membaca) dan Yessy Gusman (artis yang bergiat mendirikan rumah baca). Moderatornya Lusiana M. Hevita (Kepala Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia).

Di waktu yang sama namun di lain tempat, digelar pula pelatihan menulis fiksi. Pembicaranya Sofie Dewayani (Kandidat Doktor Bidang Literasi di University of Illinois at Urbana, Chichago, Amerika Serikat) dan Afifah Afra (CEO Penerbit Afra Publishing). Nanik Susanti (penulis dan editor Penerbit Balai Pustaka) bertindak sebagai moderator.

Acara lain yang digelar bersamaan dengan dua acara di atas adalah lokakarya novel. Lokakarya novel merupakan kegiatan bedah novel yang dilakukan oleh Majelis Penulis FLP terhadap novel terpilih yang masuk seleksi. Hanya empat novel yang terpilih dari 15 novel yang masuk ke laci panitia. Jumat siang itu pembedahnya Ahmadun Y. Herfanda (Redaktur Sastra Harian Republika).

Sorenya digelar diskusi internal FLP. Pesertanya dari seluruh cabang FLP di Indonesia, termasuk perwakilan dari luar negeri seperti Hong Kong, Malaysia, dan Jepang. Diskusi untuk mengumpulkan bahan rekomendasi yang akan dibahas dalam Musyawarah Nasional di Jawa Tengah pada 2009 mendatang.

Besoknya, 12 Juli, Silaturahim Nasional dilanjutkan. Sabtu pagi itu empat acara digelar berbarengan di tempat berbeda. Pertama, Pelatihan Menulis Kreatif Non-Fiksi. Pembicaranya yaitu Hernowo (penulis buku-buku best seller, anggota Dewan Komisaris Mizan dan pengelola Mizan Learning Center), Pipiet Senja (penulis senior), dan Sakti Wibowo (penulis skenario). Arulkhan (pendiri lembaga pelatihan penulisan menulisyuk.com) moderatornya. Kedua, bedah film Ayat-Ayat Cinta. Hadir sebagai pembicara Habiburrahman el-Shirozy (penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta), M. Zamzam Fauzan (ahli budaya visual lulusan Manchester University). Moderatornya Zaenal Radar Tantular (penulis skenario).

Ketiga, Workshop Menulis Puisi. Pembicaranya Jamal D. Rahman (penyair dan Redaktur Majalah Sastra Horison) dengan moderator Epri Tsakib (Ketua Komunitas Puisi FLP). Keempat, Lokakarya Novel dengan pembedah Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP).

Usai istirahat, acara kembali digelar. Dua acara diselenggarakan secara paralel, yaitu Pelatihan Menulis Skenario dengan dua pembicara penulis skenario (Fahri Asiza dan Naijan Lengkong) dan moderator Melvy Yendra (penulis skenario) dan Lokakarya Novel dengan pembedah Joni Ariadinata (cerpenis). Diskusi Internal FLP acara berikutnya, melanjutkan acara yang digelar sehari sebelumnya.

Seminar Sastra digelar Ahad pagi 13 Juli. Selain Ahmad Tohari, pembicara lainnya yaitu Maman S. Mahayana (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia), Agus R. Sarjono (penyair), dan Irfan Hidayatullah. Moderatornya Wildan Nugraha (Ketua FLP Bandung).

Penyelenggara Silaturahim Nasional FLP adalah FLP Wilayah Jabedeci. FLP Wilayah ini menaungi FLP Cabang DKI Jakarta, FLP Cabang Bekasi, FLP Cabang Depok, dan FLP Cabang Ciputat.

SEJENAK aku termangu usai membaca SMS itu. Sejak awal Ahmad Tohari mengonfirmasi kesediaannya menjadi pembicara kepadaku selaku panitia seksi acara. Kata-kata dalam SMS-nya selalu jelas dan padat, sehingga saat menjawabnya aku pun menggunakan kata-kata yang jelas dan padat pula—mengurangi penggunaan kata-kata singkatan. Kukirimkan padanya ucapan terima kasih dan kesediaan menjemputnya di Stasiun Gambir dini hari.

Pukul 20.14 SMS Ahmad Tohari kembali masuk ke laci pesan ponselku, “Ass wr wb. Saya sdh brngkt dg KA Purwajaya Eksktf, jdwl tiba di Gambir jam 01.30. Salam. AT”. Membaca SMS ini saya jadi berpikir bahwa Ahmad Tohari adalah orang yang terbuka. Ia memberitahukan aktivitasnya kepada panitia agar panitia dapat mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Panitia tidak dibiarkan menerka-nerka mengenai kepastian kedatangannya.

Pukul 00.15 mobil carry milik Irfan Hidayatullah meninggalkan PPPPTK. Aku ditemani Riki Cahya, Ketua FLP Wilayah Jawa Barat (memegang setir mobil), dan Imam, anggota FLP Pati. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena harus diisi bensin.

Ketika mobil sedang berlari di atas Jalan Dr. Sahardjo, SMS Ahmad Tohari menyelinap ke kotak pesan ponselku, “Ass wr wb. Saya sampai Jatinegara, KA sdg berhenti. AT”. Membacanya aku terlonjak. Aku berpikir bahwa Ahmad Tohari tidak jadi turun di Stasiun Gambir, melainkan di Stasiun Jatinegara. Maka segera kubalas SMS-nya bahwa mobilku sedang menuju Stasiun Jatinegara untuk menjemputnya.

Tak berapa lama SMS konfirmasi masuk ke ponselku. Katanya dia (Ahmad Tohari) tetap turun di Stasiun Gambir. Kubaca ulang SMS pertama dan kusadari aku telah salah mencernanya. Mobil yang dikendarai Riki Cahya, produser Film “Me, My Sister&Muhammad Ali” yang akan tayang di Jiffest dan Blitzmegaplex Desember mendatang, terus melaju menembus angin malam kawasan Tebet, Manggarai, Cikini, dan Senen. Pukul 01.26 mobil masuk pelataran parkir Stasiun Gambir.

Sebelum turun dari mobil SMS masuk lagi ke kotak pesan ponselku. “Turun di Gambir. Saya pakai jaket hitam, topi krem, kacamata baca.” Itu SMS Ahmad Tohari. Aku membalas SMS-nya, “Sy sdh di lobi st.gambir. celana krem, kaus loreng horisontal, jaket hitam, sendal krem.” Saling beri tahu identifikasi diri merupakan cara terbaik bagi orang-orang yang hendak bertemu dan belum pernah bertemu sebelumnya. Aku mengagumi cara Ahmad Tohari ini.

Lobi stasiun tampak sepi. Aku mendekati dua petugas peron dan bertanya apa kereta Purwajaya sudah sampai. Seorang petugas memberitahu bahwa kereta itu akan tiba sebentar lagi di rel 1. Kami diminta membayar Rp 5.000 rupiah untuk tiga orang agar bisa masuk area penjemputan—kulihat stiker yang menempel di meja peron tarif per orangnya Rp 1.500.

Kereta Purwajaya tiba tak lama setelah kami berdiri di depan rel 1. Kami berpencar pada tiga bagian kereta; depan, tengah, belakang. Banyak sekali penumpang turun. Aku menyusuri samping kereta sambil membayangkan lelaki berjaket hitam, bertopi krem, dan berkacamata baca. Ah, barangkali dia turun di bagian tengah atau belakang rel. Dia tidak memberitahu (dan aku lupa bertanya) dia duduk di gerbong berapa.

Sampai ujung gerbong aku tidak melihat Ahmad Tohari. Seandainya aku melihat lelaki berpakaian seperti itu, apakah aku bisa meyakinkan diri bahwa lelaki demikian adalah dia? Bukankah bisa jadi tidak hanya dia, dini hari itu, yang memakai pakaian seperti itu?

Aku terus mencari di tengah keramaian penumpang. Sejenak aku memerhatikan lelaki berjaket hitam bertopi krem berjalan sendiri namun sedang bicara dengan orang yang berjalan di belakangnya. Lelaki itu agak pendek—ketimbang tubuhku yang tinggi—dan kurus. Aku mengacuhkannya dan terus bergegas ke tempat tadi kami bertemu.

“Ketemu?” tanyaku pada Riki dan Imam. Mereka tidak menemukannya. Aku menelepon Ahmad Tohari. Dengan suara yang kurang jelas dia memberitahukan posisinya. Kami lantas mencarinya namun tidak ketemu juga meski kami sudah berpencar. Kuhubungi lagi Ahmad Tohari tapi tidak tersambung. Kami panik. Kembali kuhubungi Ahmad Tohari. Syukur tersambung. Dia mengatakan sudah berada di lobi dekat ATM BCA. Kami bergegas ke sana.

Di lobi suasana ramai. Seorang lelaki berjaket hitam, bertopi krem dan berkacamata sambil menenteng tas hitam mendekatiku. “Billy ya?”

Aku menegaskan pandanganku. “Iya. Bapak Ahmad Tohari?”

Dia tersenyum. Aku menyambut uluran tangannya. Sejenak aku malu sendiri. Dia adalah lelaki yang tadi kulihat di tengah keramaian penumpang yang baru turun dari kereta. Aku tidak berani menyapanya karena tidak yakin dialah orang yang kucari.

Baru saja kami hendak ke luar dari lobi stasiun, Ahmad Tohari berpapasan dengan seorang lelaki. Aku tidak mengenalnya namun Ahmad Tohari tampak akrab berbincang dengannya. Agak lama mereka bicara. Usai bercakap-cakap, kami bergegas ke luar lobi. Riki memberitahuku bahwa Imam sedang ke toilet. Aku meminta Riki mengantar Ahmad Tohari ke mobil sementara aku menunggu Imam.

Beberapa menit kemudian Imam datang menghampiriku sambil berlari-lari kecil. “Sudah?” tanyaku. Baru beberapa langkah kami berjalan, kami berhadapan dengan Riki dan Ahmad Tohari. “Lho kok balik lagi?” kataku.

“Jalan itu bukan ke tempat tadi,” jawab Riki. Benar saja. Itu bukan pelataran parkir di mana mobil kami diparkir. Itu tempat pemberhentian taksi dan mobil jemputan. Ternyata kami salah arah.

Kemudian kami berjalan ke arah yang berbeda. Di pinggir lobi kami masih bingung menentukan arah. Akhirnya mobil kami temukan.

“Nanti kita mampir ke pom bensin ya,” ucap Ahmad Tohari sebelum naik mobil. Dia ingin buang air kecil.

Aku berpikir-pikir jalan mana yang harus ditempuh; jalan di mana pom bensin berada dan memiliki toilet. Aku hafal lika-liku sebagian jalan di Jakarta dan mengingat posisi pom bensin yang besar dan kecil. Hanya pom bensin besar, kupikir, yang memiliki toilet umum yang bersih.

Sepanjang perjalanan kami berbincang serius-santai dengan Ahmad Tohari. Ternyata dia enak juga diajak bicara. Dia berkisah tentang sekilas kehidupannya saat tingal di Jakarta sebelum pergi tahun 1993. Sebagian nama jalan di Jakarta masih dia hafal. Mobil menyusuri kawasan Cikini, lewat depan Taman Ismail Marzuki. Di kawasan Cikini Ahmad Tohari pernah tinggal.

Ahmad Tohari bercerita tentang keluarganya. Tentang anaknya yang membuka usaha mandiri dekat rumahnya dan maju pesat dengan omset miliaran. Tentang adiknya yang ternyata juga naik kereta api di gerbong yang sama—dua bangku dari tempatnya duduk. Pun tentang adik menantunya yang tadi ditemuinya di Stasiun Gambir.

Ahmad Tohari juga bercerita bagaimana ia menyusun Kamus Bahasa Banyumas. Katanya, penyusunannya melalui proses yang sangat panjang. Dia bertanya pada sejumlah orang Banyumas mengenai bahasa asli mereka, namun banyak sekali yang tidak mengetahuinya. Bahkan, ucap Ahmad Tohari, banyak orang Banyumas tidak menyukai bahasa asli mereka.

Bahasa Banyumas telah melalui transformasi yang panjang. Pergulatan dengan bahasa lainnya membuat bahasa Banyumas mengalami pergeseran—juga dialami oleh bahasa lainnya. Terlebih pengaruh bahasa Mataraman yang ‘menindas’ dan membuat tingkatan-tingkatan bahasa.

Tingkatan bahasa menyebabkan terjadinya penggolongan atau kasta di masyarakat. Bahasa kaum priyayi dan bangsawan dibedakan dengan bahasa rakyat jelata. Kaum priyayi memiliki kata-kata yang dapat menghujat rakyat jelata. Sebaliknya rakyat jelata, semarah apapun mereka pada kaum priyayi, tidak memiliki kata yang dapat mengekspresikan kemarahannya pada mereka. Ahmad Tohari menghendaki penyamarataan bahasa. Pluralitas bahasa memang ada, namun tidak dapat dijadikan legitimasi untuk membentuk penggolongan dan kasta di masyarakat.

Ahmad Tohari juga bercerita tentang bagaimana para bangsawan (Jawa) zaman dulu melakukan penindasan kepada rakyat. Salah satunya yang dilakukan oleh Amangkurat I. Amangkurat I pernah membantai ratusan ribu ulama untuk sekadar kesenangannya belaka. Mendengar cerita ini aku berkata pada Ahmad Tohari, bahwa peristiwa mengerikan itu tidak pernah masuk dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Pun buku-buku umum lain yang mengulas sejarah kerajaan di Indonesia. Aku mengetahui peristiwa itu dari buku terbitan Majelis Ulama Indonesia–beberapa tahun lalu—namun tidak detail pembahasannya. Bertanya-tanya aku tentang itu, kenapa sejarah ditutup-tutupi oleh pemerintah? Tidakkah penulis dan sejarahwan mengetahui dan ingin menguaknya?

Ketika mobil melaju di kawasan Salemba, aku meminta Riki memutar arah lewat kawasan Manggarai. Ahmad Tohari bertanya kenapa lewat situ. Kukatakan agar bisa lewat pom bensin yang ada toiletnya. Rencananya mobil akan lewat kawasan Kampung Melayu, Jalan Otto Iskandardinata, dan Jalan Dewi Sartika. Tapi karena kutahu di jalan-jalan itu tidak ada pom bensin besar, maka kupikir sebaiknya mobil lewat jalan ke arah Pancoran. Di sana banyak sekali pom bensin besar berdiri.

Mobil berhenti di parkiran pom bensin milik perusahaan asing di pinggir Jalan Dr. Sahardjo. Selain sepi, toilet di pom bensin itu tampak bersih. Bersyukur aku bisa mengantarkan penulis besar itu ke tempat yang memang layak untuknya—tidak ke toilet di pom bensin yang kebanyakan kotor dan tak terawat. Tak berapa lama kami melanjutkan perjalanan.

Kami tiba di PPPPTK Bahasa pukul 02.45. Aku segera mengantarkannya ke kamar yang sebelumnya sudah kurapikan. “Mau saya bikinkan air putih, teh manis, atau kopi, Pak?” tanyaku pada Ahmad Tohari. Sebelumnya Ahmad Tohari berkata dia akan tidur setelah shalat Subuh dan bangun pukul 8.30, setengah jam sebelum acara Seminar Sastra dimulai. Makanya sambil menunggu sekitar satu setengah jam, dia bisa minum air putih, teh manis, atau kopi. Ahmad Tohari menolak tawaranku sambil menunjuk air mineral gelasan yang terletak di atas meja kamarnya. Ya, pagi itu ia tidur di PPPPTK Bahasa, bukan di penginapan Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia sebagaimana kami beritahu sebelumnya.

Setelah melihatnya masuk kamar, aku menghela napas lega. Tugasku menjemputnya sudah selesai. Aku tidak dimintanya untuk mengantar pulang karena dia akan mengunjungi rumah saudaranya di kawasan Depok. Aku masuk kamar dan tidur sebentar.

SENIN sore, pukul 18.30, ponselku kembali berbunyi—suara SMS. Kubiarkan saja dan akan kubaca nanti usai tilawah al-Qur’an. Paling-paling teman-teman FLP, pikirku. Setelah menutup surat at-Taubah, aku membuka kotak pesan SMS. Isinya, “Ass wr.wb. Saya sdh di rmh. Trm kasih atas semua kbikan. Semoga pertemuan kita bermanfaat. Amin. AT.”

Aku mengulas senyum. Ahmad Tohari ternyata masih ingat padaku. Dia memberitahu keberangkatannya dari rumah dan kedatangannya di rumah. Tentu ini agar tidak membuat khawatir panitia. Kubalas SMS-nya dengan ucapan syukur karena sudah tiba di rumah dengan selamat, juga ucapan terima kasih sudah mau bekerjasama dengan panitia Silnas FLP. Kutulis juga tentang mimpiku dulu ingin bertemu dengannya saat kuliah dan kemarin bisa menjemputnya di stasiun. Mimpi yang menjadi kenyataan. Namun mimpi itu tidak akan berakhir di situ. Aku harus menjadi penulis yang melebihi kualitasnya. Bisakah aku? Itu tergantung kemauan dan kerja kerasku.

 

Duren Sawit, Jakarta Timur. 15 Juli 2008.