Spread the love

Sudah dibaca 73 kali

Sumber: www.depoedu.com

                       Kamu pernah bingung menghabiskan uang? Saya pernah. Dan, itu sangat menyedihkan.

Mungkin kamu bisa menebak momen itu kapan terjadi. Yups, itu terjadi saat saya masih lajang, dapat pekerjaan bagus, dan tak ada tanggungan berat yang perlu dipenuhi.

Saya bingung memecah lembaran seratus ribu rupiah yang saya terima tiap bulan. Setelah simpan sekian juta di bank seperlunya sebagai uang tabungan, dan memenuhi kebutuhan ini-itu yang bukan hal mewah, saya masih bingung membelanjakan uang. Saya pernah terjebak dalam kondisi di mana bayar ongkos bus kota pakai selembar uang seratus ribuan dan bikin repot sang kondektur. Serius, ini pernah terjadi dalam hidup saya.

Puluhan lembar seratus ribuan yang saya terima tiap bulan bukan pemasukan tunggal. Sering ada saja tambahan lain sebagai imbas pekerjaan tambahan termasuk perjalanan dinas ke luar kota. Sering, saking bingungnya, saya bersama teman yang sama statusnya menghabiskan uang dengan minum kopi di kafe asal Amerika atau makan di restoran dan belanja ala anak muda. Saat itu kami tak kenal hidup susah.

Setahun lebih berlalu. Kami sama-sama menikah. Saya tinggal di kontrakan. Setelah itu tak bisa senang-senang lagi. Setahun kemudian situasi berubah. Gaji kami turun drastis lebih dari setengahnya.

Kontras. Sangat menyedihkan.

Kalau dipikir-pikir, apa yang terjadi saat saya punya banyak uang? Yang terlintas di kepala: bagaimana menghabiskan uang. Tahun 2009-2010 itu saya belum mengenal istilah investasi dan memutar uang. Belum punya kenalan pengusaha atau entrepreneur. Atau teman diskusi tentang pengelolaan uang. Rasanya di tahun-tahun itu juga belum booming tentang penggunaan uang untuk investasi, reksa dana, beli emas, atau passive income. Atau saya saja yang tidak gaul karena tenggelam oleh pekerjaan kantor?

Pertanyaannya: kenapa saat saya punya banyak uang, saat itu, yang ada di kepala hanya bagaimana menghabiskan uang dan menabung di bank? Bagaimana saya yang lulusan sarjana saat itu tidak tahu bagaimana cara efektif mengelola keuangan?

Ini jawabannya: saya tidak punya pengetahuan dalam hal pengelolaan keuangan. Saya tidak punya kecerdasan keuangan. Punya banyak uang dan tahunya hanya bagaimana menghabiskan uang sangatlah menyedihkan. Dampaknya seperti yang tadi saya ceritakan: banyak uang lalu bangkrut. Siapa yang harus disalahkan? Diri sendiri, keluarga, masyarakat, atau sekolah? Biar tidak cari masalah, ya memang sepatutnya menyalahkan diri sendiri.

Tapi menyalahkan diri sendiri tidaklah sepenuhnya benar. Meskipun keputusan ada di tangan sendiri, namun keputusan itu dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama lingkungan dan pendidikan.

Baca juga: Belajar Pada Burung

Andai saja saya tahu bagaimana mengelola keuangan, mungkin saya tidak akan punya pikiran menghabiskan uang saat punya banyak uang. Andai saya punya keterampilan mengelola keuangan, mungkin saat ini saya menjadi pengusaha sukses yang bisa membantu banyak orang. Ya, kuncinya terletak pada PENGETAHUAN.

Dari mana datangnya pengetahuan? Pengetahuan dan keterampilan mengelola keuangan antara lain berasal dari pendidikan (sekolah), teman diskusi, kursus dan seminar, jaringan wirausaha, dan menyimak cerita orang-orang sukses melalui televisi, radio, video, atau media sosial. Problemnya, selama kita hidup, apakah akses ke sana terpenuhi?

Bagi orang-orang ekonomi bawah, yang tiap hari bergelut dengan jalanan (sopir, kondektur, ojek, tukang nasi goreng, tukang parkir, dst.) dan sektor informal (warung, pasar, terminal, dll) sulit mengaksesnya. Bahkan, karena tidak berkaitan dengan bidang kerja, mereka mungkin saja merasa tidak perlu tahu tentang pengelolaan keuangan. Yang penting kerja keras, punya banyak uang, bisa memenuhi kebutuhan harian, dan sesekali bisa makan nasi padang, mungkin itu sudah cukup.

Tapi bagi orang-orang kelas menengah, yang pendidikannya rata-rata tercukupi (minimal lulus SMA/sederajat), pengetahuan tentang pengelolaan keuangan terasa sebuah kebutuhan. Problemnya, tak semua bisa mengakses sumber pengetahuan tadi.

Satu-satunya lokasi yang menjadi simpul pengetahuan tentang pengelolaan keuangan adalah SEKOLAH. Ya, pekerja di sektor formal dan informal rata-rata pernah bersekolah. Minimal SD. Pertanyaannya, apakah sekolah selama ini mengajarkan siswanya mengenai pengelolaan keuangan? Kita semua tahu jawabannya: tidak!

Pertanyaan yang sama juga patut dilontarkan pada proses pendidikan di perguruan tinggi: apakah mahasiswa diajarkan untuk mengelola keuangan, atau menjadi pengusaha sesuai bidang studinya?

Kita bisa saja mengatakan bahwa pendidikan di sekolah/perguruan tinggi sebaiknya berorientasi pada pembentukan akhlak dan karakter. Tapi, kenyataannya, akhlak dan karakter seseorang juga dipengaruhi oleh kemampuannya mengelola keuangan.

Kembali ke pendidikan keuangan di sekolah. Apakah kamu pernah diajarkan tentang hal itu selama 12 tahun di bangku sekolah? Mungkin guru kita mengajarkan hal sama: kalau ingin kaya harus menabung dan berhemat. Itu saja. Tak lebih.

Bahkan, mungkin kamu sering dengar, banyak orang putus sekolah lalu kaya setelah menjalankan usaha dan mempekerjakan para sarjana. Hal ini seolah ingin menegaskan bahwa pendidikan tidak terkait sama sekali dengan kesejahteraan seseorang. Meskipun di sisi lain, banyak lulusan sarjana hidup sejahtera karena kerja profesional atau jadi pengusaha. Setidaknya tidak punya persoalan keuangan sepanjang hidupnya. Hal ini juga menegaskan bahwa sekolah punya kontribusi besar bagi kesejahteraan seseorang.

Sepertinya kita sepakat menjawab: sekolah tidak mengajarkan siswanya mengenai pengelolaan keuangan. Ya, seperti Robert T. Kiyosaki katakan, sekolah mencetak pegawai yang mencari uang, bukan pengusaha yang menjadikan uang bekerja untuk mereka. Anak sekolah diwajibkan pintar dengan nilai tinggi di semua mata pelajaran agar saat lulus ijazahnya bisa dipakai untuk mendapatkan perguruan tinggi bonafit atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar.

Uniknya, dimunculkan dogma bahwa siswa tidak boleh mencari uang, hanya belajar saja di sekolah. Kenyataannya, di luar sekolah, kita melihat anak-anak keturunan Tionghoa diajak terlibat dengan pekerjaan orang tuanya di toko bahan bangunan. Atau di jalanan anak-anak berjualan koran, pisang goreng, atau mengamen.

Jadi, sejak kecil di bangku SD, kita dijauhkan dari pelajaran tentang uang. Tentang mengelola keuangan. Cukup tahu menabung, berhemat, dan kaya. Tanpa dikenalkan bagaimana cara cerdas mendapatkan dan mengelola uang. Pengetahuan itu terbawa hingga besar dan membawa kebingungan saat memegang banyak uang. Kenyataannya, dengan menabung dan menghemat uang tidak cukup membuat kita kaya.

Tapi saya tidak mau menyalahkan guru soal kenapa mereka tidak mengajarkan pendidikan keuangan. Generasi X dan milenial macam saya memiliki guru yang tidak sejahtera secara finansial. Gaji mereka kecil, bahkan perlu mengajar di tempat lain atau bekerja serabutan agar kebutuhan keluarga terpenuhi.

Baca juga: Mau Kaya, Jangan Gila!

Kebebasan pers sebagai buah reformasi pascapenggulingan rezim Orde Baru banyak mengungkap kisah guru yang terpaksa kerja serabutan demi bertahan hidup. Ada yang mengajar di 2-3 tempat lain (sekolah, bimbingan belajar, les privat) dalam sehari, ada yang ngojek, atau jualan gorengan.

Jadi pendidikan keuangan seperti apa yang diharapkan diajarkan oleh pendidik yang kesejahteraannya saja tidak terjamin? Ya, kita tidak boleh egois tentang hal ini.

Zaman berubah. Beragam nasihat tentang keuangan di masa sekolah dulu sudah usang dan tidak relevan. Kini, di abad XXI, keterampilan mengelola keuangan, yang oleh World Economic Forum (2015) dinamakan Financial Literacy (Literasi Finansial), dipandang sebagai kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh siswa. Artinya, sejak dini, siswa harus dikenalkan dengan keterampilan mengelola keuangan.

Mengelola keuangan tak sekadar bagaimana mengumpulkan dan membelanjakannya. Lebih dari itu, penting untuk tahu bagaimana mengelola, menumbuhkannya agar terus bertambah banyak, dan mendonasikannya kepada orang lain yang membutuhkan. Ada konsep berbagi kepada sesama: sedekah, zakat, donasi, dll. Mengenai bagaimana pembelajarannya di tiap jenjang, disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan psikologi siswa.

Pertanyannya kemudian, guru-guru yang kini mengabdi di sekolah, apa sudah siap mengajarkan tentang pendidikan keuangan (literasi finansial) kepada siswa-siswinya? Konsep mana yang dipakai? Masih nasihat menabung dan berhemat yang sudah usang itu? Apakah guru-guru sekarang sudah punya kecerdasan keuangan sebelum mengajarkan kepada murid-muridnya? Tentang bagaimana mengelola tunjangan guru yang diterima tiap bulan, misalnya.

Kini era informasi. Informasi bisa diakses dengan mudah. Banyak sekali pakar, akademisi, dan pengusaha baru dan lama yang membagikan ilmu dan pengalamannya di laman internet dan kanal Youtube. Sebagian membuka kursus atau seminar berbayar dan gratis. Kita tinggal pilih, mau menekuni yang mana. Kini problemnya: apakah kita ingin berubah dengan membuka pikiran dan mau belajar dari pengalaman mereka?

Punya banyak uang namun tidak tahu cara mengelolanya memang menyedihkan. Kalau sekadar tahu bagaimana membelanjakan, menabung, dan berhemat, sepertinya sudah ketinggalan zaman. Selamat bergelut dengan keuangan, kawan!

Kunciran, Tangerang, 27 Juli 2021